Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 21


__ADS_3

Mereka berdua lalu bertempur seru sekali, disaksikan oleh Pangeran Leng Cun, patriak Bao dan para prajuritnya.


Setelah bertempur kurang lebih sebanyak seratus jurus, diam-diam Hua Li mengeluh karena lawannya ini benar-benar hebat dan tangguh.


Namun sebaliknya si Iblis bongkok itu penasaran dan malu karena belum pernah ada seorang lawan yang sanggup bertahan melawan dia sampai seratus jurus lebih tanpa dia dapat melukainya sedikit pun.


Sementara itu Patriak Bao dan yang lainnya sangat kagum melihat pertempuran itu. Mereka tidak mengira kalau ada seorang gadis muda itu sanggup menandingi Si Tua Bongkok yang lihai.


Pangeran Leng merasa penasaran lalu berteriak agar orang membantu Si Bongkok itu. Maka majulah beberapa pahlawan mengeroyok Hua Li.


Gadis itu merasa sibuk juga dan sambil berseru nyaring ia menggerakkan pedangnya secara luar biasa sehingga lawan-lawannya terpaksa mundur beberapa tindak.


Kesempatan ini ia pergunakan untuk meloncat keluar dari kalangan dan berlari cepat. Tiga buah golok terbang yang dilepas oleh si Iblis bongkok, tapi dengan mudah dapat ditangkis dan Hua Li berkelit tanpa menoleh, kemudian ia menghilang ke dalam gelap.


Si iblis bongkok merasa penasaran sekali lalu mengejar, demikian juga dengan Patriak Bao dan beberapa pengawal yang berkepandaian tinggi ikut mengejar.


Mereka ini semuanya mempunyai kepandaian lari cepat yang boleh juga sehingga dapat juga mengejar Hua Li dari jauh.


Biarpun sebenarnya jurus meringankan tubuh gadis itu lebih tinggi, tapi karena ia belum mengenal jalan dan tempat itu masih asing baginya.


Dan akhirnya lawannya pun mampu mengejarnya. Si Iblis bongkok, patriak Bao dan juga para prajurit itu mengepung Hua Li.


Melihat situasi yang menyudutkannya, Hua duduk bersila dan mulai memetik dawai dari kecapinya.


"Teng...teng...teng...teng...!"


"Hai bocah! nyawa sudah diujung tanduk, masih juga memainkan kecapi!" seru Patriak Bao dengan senyum sinisnya.


"Ha...ha...ha...! dia mengalunkan melodi kematian buat dirinya sendiri!" seru Si Iblis Bongkok dengan tertawa lebarnya.


Walaupun banyak yang mengejek, Hua Li tetap tenang memainkan kecapinya. Gadis itu mengulas senyumnya dan tiba-tiba,

__ADS_1


"Darr...dar...dar...!"


Tiga ledakan mengenai para prajurit yang mengepungnya. Dan seketika itu juga sembilan prajurit terkapar dan tak bernyawa lagi.


Keadaan yang tadinya riuh karena tawa mereka, dalam sekejap berubah menjadi keterkejutan yang luar biasa. Karena belum pernah mereka melihat jurus seperti itu sebelumnya.


Kesempatan itu dimanfaatkan Hua Li pergi dari kepungan lawannya. Gadis itu menyampaikan kecapi ya dan kemudian dengan gerakan berputar ke atas, dan kemudian dia melesat ke arah timur karena Hua li teringat akan pesan Pangeran Leng Cun padanya untuk membunuh seorang pangeran lain.


Kalau Pangeran Leng Cun dan kaki tangannya jahat, maka Pangeran Leng Song yang dimusuhinya itu tentu orang baik. Biasanya, yang dimusuhi oleh orang jahat tentu orang-orang baik dan sebaliknya. Karena inilah, maka Hua Li lari ke jurusan timur untuk mencari gedung dimana Pangeran Leng Song tinggal.


Akhirnya, ia sampai juga ke sebuah gedung yang tinggi dan besar, bahkan lebih tinggi daripada gedung Pangeran Leng Cun. Inikah gedung Pangeran Leng Song itu? Baru saja kakinya menginjak genteng, tiba-tiba di sebelah kirinya berkelebat bayangan putih.


