
Hal ini membuat Yauw Lie dan dua orang pemuda itu mengambil kesimpulan bahwa para pengemis tongkat merah itu bukan golongan yang suka bertindak mengandalkan kekuatan mereka seperti yang dilakukan banyak anggauta perkumpulan yang lainnya.
Lima orang pengemis itu melangkah tanpa bicara sampai di pintu gerbang dusun sebelah timur, mereka tidak berhenti dan berjalan terus. Ternyata mereka tidak menuju ke bukit Tengkorak.
Tiga orang muda itu tetap mengikuti rombongan pengemis itu dari belakang, agak jauh karena mereka tidak ingin diketahui bahwa mereka sedang membayangi rombongan pengemis itu.
Setelah keluar dari pintu gerbang dan berada di jalan yang sepi, lima orang pengemis itu mulai berlari. Ketiga anak muda itu juga berjalan cepat, terus membayangi mereka.
Tak lama kemudian mereka tiba di tepi sebuah hutan kecil dan dari jauh sudah tampak ada dua orang sedang berkelahi. Yang seorang adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tinggi kurus, pakaiannya serba putih dan dia menggunakan senjata sebatang pedang.
Adapun lawannya adalah seorang pengemis berusia sekitar lima puluh tahun dan dia bersenjatakan sebatang tongkat merah. Jelaslah bahwa yang sedang berkelahi itu seorang anggauta pengemis tongkat merah melawan seorang yang berpakaian serba Hitam dan yang memiliki ilmu pedang cukup tinggi.
Perkelahian itu memang seimbang dan ramai, akan tetapi agaknya pengemis bertongkat merah itu mulai terdesak oleh permainan pedang lawannya.
"Apakah lima orang pengemis itu hendak mengeroyok Si Baju Hitam itu?" tanya Liu Ceng dengan lirih.
"Hei, biarpun aku tidak mengenal Si Baju Hitam itu, kalau dia dikeroyok, aku pasti akan membelanya!" kata Liu Hong.
"Kakak Ceng dan kakak Hong, kuharap kalian tidak tergesa-gesa bertindak sebelum kita mengetahui permasalahannya alasan mereka itu berkelahi. Jangan sampai kita salah membantu," kata Yauw Lie yang menatap saudara sepupu itu satu persatu.
"Oh, benar juga!' ucap Liu Ceng..
Mereka mendekati dan mengintai dari balik pohon besar. Lima orang pengemis tongkat merah itu kini telah tiba dekat mereka yang bertanding, akan tetapi mereka berlima hanya berdiri menonton pertandingan itu dan agaknya tidak akan turun tangan membantu rekan mereka.
Laki-laki berpakaian hitam itu tampak terkejut ketika dia melihat munculnya lima orang pengemis tongkat merah. Dia agaknya tahu benar bahwa kalau lima orang itu mengeroyoknya, dia pasti akan terancam karena melawan seorang ini saja, dia hanya mampu mendesak setelah bertanding lebih dari lima puluh jurus.
Tongkat dari lawannya yang berwarna merah itu membentuk gulungan sinar merah yang cepat dan kuat. Dan pria berpakaian hitam itu melompat jauh ke belakang.
__ADS_1
"Dasar curang. Kalian hendak mengeroyok aku!" bentak pria berpakaian hitam sambil melintangkan pedang di depan dada.
"Kami bukan perkumpulan orang-orang yang curang dan suka main keroyokan!" seru lawan pria berpakaian hitam sambil menudingkan tongkat merahnya.
"Manusia sombong! Kalau kami melakukan pengeroyokan, apa kaukira sekarang engkau masih hidup!" seru dengan lantang salah satu
Di antara lima pengemis yang baru datang.
"Baik, sekarang aku mengajukan tantangan atas nama kedua orang pimpinan kami. Esok lusa, setelah matahari terbit, pimpinan kami akan datang ke tempat ini dan menantang pimpinan kalian. Hendak kita lihat siapa yang lebih unggul dan yang patut mendapatkan harta karun, ketua Bukit Tengkorak Hitam ataukan Ketua di Bukit Tengkorak putih! Kalau esok lusa pimpinan kalian tidak muncul, berarti kalian adalah pengecut!" seru pria berpakaian serba hitam itu yang kemudian melompat ke dalam hutan dan melarikan diri.
