Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 72


__ADS_3

"Ah, kiranya begitu. Kalau begitu, engkau datang kemari ini tentu hendak mencari harta karun yang menjadi hak ayah anda dan sudah diwariskan kepadamu." ucap gadis yang memakai sabuk hitam yang juga ikut menyimak pembicaraan mereka.


"Benar. Akan tetapi bukan untuk mendapatkannya sebagai warisan. Mendiang orang tuaku tidak membutuhkan harta karun itu, dan saya juga sama sekali tidak menginginkannya untuk diri saya sendiri." ucap Thian Yu.


"Ah, begitukah? Kalau begitu, seandainya anda berhasil mendapatkan harta karun itu, lalu untuk apa dan untuk siapa?" tanya gadis yang memakai sabuk yang senad dengan pakaian yang digunakannya.


"Saya akan melaksanakan apa yang dipesan mendiang Ayah saya yaitu apabila saya berhasil mendapatkan harta karun itu, pasti akan saya serahkan kepada yang berhak." jawab Liu Ceng dengan yakin.


"Yang berhak? Siapakah yang berhak? Harta itu milik Kerajaan Han yang kini telah musnah. Lalu kepada siapa harta karun itu akan engkau berikan?" tanya murid perguruan walet putih lainnya.


"Menurut pesan Ayah saya, harta karun itu harus diserahkan kepada para pejuang rakyat yang berjuang membebaskan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah Mongol. Maka seandainya saja berhasil mendapatkan harta karun itu, pasti akan saya serahkan kepada para pejuang yang dimaksudkan itu." jawab Liu Ceng yang apa adanya.


"Bagus sekali! Sungguh mengagumkan, jangan khawatir perguruan walet putih pasti berdiri di belakangmu dan kami akan membantumu sekuat tenaga karena kami senang sekali kalau dapat membantu perjuangan rakyat untuk merobohkan penjajah Mongol," kata Thian Yu dengan gembira sekali.


 "Bibi Yu, terima kasih banyak. Hati saya sudah merasa senang kalau ada pihak yang menyetujui pendirian mendiang Ayah." ucap Liu Ceng yang mengulas senyumnya.


"Kalau menurut pendapatmu, siapakah kiranya yang telah mencuri harta karun itu, tuan muda Ceng?" tanya Thian Yu yang menatap Liu Ceng.


"Masih sulit untuk menduga siapa yang melakukan pencurian itu, Bibi. Beberapa hari yang lalu, saya bersama Adik angkat saya dan seorang sahabat, mengunjungi perkumpulan pengemis tongkat merah. Di sana muncul para anggota tengkorak Hitam, dimana yang satu memakai kalung berliontin tengkorak yang berwarna hitam dan yang satu berambut putih dengan pakaian mereka serba hitam. Dan mereka melarikan diri!" jelas Liu Ceng.


"Anda dan saudara anda dapat mengalahkan para anggota tengkorak hitam yang terkenal berilmu tinggi itu? Sungguh mengagumkan dan sukar dipercaya melihat anda masih begini muda. Kemudian bagaimana?" ucap dan tanya Thian Yu yang penasaran.


"Setelah mereka berdua melarikan diri, adik saya Liu Hong melakukan pengejaran. Adik saya itu memang berwatak keras. Kamudian sahabat kami menyusulnya karena khawatir kalau-kalau adik saya terjebak musuh. Setelah menanti lama dan mereka berdua belum juga pulang, saya lalu mencari mereka. Akan tetapi usaha saya gagal. Saya tidak dapat menemukan mereka biarpun saya telah mencari selama beberapa hari. Akhirnya saya bertemu dengan dua orang gadis ini dan diajak ke sini untuk mengobati Bibi. Oleh karena itu saya belum dapat melakukan penyelidikan kepada golongan lain. Akan tetapi menurut keyakinan saya, golongan yang sudah saya datangi, yaitu perkumpulan pengemis itu, pasti bukan pelaku pencurian harta karun yang saya cari." jawab Liu Ceng.

__ADS_1


"Bagaimana kalau salah satu anggota perguruan tengkorak hitam itu? Kami mendengar bahwa mereka merupakan pendekar-pendekar dari aliran hitam yang jahat dan kejam. Mungkinkah mereka yang menjadi pencurinya?" pendapat gadis yang memakai sabuk hitam.


"Sukar dipastikan, nona. Mereka juga menuduh perkumpulan pengemis tongkat merah yang menjadi pencurinya." jawab Liu Ceng.


