
Dengan cepat ia sudah menerjang dengan tangan kanan memukul ke arah wajah Siang Koan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pakaian yang dibawa pemuda itu.
"Wuutt.....! Siuuuuuttttt.....!"
Kedua tangan gadis remaja itu mengandung tenaga pukulan yang cukup dahsyat karena selama lima tahun ini ia telah banyak mempelajari ilmu-ilmu silat dari gurunya, dan sudah berhasil menghimpun dalam yang kuat, apalagi karena ia pernah minum darah "anak naga" itu walaupun tidak begitu banyak.
Namun Siang Koan adalah seorang pemuda yang tingkat ilmu silatnya sudah cukup tinggi, masih setingkat lebih tinggi dibandingkan Hok Cu, apalagi dia sudah mempunyai banyak pengalaman berkelahi ketika dia memimpin anak buah ayahnya membajak kapal dan perahu di tengah lautan dan bertempur melawan pemilik kapal yang dibajak.
"Eh, tidak kena-tidak kena! Nona Manis!" seru Siang Koan yang dengan cekatan melompat ke samping untuk menghindarkan diri, dan mengangkat pakaian itu tinggi-tinggi di atas kepalanya.
"Ayolah! tukar pakaian ini dengan ciuman di mulutmu itu sekali saja!" seru Siang Koan.
"Bedebah! kubunuh kau...!" bentak Hok Cu dengan terus menyerang lagi dengan lebih ganas.
Namun kembali pemuda itu dapat mengelak dengan berlompatan, dia pun sudah berapa kali mengelak dari terkaman dan terjangan gadis itu.
Siang Koan yang melihat gadis itu cukup lincah dan tak bisa dianggap enteng, dengan sengaja menyelipkan pakaian gadis itu di ikat pinggangnya.
Kemudian dia melayani Hok Cu dengan kedua tangannya. Kini dia bukan hanya mengelak, melainkan kadang-kadang menangkis dan setiap kali menangkis, dia sengaja mengusap lengan gadis itu.
"Aduh halusnya, mulus dan hangat lagi....!"seru Siang Koan yang menggoda Hok Cu.
Gadis itu semakin marah dan tiba-tiba dia mencengkeram dengan lengan kirinya ke arah wajah Siang Koan, sedangkan tangan kanannya, dengan kecepatan kilat menonjok ke arah lambung.
Serangan ini hebat sekali, namun agaknya Siang koan sudah dapat menduganya. Dia menangkis cengkeraman ke mukanya, lalu menangkap tangan yang menonjok itu dan dengan cepat Hok Cu menghempaskannya.
"Siang Koan! Awas kalau tidak segera kau kembalikan pakaian itu, aku akan lapor kepada guruku kau akan disiksa dan dibunuhnya!" ancam Hok Cu.
"Gurumu? Ha...ha...ha...! Beliau malah akan mentertawakanmu, nona manis. Aku sudah sejak beberapa hari yang lalu saling berciuman dengan gurumu. Kalau aku boleh menciumnya, kenapa aku tidak boleh menciummu? Dan aku percaya ia akan lebih senang kalau aku yang mengajarimu cinta, daripada pria lain. Gurumu tentu akan senang sekali mempunyai memantu aku, dengan demikian aku akan selalu dekat pula dengannya!" kata Siang Koan dengan tertawa sinis.
Hok Cu tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh pemuda itu. Akan tetapi mendengar bahwa gurunya pernah berciuman dengan pemuda ini, dan membiarkan pemuda ini menggodanya, maka wajahnya berubah merah dan hatinya merasa muak sekali.
__ADS_1
"Sudahlah, kalau engkau menghendaki pakaian itu, boleh kau rampas. Memang kau adalah anak bajak laut, yang biasanya hanya merampok. Aku bisa mencari pakaian lain!" seru Hok Cu yang melompat hendak pergi meninggalkan pemuda itu.
Akan tetapi ada bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu pemuda itu sudah menghadang. Jelas bahwa dalam jurus meringankan tubuh ia juga masih kalah jauh dari Siang Koan.
