
"Sang Ciok....!" seru Sang Gu yang membentak puteranya.
"Bersikaplah wajar dan hormat kepada tamu! Bagaimanapun juga, pendekar Han Beng ini telah menyelamatkan calon isterimu!" seru Sang Gu yang menatap Han Beng,.
"Tuan pendekar, harap maafkan kami dan kami berterima lasih sekali, karena anda telah melindungi dan menjaga keponakan saya ini." sambung Sang Gu yang masih menatap Han Beng.
Sejak tadi Han Beng telah merasa marah sekali. Hatinya terasa panas bukan main. Dia memang sudah merasa terpukul batinnya ketika melihat Yi Hui yang bertemu dengan tunangannya, walaupun dia sempat mengibur perasaannya sendiri bahwa gadis itu memiliki seorang calon suami yang amat baik, tampan kaya raya, dan gagah perkasa.
Karena itulah, maka tadi diam-diam membantu Sang Ciok pada saat megalahkan Gan Lok. Akan tetapi kini, dia hanya mendengar kata-kata yang amat tidak enak dan melihat sikap yang amat memandang rendah kepadanya.
Dan sikap Sang Gu yang merendah itu pun dibuat-buat, atau mungkin karena mendengar nama kedua orang gurunya. Hatinya terasa panas sekali dan kalau bukan untuk Yi Hui, tentu sudah sejak tadi dia pergi.
.
Ibu Sang Ciok agaknya juga menyadari bahwa suaminya marah dan menegur puteranya, maka ia pun hendak bersikap baik.
"Benar, Sang Ciok. Pendekar Han Beng sudah mengantar calon isterimu sampai ke sini dengan selamat. Sebaiknya kau cepat mengambil perak beberapa puluh tail untuk diberikan kepadanya sebagai imbalan dan uang lelahnyq." kata Istri Sang Gu.
Han Beng tidak dapat menahan lagi. Dia bangkit berdiri dengan kedua telapak tangan masih berada di atas meja, lalu memandang kepada Yi Hui tanpa menjawab semua kata-kata dari keluarga tuan rumah itu.
"Adik Hui, kau tahu benar kalau aku mengantarmu sampai kesini tanpa pamrih apa pun. Aku sudah merasa berbahagia sekali jika kau bisa bertemu dengan keluarga calon suamimu dengan selamat. Aku tidak minta imbalan upah apa pun, akan tetapi aku pun tidak sudi untuk dipandang rendah oleh siapa pun! Nah, kau sudah tiba di tempat tujuanmu, maka perkenankan aku pergi sekarang." kata Han Beng yang kemudian membalikkan badannya.
"Nanti dulu, kakak Beng! Ah, jangan kau pergi dengan perasaan tidak enak seperti itu. Kau maafkanlah semuanya, kakak. Semua ini hanya kesalah pahaman belaka. Kakak Beng, aku minta dengan hormat dan sangat sudilah kau hadir pada perayaan pernikahanku tengah tahun mendatang." kata Yi Hui.
Han Beng kembali membalikkan badannya dan mereka berdiri dan saling pandang. Han Beng melihat betapa sepasang mata yang indah itu memandang kepada penuh permohonan, bahkan kedua mata itu basah dengan air mata. Hanya terasa lemas dan dia pun menganggukkan kepalanya.
"Kalau Tuhan memperkenan aku tentu akan datang. Nah, selamat tinggal dan semoga kau bahagia, Adik Hui!" ucap Han Beng dengan lirih.
Setelah berkata demikian, semua orang yang duduk di situ hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh pemuda itu sudah lenyap dari tempat itu.
__ADS_1
Tentu saja Sang Gu, isterinya dan Sang Ciok, terkejut bukan main. Mereka memandang ke arah pintu depan, namun tidak nampak lagi bayangan Han Beng dan tiba-tiba Sang Gu menuding kearah meja yang tadi dihadapi Han Beng dengan telunjuk gemetar.
Sang Ciok dan ibunya memandang, juga Yi Hui. Dan meja di mana tadi ditekan oleh kedua telapak tangan Han Beng, nampak ada tanda dua telapak tangan dan papan meja itu hangus dan masih mengepulkan sedikit asap.
