Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 267


__ADS_3

Semua seperti yang dia harapkan, dan hasratnya pun dapat tersalurkan.


...****...


Sementara itu gadis cantik yang usianya tak muda lagi, dan sudah mempunyai seorang murid yang sangat hebat yang bernama Han Beng serta kemana-mana selalu membawa alat musik kecapi, dia bukan lain adalah Hua Li si pendekar Kecapi.


Hua Li yang mana saat ini berjalan seorang diri meninggalkan rumah suami isteri Siang Lee dan Cu Ming, itu sungguh jauh berbeda dengan Hua Li ketika datang ke dusun itu kemarin. Kini dia melangkah dengan hati ringan dengan dada lapang dan perasaan penuh bahagia.


 Dia merasa seolah-olah ada batu besar sekali yang selama bertahun talah menekan hatinya, kini telah lenyap membuat dadanya terasa lapang sekali.


Gadis yang berusia tiga puluh tahun yang bertubuh tinggi dan ramping itu nampak lebih muda dari biasanya. Dadanya nampak makin membusung, dan langkahnya bagaikan langkah seekor harimau betina dan sepasang bola mata yang mencorong, bibirnya yang tipis itut itu tersenyum cerah, bahkan ketika mendaki bukit itu, dia setengah berlari sambil bersenandung.


Hua Li Si Pendekar Kecapi itu terus bersenandung seraya melompati bebatuan.


Pendekar yang biasanya berwatak pendiam dan keras itu hampir tidak pernah kelihatan bergembira, dan pada hari ini dia berjalan kaki seorang diri sambil bersenandung, yang membuktikan kalau hatinya sedang gembira.


Sudah lama dia tak merasakan kerinduan, kali ini rasa rindunya pada sang murid seperti tak bertepi.


Dan baru sekarang dia mengenal apa yang dinamakan kerinduan itu, rasa ingin bertemu dengan muridnya yang tampan dan gagah perkasa.


"Trang.....Trang.....Trang..Trang....!"


Ketika dia tiba di tepi sebuah hutan kecil di lereng bukit, tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suara orang berkelahi. Tak salah lagi, suara berdentingnya senjata-senjata tajam saling bertemu, dan terdengar pula teriakan-teriakan banyak orang.


Hua Li adalah seorang pendekar perkasa yang berjuluk pendekar kecapi, tentu saja setiap kali ada perkelahian atau adu ilmu silat, hatinya tertarik sekali.


Apalagi suara orang berkelahi itu terjadi di dalam hutan, maka dia pun merasa khawatir kalau-kalau sedang terjadi kejahatan di dalam hutan itu. Dia segera mengerahkan tenaganya dan berlari cepat memasuki hutan.


Pada saat dia tiba di tempat terbuka tengah hutan itu, dia melihat seorang laki-laki yang memegang sepasang pedang dikeroyok oleh sedikitnya lima belas orang. Dan di situ sudah menggeletak lima orang dalam keadaan terluka.


Rupanya laki-laki itu mengamuk berhasil merobohkan lima orang, akan tetapi pengeroyoknya masih banyak dan di antara para pengeroyok terdapat dua orang laki-laki setengah tua yang cukup lihai.

__ADS_1


Nampaknya laki-laki itu telah menderita beberapa luka, pakaiannya sudah berlepotan darah dan gerakannya mulai mengendur sehingga ia terancam bahaya maut.


Melihat ini, tentu saja Hua Li tak dapat tinggal diam saja. Dia melihat betapa kini dua orang di antara para pengeroyok yang paling lihai itu memang masing-masing mempergunakan sebatang golok besar, mendesak pemuda yang berbaju putih itu.


Laki-laki itu melawan matian-matian, memutar sepasang pedangnya, namun terdesak dan terhuyung.


"Tranggggg.. ..........!"


Pertemuan pedang kanannya dengan golok seorang di antara dua pengeroyok itu demikian kerasnya sehingga pedang di tangan gadis itu terpental dan lepas dari tangannya.