"Bedebah itu seharusnya tidak kita biarkan pergi!" seru pengemis yang menjadi lawan pria berpakaian hitam itu marah dan mengepal tinjunya.
"Tidak ada gunanya Adik Seperguruan, bukankah ketua berpesan agar kita tidak mengambil sikap bermusuhan dengan siapa saja yang tinggal di pegunungan ini. Oh iya, bagaimana kalian berlima dapat datang ke sini dan mengetahui bahwa kami sedang bertanding?" ucap sekaligus tanya pengemis yang paling tua.
"Salah seorang dari anggota kita yang memberitahukan, karena itulah kami cepat menyusul ke sini, dan melihat Kakak Seperguruan tadi bertanding dengan Si Baju Hitam yang brengsek itu. Bisa kakak ceritakan kenapa kakak seperguruan sampai bertengkar lalu berkelahi dengan orang itu?" jawab dan tanya salah satu dari kelima pengemis itu.
"Bedebah! Mereka yang tak tahu malu, mereka yang tidak pantang melakukan kejahatan, malah menuduh kita! Biarpun pekerjaan kita mengemis, mencuri merupakan pantangan besar bagi kita. Semua orang juga mengetahuinya!" kata yang lain. Mereka berenam tampaknya marah dan penasaran sekali.
"Sebaiknya kita laporkan kepada ketua. Dikiranya kita takut menghadapi tantangan mereka!" seru pengemis yang lainnya.
Pada saat itu, Yauw Lie dan kedua saudara sepupu yang semula mengintai, keluar dari tempat pengintaian mereka.
Begitu melihat tiga orang muncul dari balik pohon, enam orang anggota perkumpulan pengemis tongkat merah ini melompat dengan gerakan ringan dan mereka sudah berdiri di depan tiga orang muda itu dengan tongkat merah siap di tangan untuk menyerang.
"Heh, apakah kalian juga ingin mencari gara-gara dengan kami?" tanya pengemis tertua dengan pandang mata penuh kecurigaan.
"Maafkan, kami sama sekali tidak mempunyai niat buruk. Tadi secara kebetulan kami melihat seorang di antara kalian berkelahi melawan orang berpakaian hitam itu, maka kami tidak keluar dan bersembunyi di balik pohon. Setelah orang itu pergi, baru kami berani menghampirl kalian." balas Yauw Lie cepat maju dan mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan lalu berkata lembut.
__ADS_1
"Kalian bertiga ini siapakah dan apa maksud kalian menghampiri dan memperhatikan kami?" tanya pengemis yang lainnya seraya mengerutkan alisnya.
"Kami tertarik mendengar ada orang menuduh kalian mencuri harta pusaka! Benarkah kalian mencuri harta karun itu?" tanya Liu Hong yang tidak sabar melihat sikap Yauw Lie demikian hormat kepada enam orang pengemis itu.
"Adik Hong......!" tegur Liu Ceng sedikit kesal.
"Tuan muda, apakah engkau juga bermaksud menghina kami?" tanya pengemis tertua dengan suara kaku.
"Eh! Siapa yang menghina siapa? Aku hanya bertanya, apa salahnya orang bertanya!" bentak Liu Hong sambil membelalakkan mata dan bertolak pinggang,
Mendengar hal itu, para pengemis tongkat merah gelagapan, tidak mampu bicara. Yauw Lie yang melihat bahwa sikap dan ucapan Liu Hong 4bisa menyulut kemarahan dan permusuhan, karena itu Yauw Lie segera memberi hormat kepada enam orang pengemis itu.
"Harap Paman berenam suka memaafkan kami. Sesungguhnya, kami bertiga tertarik sekali mendengar orang baju hitam tadi bicara tentang harta karun karena kami bertiga justeru hendak menyelidiki, siapa pencuri harta karun itu. Untuk penyelidikan kami inilah maka kami hendak pergi menghadap Ketua perkumpulan tongkat merah untuk mohon petunjuk." jelas Yauw Lie seraya menjura.
Ucapan Yauw Lie ini, tentunya telah menenangkan hati para pengemis itu. .
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1