"Siang Koan! mau apa kau menghadangku? Aku mau pergi, jangan menghadangku!" seru Hok Cu dengan kesal.
"Ah, nona manis! Kamu masih hutang ciuman yang harus kau bayar. Marilah, mari beri aku ciuman dan aku akan membantumu berganti pakaian kering, kemudian kita bersama menghadap gurumu dan Ayahku untuk membicarakan urusan perjodohan kita. Aku cinta padamu, nona manis." kata Siang Koang yang membuat Hok Cu semakin jijik.
"Sialan...!"
Hok Cu membentak dan dengan terpaksa menyerang lagi. Akan tetapi sekali ini, Siang Koan bukan hanya mengelak dan menangkis, melainkan membalas dengan serangan berupa colekan, cubitan dan rabaan.
Biar bukan merupakan serangan pukulan berbahaya, namun bahkan membuat gadis repot sekali karena tentu saja ia tidak sudi dicolek, dicubit atau diraba secara demikian kurang ajarnya.
Hampir ia menangis saking marah dan jengkelnya karena setelah lewat belasan jurus, belum juga ia mampu memukul pemuda itu sedangkan beberapa kali dada dan pinggangnya kena dicolek dan diraba oleh Siang Koan.
Tiba-tiba, gadis itu mengeluarkan suara melengking nyaring, kedua tanggannya melakukan serangan dorongan den telapak tangan terbuka ke arah lawan.
Sebenarnya jurus Ini merupakan ilmu andalan dan tidak boleh dikeluarkan secara sembarangan saja. Kalau kini Hok Cu mempergunakannya, hal itu membuktikan bahwa ia memang sudah marah sekali terhadap pemuda itu.
Siang Koan yang mengenal pukulan ampuh ini, dengan kecepatan luar biasa dia sudah melempar tubuhnya ke samping sehingga dorongan kedua tangan Hok Cu itu mengenai ruang hampa.
Kaki pemuda itu mencuat dan menyentuh lutut Hok Cu. Kini gadis itu yang mengeluarkan seruan kaget dan sebelah kakinya jatuh berlutut.
Tiba-tiba kedua lengan pemuda itu sudah memeluknya dan muka pemuda itu mendekat, mulut diruncingkan siap untuk mengecup mulut gadis itu.
Hok Cu menarik tubuh atas ke belakang, menjauh dan kedua matanya terbelalak penuh rasa jijik dan ngeri dan dia berusaha menghindari mulut laki-laki itu.
"Cuh...!"
Hok Cu meludah ke arah wajah Siang Koan, dan mengenai mulut dan hidungnya.
__ADS_1
"Cuhh....!"
Kembali Hok Cu meludah dan yang ke dua kalinya ini mengenai antara kedua matanya sehingga kedua matanya terpaksa dipejamkan. Saat itu dipergunakan oleh Hok Cu untuk memukul dengan kepalan tangan ke arah perut pemuda itu.
"Bugh....!"
Pukulan itu tidak dapat dilakukan terlalu keras karena jaraknya yang amat dekat, namun cukup membuat Siang Koan menjadi mulas dan rangkulannya terlepas.
Hok Cu meloncat ke belakang. Siang koan membungkuk memegangi perutnya, lalu mengangkat muka dan matanya yang memandang Hok Cu dengan beringas.
"Hm, ludahmu manis rasanya, Akan tetapi pukulanmu memulaskan perutku. Untuk itu, kau harus mengobatinya dengan lima kali ciuman!" seru Siang Koan yang dengan tiba-tiba dia menubruk maju, gerakannya demikian cepat sehingga hampir saja mencengkram pundak Hok Cu.
Gadis tu menggerakkan tubuh mengelak sehingga cengkeraman itu hanya menyerempet pakaian saja.
"Brettt....!"
Pakaian di bagian pundak itu robek dan karena baju itu adalah baju dalam, maka di sebelah dalamnya tidak ada pakaian lain sehingga begitu robek, nampaklah kulit pundak dan bagian kulit dada yang membukit, halus dan mulus.
Hok Cu meloncat dan melarikan diri ke laut, karena dirinya saat ini berada di tepi laut. Dan hanya itulah jalan satu-satunya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1