Padahal, pada saat itu, orang ke dua sudah mengayun goloknya membacok ke arah kepalanya. Sungguh berbahaya sekali keadaan gadis itu dan agaknya sudah tidak ada waktu lagi baginya untuk dapat menghindarkan diri dari bacokan kilat itu.


Tiba-tiba nampak sinar putih meluncur dari samping dan sinar ini menangkis golok yang membacok kepala laki-laki berbaju putih itu.


"Plakkk!"


Sinar putih itu ternyata sehelai sabuk sutera yang telah menangkis golok, sekaligus menggulungnya dan sekali tarik, golok di tangan laki-laki itu terlepas dan berpindah ke tangan Hua Li.


Mereka merasa penasaran sekali karena mereka sudah hampir berhasil merobohkan laki-laki berbaju putih itu, akan tetapi kini muncul seorang wanita yang menggagalkan usaha mereka.


Dua orang lihai yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu, dengan marah lalu memberi aba-aba untuk mengeroyok Hua Li.


Gadis itu melihat kalau laki-laki yang berbaju putih itu sudah terhuyung dan jatuh terduduk, lalu laki-laki itu memejamkan mata dan agaknya sedang menderita nyeri yang hebat.


Dia pun cepat mendekati gadis itu, tanpa ragu lagi dia menotok punggungnya sehingga laki-laki itu itu roboh pingsan dan segera memapahnya laki-laki itu. Pada saat itu, belasan orang itu sudah maju mengeroyoknya.


Hua Li mendudukkan laki-laki itu disampingnya dan kemudian menggerakkan sabuk putihnya dan tubuhnya berloncatan bagaikan seekor rajawali sakti.


"Tarr...tarr....tarr...!"


Sabuk itu menyambar-nyambar dan dalam waktu beberapa menit saja, hampir semua senjata di tangan para pengeroyok telah terampas dari tangan mereka.

__ADS_1


Ada yang terlibat sabuk dan ditarik lepas, ada yang terlepas karena pergelangan tangan pemegangnya tertotok ujung sabuk. Dan sabuk itu pun lalu lecut-lecut seperti cambuk dengan mengeluarkan suara ledakan-ledakan.


Kocar-kacirlah para pengeroyok itu dan tak lama kemudian mereka semua melarikan diri sambil membawa teman-teman yang tadi terluka karena melawan laki-laki berbaju putih itu.


Hua Li melangkahkan kaki dan kembali menghampiri tubuh laki-laki yang pingsan itu, sejenak memandang ke arah mereka yang melarikan diri. Pada saat itu baru dia rasa keadaan hatinya sudah mengalami perubahan yang luar biasa.


Tanpa disengaja, tadi dalam perkelahian itu, dia sama sekali tidak mau melukai berat para pengeroyoknya, apalagi merobohkan dan membunuhnya.


Padahal, dahulu kalau dia berhadapan dengan lawan, dia tidak mengenal ampun lagi. Lebih-lebih lagi kalau lawannya itu orang-orang jahat.


Hua Li tidak menyesali perubahan pada dirinya, hanya merasa heran saja, kemudian dia membawa pergi laki-laki itu keluar dari dalam hutan. Dengan membawanya mendaki bukit dan setelah tiba puncak, di mana terdapat sebatang pohon yang lebat daunnya, dia berhenti merebahkan tubuh laki-laki itu ke atas tanah bertilamkan rumput tebal.


Dengan lembut dia menyadarkan laki-laki itu dari pingsannya. Laki-laki itu membuka matanya dan begitu melihat seorang laki-laki duduk di dekatnya, ia mengeluarkan seruan tertahan dan cepat meloncat bangun dengan sikap menyerang.


Akan tetapi karena luka-lukanya, ia pun terpelanting dan tentu akan roboh terbanting kalau saja Hua Li tidak menangkap lengannya.


"Saudaraku, tenanglah. Aku bukan musuhmu. Mereka itu sudah melarikan diri." kata Hua Li.


...~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...


   

__ADS_1


__ADS_2