
"Ha.....ha....ha......! Cukup sudah!" seru Patriak Song dengan tawa khasnya.
Bayangannya melompat jauh ke belakang dan dia sudah berdiri tegak dengan pedang di tangan, lalu dimasukkannya pedangnya itu kembali ke sarung pedang di punggungnya.
Gulungan sinar kuning emas itu pun lenyap dan tahu-tahu Hua Li sudah berdiri di depan Patriak Song dengan pedang sudah disimpannya kembali.
Kini patriak Song memandang Hua Li dengan sinar mata kagum. Dia tadi kehilangan lawannya dan menjadi bingung, juga khawatir. Kalau lawannya menyerangnya, maka amat berbahaya baginya.
Tapi Hua Li itu tidak menyerangnya sehingga dia melompat keluar dari medan perkelahian karena merasa bahwa kalau dilanjutkan, dia pasti akan kalah.
"Nona, jurus pedangmu sungguh luar biasa sekali!" seru Patriak Song dengan nada suara lantang.
"Patriak, telah banyak mengalah. Terima kasih atas petunjuk Patriak," kata Hua Li yang merendah.
"Hemm, sekarang baru tahu akan kelihaian salah satu tetua perguruan Ular kobra!" kata Sin Lin dengan lantang.
"Sekarang bagaimana? Bolehkah kami bertemu Ketua perguruan ular kobra?" tanya Sin Lan yang menatap ketiga patriak dihadapannya.
Kini tahulah ketiga patriak itu bahwa tiga orang muda yang datang ini memang benar-benar memiliki kepandaian tinggi dan mereka tidak ragu lagi bahwa dua orang laki-laki muda itu benar-benar putra pemilik Lembah Seribu Bunga.
Mereka kini bersikap lain dan Patriak Song menghela napas panjang.
"Nona Hua dan tuan muda Sin, apakah kedatangan kalian ini ada hubungannya dengan harta karun Kerajaan Han yang ramai dibicarakan itu?" tanya patriak Song.
"Hei! Bagaimana patriak tahu?" tanya Sin Lin yang penasaran.
"Berita itu kami dengar dibicarakan ramai di dunia persilatan, kabarnya harta karun itu dicuri orang yang bertempat tinggal di perguruan ular kobra. Keadaan yang tidak menentu ini, yang mungkin membuat sebagian orang menduga bahwa kami yang menjadi pencurinya, membuat kami mencurigai siapa saja yang datang ke sini. Karena itu ketika kalian muncul, tentu saja kami menaruh curiga. Sekarang kami percaya kalau kalian daribaliran putih, jadi kami akan antarkan kalian untuk menghadap ketua perguruan Ular kobra." ucap patriak Song dengan ramah.
__ADS_1
"Terima kasih patriak!" seru Hua Li, Sin Lin dan Sin Lan seraya menjura.
Kemudian mereka memasuki perguruan ular kobra yang terdiri dari sebuah gedung besar dan beberapa bangunan kecil.
Ketua perguruan ular kobra menerima mereka ke dalam sebuah bangunan tanpa dinding yang berada di tengah sebuah taman. Ketua itu bersama tiga orang kepercayaannya mempersilakan Hua Li, sin Lin Dan Sin Lan untuk duduk dalam ruangan tanpa dinding yang kecil namun indah itu.
Udara amat sejuknya dan keharuman bunga di taman itu menyambut mereka.
Hua Li dan yang lainnya memberi hormat kepada ketua perguruan ular kobra itu dan diperkenalkan oleh Patriak Song, dan ketua perguruan itu tersenyum menganggukkan kepalanya sambil merangkap kedua telapak tangan depan dada sebagai sambutan penghormatan.
"Selamat datang wahai tamu kami yang agung!" seru ketua perguruan ular kobra itu dengan gembira.
"Sungguh merupakan kegembiraan besar sekali bagi perguruan ular Kobra dapat menyambut kunjungan murid Hua Tian dan kedua putra dari Lembah Seribu Bunga. Duduklah dan ceritakan apa keperluan kalian bertiga datang berkunjung ke perguruan ular kobra dan ingin berjumpa dengan saya?" jelas ketua perguruan ular kobra itu dan sekaligus bertanya.
"Maafkan kami bertiga yang telah mengganggu ketenangan di sini. Terus terang saja kunjungan kami bertiga ini ada hubungannya dengan hilangnya harta karun Kejaraan Han Kami bertiga bertugas untuk mencarinya." ucap Hua Li yang berterus terang.