"Menurut saya, ada dua kemungkinan memang. Perguruan tengkorak hitam benar-benar bukan pencuri harta karun atau merekalah pencurinya dan sengaja menuduh perkumpulan pengemis tongkat merah untuk mengalihkan kecurigaan para pencari harta karun yang lain." pendapat gadis bersabuk sama dengan pakaiannya itu.


Thian Yu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Saya kira keadaan di daerah ini sekarang amatlah berbahaya. Ini sudah kami rasakan sendiri. Kami melakukan penyelidikan dengan berpencar dan akibatnya, dua orang teman kami tewas, entah masih berapa banyak lagi orang jahat yang berilmu tinggi berkeliaran di sini. Maka, sebaiknya kita bersama melakukan penyelidikan agar kita lebih kuat menghadapi bahaya." usul gadis bersabuk hitam.


"Kita sudah pernah mengeroyoknya namun kita bukan tandingannya." ucap Thian Yu dengan menghela napas panjang.


 "Kita minta bantuan Saudara Ceng, tentu akan dapat mengalahkannya!" usul gadis yang bersabuk hitam dengan semangatnya.


"Saya sendiri pernah bertemu dan bertanding melawan Raja iblis itu. Saya kira saya sendiri tidak mampu mengalahkannya. Akan tetapi perlukah melakukan balas dendam? Sebaiknya Bibi melaporkan hal itu kepada Ketua perguruan walet putih agar dapat diambil keputusan. Dendam di hati merupakan racun yang berbahaya, membuat orang terkadang menjadi kejam dan bahkan nekat." ucap Liu Ceng yang menatap satu persatu wanita dihadapannya itu.


"Adik, diamlah!" tegur gadis yang memakai sabuk berwarna senada dengan pakaiannya itu.


"Nona yang baik, dapatkah engkau menjelaskan kepadaku, mana yang lebih berat antara adik seperguruan dan ayah ibu?" tanya Liu Ceng yang mengulas senyumnya.


"Tentu saja ayah ibu yang lebih berat. Ayah ibu merupakan orang-orang pertama yang paling dekat dengan kita!" jawab gadis yang memakai sabuk hitam itu tanpa berpikir panjang.


"Nah, kalau begitu ketahuilah, Nona yang baik. Bahwa Ayah dan Ibuku juga tewas dibunuh orang. Yang membunuhnya adalah Beng Ong pula, bersama muridnya, yaitu Panglima Mongol Lim Bao." ucap Liu Ceng.

__ADS_1


"Ja...jadi Ayah Ibumu juga terbunuh oleh Raja iblis itu? Akan tetapi kenapa engkau tidak membalas dendam kematian mereka, tuan muda Liu?" tanya Thian Yu yang merasa heran.


"Seperti sudah saya katakan tadi, Bibi. Dendam itu racun yang amat berbahaya. Saya tidak mau dibakar dendam yang akan meracuni dan merusak diri sendiri." jawab Liu Ceng.


"Tapi kenapa begitu?" tanya gadis yang memakai sabuk warna hitam itu dengan heran dan penasaran.


"Apakah orang sejahat raja iblis itu dibiarkan saja merajalela dengan kejahatannya? Bukankah sebagai pendekar silat kita berkewajiban untuk menentang kejahatan?" tanya gadis yang memakai sabuk hitam itu yang menambahi.


"Sesungguhnya, bukan hanya ahli silat saja yang berkewajiban untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Setiap manusia berkewajiban untuk menentang kejahatan dengan hidup yang baik dan benar karena hanya dengan demikianlah kehidupan di dunia ini menjadi tenteram dan sejahtera." jawab Liu Ceng dengan tenang.


"Kalian sudah mendengar pendapat tuan muda Ceng. Semua ucapannya tadi benar sekali, maka kalian sepatutnya mencontohnya. Kita tentu akan menentang orang-orang sesat seperti Beng Ong, akan tetapi kita menentang kejahatannya, bukan menentang orangnya untuk membalas dendam. Sekarang yang terpenting kita membantu tuan muda Ceng untuk mendapatkan kembali harta karun, dan jangan membiarkan dendam membakar hati kalian." ucap Thian Yu yang menasehati kedua ponakannya.


"Kami mengerti bibi guru." ucap kedua gadis yang memakai gaun warna hijau itu yang secara bersamaan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


 


__ADS_2