Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 113


__ADS_3

 Namun kedua orang muda itu silatnya hebat, dan terutama sekali hawa beracun yang keluar dari pedang dan tamparan tangan kiri Hua Li yang amat berbahaya.


Ketika Hua Li lengah, Coa Siang mengeluarkan pekik yang melengking panjang hampir berbareng. Sepasang pedang siang lee membuat serangan kilat yang luar biasa cepatnya dan pada saat Hua Li meloncat kebelakang, dia sudah menusukkan pedangnya dari samping.


''Hiaat...!"


"Trang...Trang...Trang...?"


Hua Li menangkis dengan pedangnya, namun dia terlambat sehingga pedang itu meleset dan masih menancap di pundak kirinya, kurang lebih satu dim dalamnya.


"Uhhh....!"


Hua Li mendengus dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara kerengan hebat, tubuhnya mencelat keatas dan dari atas, tubuhnya itu bagaikan seekor burung rajawali menyambar, meluncur kebawah dan kedua ujung sabuknya menyambar-nyambar kearah kepala kedua orang lawannya.


Coa Siang dan Cu Ming terkejut bukan main. Hebat sekali gerakan loncatan ini, bagaikan seekor burung rajawali terbang, cepat namun juga mengandung kekuatan yang amat dahsyat. Kalau dia tidak memegang senjata pedangnya, serangan itu dilanjutkan dengan cengkeraman kedua tangan ke bawah, karena dia memegang senjata ampuhnya itu, dia menggunakan pedang untuk menyerang kebawah dan tentu saja serangan ini lebih cepat daripada kalau menggunakan kedua tangannya.


Dua orang muda itu sama sekali tidak menduga bahwa lawan yang sudah tertusuk pedang itu akan mampu berbuat seperti itu.


Mereka terkejut dan karenanya terlambat menghindarkan diri. Kedua ujung sabuk itu menotok pundak dan mereka berdua roboh tak sadarkan diri.


Melihat kedua orang lawannya yang tangguh itu roboh pingsan, Hua Li yang sudah turun ke atas tanah, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar. Napasnya agak memburu dan dia memejamkan kedua matanya, merasa betapa kenyerian yang amat hebat menusuk-nusuk dari pundak ke dalam tubuh, bahkan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Maklumlah dia bahwa dia tertusuk oleh pedang yang mengandung racun amat jahatnya. Terhuyung-huyung dia memasuki pondoknya, membuka buntalan simpanan obat yang dibuat oleh kekasihnya yang telah tiada, Liu Ceng dan segera minum tiga pil kuning, lalu menempelkan obat yang berwarna merah kepada luka di pundaknya setelah itu merobek bajunya bagian pundak.


Hua Li mengimpun hawa murni untuk mengusir hawa beracun dari lukanya, namun betapa kagetnya ketika dia mendapat kenyataan bahwa racun itu memang hebat luar biasa dan tidak dapat disembuhkannya dengan obat dan pengerahan tenaga sakti.

__ADS_1


Dia hanya mampu menahan rasa nyeri dan menghentikan racun itu menjalar lebih lanjut ke jantungnya, dan dia tidak berhasil mengeluarkan racun itu dari tubuhnya.


Ini berarti bahwa ia terancam bahaya maut, kalau saja dia tidak menemukan obat penawarnya. Maka, diapun cepat berlari keluar lagi.


Dua orang muda itu masih rebah tidak pingsan lagi, akan tetapi belum mampu bergerak karena pengaruh totokan yang lihai dari tangan Hua Li.


   Melihat pria setengah tua tinggi besar itu sama sekali tidak memperlihatkan ketakutan, bahkan memandang kepadanya dengan mata melotot penuh kemarahan dan kebencian.


"Cu Ming...! berikan obat penawar racun pedangmu, atau kalian akan mati!" seru Hua Li yang mengancam.


Biarpun kaki tangannya tidak mampu bergerak, Cu Ming masih dapat bicara walaupun lirih. Namun bicara dengan penuh semangat dan sepasang matanya memancarkan kebencian.


