
"Sudahlah jangan dipaksakan bangun dulu, anda perlu istirahat," kata Hua Li dengan wajah merah dan mendekati Pangeran itu yang segera ia pegang pundaknya untuk didorong agar tidur kembali.
"Eh, di manakah Lima Dewa, kenapa mereka tidak muncul?" tanya Pangeran Leng song yang tiba-tiba teringat akan para pengawalnya yang benar saja tidak muncul, dan Hua Li juga teringat akan pengawal itu.
"Bukankah Si Bongkok tadi berkata bahwa mereka juga diserang? Tentu terjadi pertempuran hebat di atas gedung! Biar aku pergi melihatnya!" seru Hua Li yang hendak membalikkan badannya.
Tapi Pangeran Leng Song dengan cepat memegang tangan Hua Li.
"Biarkanlah mereka nona! saya mau anda ada disini untuk menjadi pengawal saya." ucap pangeran Leng song itu lirih namun membuat hati Hua Li berdebar semakin kencang.
"Pangeran, anda perlu berganti pakaian yang kering. Nanti anda bisa sakit dengan pakaian basah ini," kata Hua Li perlahan.
"Kau sendiri bagaimana?" kata pangeran Leng song yang berbisik.
"Pakaianmu juga basah kuyup." lanjutnya dengan suara yang lembut mengandung kasih sayang yang memabukkan kepala Hua Li.
Pada saat itu terdengar suara seorang di antara Lima Dewa di luar pintu kamar.
"Pangeran...! pangeran Leng Song! apakah anda selamat?" tanya suara dari luar kamar.
"Aku tidak apa-apa, bagaimana kalian?" jawab sekaligus tanya pangeran Leng song.
"Musuh telah terusir pergi, hanya seorang di antara kami mendapat luka." jawab salah satu dari lima dewa itu.
"Sudahlah, besok saja kita bicarakan! sekarang bawa saya ke kamar saya!" ucap pangeran Leng song dan pengawal itu kemudian masuk ke kamar setelah Hua Li membukakan pintunya.
Kemudian pengawal itu membantu pangeran Leng Song untuk turun dari tempat tidur, dan memapahnya perlahan-lahan keluar dari kamar tersebut dan menuju ke kamarnya.
Sementara Hua Li setelah menutup dan mengunci pintu kamarnya, dia segera mengganti pakaiannya dan segera mengganti alas tempat tidurnya yang basah. Dimana pangeran Leng song tadi dia rebahkan di atas tempat tidur.
Selesai mengganti alas tempat tidur, Hua Li segera merebahkan diri dan memejamkan kedua matanya.
****
Keesokan harinya, ketika matahari telah naik tinggi, Hua Li bangun dari tidurnya dengan kepala terasa berat.
__ADS_1
Kemudian gadis itu duduk bersemedhi dan mengatur napas sehingga sebentar saja ia merasa sehat dan segar kembali.
"Tokk....tokk....tokk....!"
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya dari luar dan ia lalu turun membuka pintu.
"Eh, kalian. Ada apa?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Kami diperintahkan pangeran untuk membawakan dan melayani keperluan mandi untuk nona." jawab salah satu pelayan.
Pelayan-pelayan yang kemarin itu masuk sambil membawa segala keperluan untuk mandi dan berganti pakaian.
"Baik, tapi saya bisa mandi sendiri. Tolong letakkan saja keperluan mandi ya di atas meja." ucap Hua li.
"Baik nona. Permisi." jawab para pelayan itu dengan serempak.
Setelah para pelayan itu keluar, Hua Li segera menutup dan mengunci pintu kamar dan dengan segera dia mandi lalu berganti pakaian.
Kemudian ia keluar dan ternyata hidangan pagi telah disediakan. Para pelayan itu dengan ributnya bercerita pada kejadian yang semalam saat datang orang-orang jahat dan pada akhirnya dapat diusir oleh para pengawal.
"Kalian ke mana saja malam tadi, mengapa tidak muncul?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Iya, jangankan bergerak, bernapas pun kami tidak berani." jawab pelayan yang lainnya.