Agaknya, saking marahnya dan menahan perasaannya, Han Beng menyalurkan kekuatannya melalui kedua telapak tangan dan tenaga dalamnya itu mendatangkan hawa panas yang sampai membakar papan meja.
"Ahhhhh.......!" Sang Ciok berseru dan wajahnya berubah pucat. Dia memandang kepada tunangannya.
"Adik Hui, dia... dia begitu saktikah?" tanya Sang Ciok yang masih gemetaran.
Gadis itu menundukkan mukanya agar jangan nampak kedukaan membayangi diwajahnya dan dengan perlahan ia menganggukkan kepalanya.
"la memang seorang pendekar sakti, seperti seekor naga yang sakti!" jawab Yi Hui dengan suara lirih namun dapat didengar oleh orang disekitarnya.
Sang Gu menarik napas panjang dan melepasnya pelan-pelan.
"Nah, sekarang terbukalah matamu, Sang Ciok. Jangan mudah memandang rendah orang lain. Tadi pun aku sudah terkejut mendengar bahwa dia murid Hua Li Si pendekar Kecapi dan Kwe Ong si Raja pengemis! Tahukah kau siapa kedua orang sakti itu? Mereka adalah dua orang sakti yang amat terkenal di dunia persilatan, karena itu tadi pun aku segera menyebutnya pendekar. Akan tetapi kau sudah tidak tahu diri, masih saja merendahkannya. Bahkan ingin memberi hadiah uang kepada seorang pendekar sakti. Sungguh menggelikan dan memalukan sekali!" seru Sang Gu dengan geram.
"Saya juga minta ma'af, buat kamu juga Yi Hui!" ucap ibu Sang Ciok yang kemudian menghampiri Yi Hui dan memeluknya dengan kasih sayangnya.
Keluarga itu masih belum hilang kagetnya dan sejak hari itu, mereka tidak pernah lagi menyebut nama Han Beng, apalagi membicarakan persangkaan buruk kepada pendekar itu.
Sikap mereka terhadap Hui Im juga menjadi baik dan hal ini sedikit banyak menghibur hati gadis itu yang merasa kehilangan sekali setelah Han Beng pergi. Baru ia yakin benar bahwa sesungguhnya ia telah jatuh cinta kepada pendekar itu.
Akan tetapi apa daya, sejak kecil ia sudah ditunangkan dengan Sang Ciok dan tidak mungkin ia mengubah kenyataan ini. Pertama, ia harus mentaati keputusan ayahnya, apalagi setelah ayahnya meninggal dunia, ia harus lebih mentaatinya lagi.
Pesan seorang yang sudah meninggal dunia adalah pesanan yang suci dan harus ditaati. Kedua, ia sudah ditampung oleh keluarga tunangannya, dan bagaimanapun juga, calon ayah mertuanya adalah pamannya sendiri pula. Ia tidak mempunyai tempat lain atau keluarga lain yang dapat ditumpangi.
Dan ke tiga, harus diakuinya bahwa pilihan orang tuanya itu pun tidak keliru, tidak mengecewakan. Ia sudah harus merasa beruntung mendapatkan seorang calon suami seperti Sang Ciok yang ganteng, tampan, gagah perkasa, kaya raya.
__ADS_1
Kehidupan Yi Hui di tempat baru dan keluarga calon suaminya ini membuat dirinya berusaha menyesuaikan diri.
...****...
Sementara itu dalam perjalanan Han Beng, dia melihat banyaknya perseteruan antara para pendekar dan juga para biksu.
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara orang,
"Harap para pendekar menyadari akan buruknya permusuhan dan dapat menghabiskan sampai di sini saja"'
Mendengar ucapan yang nyaring itu, para biksu dan para pendekar aliran hitam menoleh dan mereka melihat munculnya seorang pemuda dari balik batang pohon yang tumbuh tidak jauh dari padang rumput itu. mereka semua heran.
Mereka sembilan belas orang adalah orang-orang yang sudah memiliki tingkat kepandaian, akan tetapi bagaimana tidak ada seorangpun yang tahu akan kehadiran pemuda Itu.
Apakah karena mereka semua terlalu tegang dan mencurahkan seluruh perhatian kepada urusan mereka, ataukah memang pemuda itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Pemuda itu tidak terlalu mengesankan. Pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan, nampak sederhana sekali, dengan pakaian seperti seorang pemuda petani saja.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...