"Aku sudah kalah, mau bunuh bunuhlah, siapa takut mampus. Kau pun akan mampus karena racun pedangku dan kita sama-sama menghadap arwah ayah dan kakakku...!" seru Cu Ming dengan geram.


Hua Li adalah seorang yang cerdik. Dia mengenal gadis yang berhati keras, maka membujuk takkan ada manfaatnya. Maka dia lalu memancing untuk mengetahui macam racun yang dideritanya.


Pancingnya mengena. Gadis itu tersenyum mengejek.


"Boleh kau coba Obat penawar racun pedang Pedang hitam Pengejar Iblis ini hanya ada pada ibuku. Kau tahu siapa ibuku? beliau berjuluk si Iblis Betina Selaksa racun." kata Cu Ming yang membuat Hua Li sangat terkejut bukan main.


Tak disangka istri dari Cu Liong adalah pendekar wanita yang termasuk deretan atas pendekar aliran hitam.


Tentu saja dia pernah mendengar nama itu, yang terkenal sebagai seorang ahli racun yang amat berbahaya dan jahat. Akan tetapi dia tetap bersikap tenang.


"Hm, biar racun itu datang dari si iblis betina selaksa racun dan siapapun saja, sudah pasti akan dapat kusembuhkan. Tak mungkin ada racun yang tidak ada obat penawarnya di dunia ini." kata Hua Li dengan sikap tenang.

__ADS_1


Cu Ming yang masih terlalu muda untuk dapat menduga bahwa sikap lawannya itu adalah untuk memancing keterangan tentang racun itu. Ia menjadi penasaran dan berkata.


"Kau akan mampus, takkan mungkin sembuh. Obat penawarnya hanya ditangan ibuku. Kecuali kalau engkau dapat menemukan raja-mustika di kepala naga....."


Cu Ming bukan berbohong atau sekedar mengulang dongeng kuno yang mengatakan bahwa mustika di kepala naga merupakan obat paling mujarab di dunia, dapat menawarkan segala macam racun, bahkan dapat memperkuat tubuh.


Memang ia pernah mendengar dari ibunya itu bahwa satu diantara obat yang akan mampu mengobati luka beracun. Ia sengaja mengatakan ini, bukan berbohong, melainkan untuk mengejek karena tidak akan mungkin Hua Li akan bisa mendapatkan mustika di kepala naga itu.


"Kau bohong...!" seru Hua Li seraya mengernyitkan kedua alisnya.


"Huh...! Perlu apa aku bohong? Kau akan mampus dan kalau kau hendak membunuhku, silakan! Kau kira dengan tenaga dalam akan dapat mengusir racun dari pedangku? Tidak mungkin. Paling-paling dengan obat dan tenaga dalam hanya akan dapat mengurangi rasa nyeri, akan tetapi racun itu tetap akan mengeram dalam tubuhmu. Memang dapat kau perlambat menjalarnya ke Jantung, akan tetapi lambat laun, akan sampai juga. Melihat betapa pedangku sudah melukai pundakmu tidak berapa jauh dari jantung, dalam waktu paling lama tiga bulan engaku tentu akan mati dalam keadaan yang sangat menderita." jelas Cu Ming dengan lirih namun masih bisa didengarkan oleh Hua Li.


Pendekar kecapi itu menjadi terkejut sekali mendengar ini. Memang benar apa yang dikatakan gadis itu, berarti ia tidak berbohong. Dia menjadi marah sekali tangannya diangkat ke atas untuk menghantam ke arah kepala gadis itu.


Gadis itu sama sekali tidak berkedip memandang ke arah Hua Li dengan mata yang tajam. Tangannya tertahan dan dia menggeleng kepala keras-keras, lalu menoleh ke arah Coa Siang yang sudah siuman akan tetapi tidak mampu bergerak. Dia mendapatkan gagasan yang luar biasa untuk melampiaskan hatinya.


...   "~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2