"Berita yang menggemparkan itu sudah saya dengar. Tapi sebelumnya, apakah kalian bertiga ini mempunyai dugaan bahwa kami yang mencuri harta karun itu?" tanya patriak Song yang suaranya mengandung penasaran, karena jika perguruan ular kobra dituduh mencuri, hal itu sungguh merupakan penghinaan untuk mereka.
"Sama sekali tidak, Patriak! Justru kedatangan kami menghadap kalian adalah untuk mohon petunjuk pada kalian, siapa kiranya pencuri yang berani mengambil harta karun yang menjadi hak para pejuang untuk membela tanah air dari penjajahan bangsa Mongol," kata Hua Li.
"Kami tidak berani sembarangan menduga sebelum mendengar bagaimana terjadinya pencurian itu, dan siapa yang memiliki peta harta karun sehingga jelas siapa yang berhak. Akan tetapi, besar kemungkinan yang merampas atau mencurinya tentulah pihak Pemerintah Mongol." ucap salah satu patriak yang sejak tadi menyimak percakapan mereka.
"Saya kira bukan, Patriak! karena mereka juga masih mencari harta Karun itu." ucap Sin Lin.
Kemudian Hua Li menceritakan betapa dahulu Panglima Bong dari Kerajaan Han mencuri harta itu dari istana Han dan menyembunyikan harta karun itu lalu membuat sehelai peta.
Ketika mendiang Panglima Sung membasminya, Liu Bok mendapatkan peta itu dan sebelum dia dibunuh para panglima Mongol, dia meninggalkan peta itu kepada puteranya, yaitu Liu Ceng.
__ADS_1
Kemudian dia menceritakan dengan singkat betapa Liu Ceng, dia dan seorang Liu Hong ditawan oleh Panglima Mongol Kim Bao dan terpaksa mereka bertiga menyerahkan peta dan bahkan membantu panglima itu mencari harta karun.
"Demikianlah patriak, jadi tempat harta karun telah ditemukan akan tetapi ketika digali, yang ada hanya peti harta yang sudah kosong dan di dalamnya terdapat ukiran berbentuk ular kobra. Maka, jelaslah bahwa pencuri itu bukan Pemerintah Mongol, kemungkinan besar pencurinya bertempat tinggal di perguruan ini. Maka kami mohon petunjuk pada ketua, siapa kiranya yang patut dicurigai sebagai pencuri harta Karun itu." jelas Hua Li.
Mendengar cerita Hua Li tadi, Ketua dan tiga orang patriak yang sudah tua saling pandang dan kini ketua Perguruan Ular kobra itu menghela napas panjang.
"Wah, kalau bukan Pemerintah Mongol yang mengambilnya, tentu dicuri orang yang berilmu tinggi! Akan tetapi mungkinkah ada pencuri yang mengakui tempat tinggalnya? Saya kira pencuri harta karun yang amat berharga itu bukan orang yang demikian tololnya untuk memberitahukan tempat tinggalnya. Siapa tahu hal itu hanya untuk menyesatkan para pencarinya dan untuk menghilangkan jejak mereka, Nona Hua!" pendapat dari ketua perguruan Ular kobra itu.
"Kami juga sudah memikirkan kemungkinan itu, Ketua. Akan tetapi karena kami harus mencari ke mana, maka terpaksa kami melakukan penyelidikan ke perguruan ini, siapa tahu pencuri itu memang seorang yang amat sombong sehingga dia berani menentang siapa saja yang hendak merampas harta karun dari tangannya." ucap Sin Lin yang ikut andil untuk memberikan pendapat.
"Nona Hua dan dua putra pemilik Lembah seribu bunga, perguruan ular kobra sejak dulu membenci penjajah Mongol. Walaupun jumlah kami tak seberapa, kalau ada usaha perjuangan menentang mereka, kami pasti akan mendukung dan membantu. Kami siap membantu kalian yang hendak mencari pencuri itu dan merampas kembali harta karun Kerajaan Han yang sepatutnya diserahkan kepada para pejuang untuk membiayai perjuangan mereka mengusir penjajah Mongol dari tanah air." jelas Ketua perguruan Ular Kobra.
Tiba-tiba terdengar kegaduhan yang datangnya dari arah belakang gedung rumah induk perguruan ular kobra dimana mereka sedang berunding itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1