Setelah selesai makan, tiba-tiba datang seorang pelayan wanita yang kemarin melayaninya. Setelah memberi salam dan memberes-bereskan makanan,
"Nona, tolong anda perintahkan mereka untuk pergi dulu. Saya ingin bicara empat mata dengan Nona." ucap pelayan wanita itu yang tentu saja membuat Hua Li heran, tapi kemudian ia menyuruh semua pelayan pergi.
Pelayan-pelayan itu setelah melotot secara main-main kepada pelayan wanita paruh baya itu, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Nona, kalau aku tidak salah, kau kemarin berkata kepada Pangeran Leng Song, bahwa anda sedang mencari orang tua nona?" tanya pelayan wanita itu yang menatap Hua li dengan rasa sayangnya.
Hua Li berdebar hatinya dan ia segera mengangguk.
"Coba anda katakan sekali lagi riwayat anda secara singkat, mungkin saya dapat memberi keterangan pada anda." pinta wanita pelayan itu.
__ADS_1
Dan kedua mata yang tua itu memandang Hua Li dengan Hua Li lalu menceritakan riwayatnya, betapa ia ditolong oleh Ayah angkatnya Hua Tian dan mendiang istrinya Yan Qiu dari bencana air bandang di sungai kuning.
"Waktu itu saya masih kecil dan saya selalu memeluk kecapi ini." ucap Hua Li seraya menunjukkan kecapi yang dia bawa selama ini.
Tiba-tiba pelayan wanita itu gemetar bibirnya dan pucat wajahnya.
"Benar... benar... tidak salah lagi... kau... kau adalah putri sahabatku Siauw Eng...!" seru pelayan wanita itu, yang tentu saja terkejutlah Hua Li mendengar hal ini.
Gadis itu meloncat berdiri dan memegang kedua lengan pelayan wanita itu.
"Apa kata anda? Coba anda ceritakan dengan betul!" seru Hua Li yang pada saat ini, wajah gadis itu pucat dan kedua matanya bersinar-sinar.
"Kalian seperti pinang dibelah dua! Siauw Eng juga begini ketika masih hidup bersamaku dulu, sama persis dengan nona! Dan kecapi kamu itu yang membuatku semakin yakin, kalau kecapi itu milik sahabatnya." ucap pelayan wanita itu dengan semangat.
"Bibi..! Bolehkah saya tahu siapa nama anda?" tanya Hua Li yang menatap pelayan wanita itu.
"Nama saya Jing Yi, panggil saja bibi Ti." jawab Pelayan wanita itu yang menyebutkan namanya.
"Bibi Yi, silahkan anda lanjutkan cerita anda." ucap Hua Li yang penuh semangat untuk menyimak cerita bibi Ti dengan seksama.
"Dulu, sebelum ibu kamu menjadi pelayan dari Pangeran Leng Hui yang merupakan ayahanda pangeran Leng Song yang sekarang telah menjadi raja di Kerajaan Manchu ini, Siauw Eng adalah seorang penghibur di kerajaan Ming. Ternyata waktu itu Yang mulia raja yang masih muda belia dan cakap, menyukai Siauw Eng. Dan Siauw Eng juga punya rasa dengan Pangeran Leng Hu dan terjalin tali asmara yang erat antara mereka, sehingga mereka telah berjanji sehidup semati. Tapi sungguh celaka...!" cerita bibi Yi yang menghentikan ceritanya.
"Celaka? kenapa Bi?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Celaka orang tua Pangeran Leng Hui tidak suka denga Siauw Eng sebagai menantu mereka. Pangeran Leng Hui yang sangat mencintai Siauw Eng mempertahankan kekasihnya dan membujuk orang tuanya untuk menerima gadis itu sebagai selir. Orang tuanya, terutama ibunya, berkeras tidak setuju karena dianggap rendah sekali jika puteranya mengambil selir dari keluarga pelayan sendiri dan apalagi Siauw Eng sebelumnya seorang penghibur." ucap Bibi Ti yang menghentikan ucapannya untuk menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya perlahan-lahan.
Sementara Hua Li masih tetap dengan sabar menyimak cerita bibi Yi.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...