Ia mengangkat pedang yang dia bawa dari pertempuran tadi dan menyerang ke kiri, tapi bayangan itu demikian gesitnya dan cepat dapat berkelit.


"Sabar, Nona. Aku bukan lawan, tapi kawan. Mari kita hadapi mereka yang mengejarmu!" seru bayangan yang berpakaian putih itu yang telah berdiri menanti datangnya para pengejar gadis disampingnya itu.


Ketika Si iblis Bongkok dan Patriak Bao tiba di situ, bayangan putih itu turun dan menegur mereka.


"Mohon beribu maaf, pangeran. Kami hanya mengejar seorang penjahat perempuan." ucap patriak Bao seraya memberi hormat pada laki-laki dengan pakaian serba putih itu.


"Jangan kurang ajar! Tidak ada penjahat perempuan di sini, yang ada adalah tamuku dan kalian pergilah dari sini. Atau kalian sengaja hendak mengacau!" seru laki-laki yang berpakaian putih yang tadi dipanggil pangeran oleh Patriak Bao.


Si Bongkok perdengarkan suara menyindir.


"Hm, jadi setan itu telah menjadi kaki tangan Pangeran Leng Song, Baguslah mari kita pergi, saudara Bao!" seru Si Iblis Bongkok yang menepuk pundak patriak Bao dan kemudian membalikkan badannya dan diikuti oleh yang lainnya.


"Nona, kau sungguh gagah perkasa sehingga sanggup seorang diri membuat pusing Si Iblis bongkok itu! Sudilah kau mampir sebentar ke pondokku." ucap laki-laki yang memakai pakaian putih itu dengan sopan dan mampu membuat Hua Li terpana.


Sikap pangeran didepannya berbanding seratus delapan puluh derajat dengan pangeran Leng Cun.


"Apa? Jadi anda adalah Pangeran Leng Song?" tanya Hua Li yang menatap Laki-laki yang ada dihadapannya itu dengan rasa ingin tahunya.

__ADS_1


"Dugaan anda tepat, Nona. Marilah kita bicara di dalam pondokku." jawab laki-laki yang memakai pakaian putih itu, yang tak lain adalah pangeran Leng Song.


Hua Li merasa tidak keberatan, bahkan timbul harapan baru dalam hatinya untuk minta bantuan pangeran yang sopan dan halus ini mencari keterangan tentang orang tuanya.


Keduanya melangkahkan kaki masuk ke gedung besar itu, dan kemudian menghentikan langkah bereka pada saat sampai di ruang perjamuan.


Tapi ketika mereka berada di tempat yang terang dan saling memandang, maka kedua-duanya terkejut dan kagum.


Hua Li melihat bahwa laki-laki yang memakai pakaian serba Putih itu, yang sebenarnya adalah Pangeran Leng Song sendiri. Ternyata adalah seorang pria muda yang berwajah sangat tampan. Mukanya bulat putih dengan sepasang mata yang lebar dan terang, dihias sepasang alis mata yang panjang hitam berbentuk golok sehingga paras yang cakap itu tampak gagah sekali.


Pakaiannya yang serba putih itu pinggirnya disulam dengan benang emas indah sekali dan sikap serta gerak gayanya lemah lembut menandakan bahwa dia seorang terpelajar.


Hua Li kagum sekali karena biarpun tampaknya demikian sopan santun dan lemah lembut lagi masih muda, namun dari gerakannya ketika mengelit serangannya tadi ia tahu bahwa pangeran itu pun memiliki kepandaian yang tidak rendah.


Sebaliknya Pangeran Leng Song ketika melihat wajah Hua Li di bawah sinar penerangan lampu, menjadi kagum sekali dan menatap wajah yang cantik itu dengan hati tertarik.


Tak disangkanya sama sekali bahwa gadis pendekar yang gagah perkasa itu ternyata masih sangat muda dan memiliki kecantikan yang luar biasa pula.


Karena dua-duanya saling pandang, maka akhirnya mereka sama-sama menundukkan muka dan wajah Hua Li menjadi merah karena segan dan malu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2