Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 172


__ADS_3

"Kenapa kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan kepadaku dan kenapa pula kalian memaki aku?" tanya Han Beng yang penasaran.


Seorang di antara mereka, yang kepalanya besar dan hidungnya besar menepuk-nepuk perutnya yang gendut.


"Bocah lancang! Apakah matamu sudah buta dan kau tidak melihat sabuk merah ini? Kami adalah tokoh-tokoh perkumpulan pengemis sabuk merah, dan kau pengemis busuk ini berani bertanya lagi kenapa kami melarang engkau pengemis di sini? Apakah kau sudah mendapatikan ijin dari pimpinan kamj?" tanya pengemis itu dengan membentak.


"Ha...ha...ha...! Tidak, aku tidak pernah mendapatkan ijin, bahkan tidak pernah meminta ijin. Aku hanya lewat saja di kota raja ini, bukan untuk menetap dan melakukan, pekerjaan mengemis!" seru Han Beng dengan diiringi tawa yang menandakan kalau dia tak takut sama sekali dengan dua pengemis sabuk merah itu.


"Pengemis tetap maupun mengemis sementara harus mendapat ijin lebih dulu dari pimpinan kami! Kalau tidak kau harus cepat pergi dari sini!" seru salah satu dari pengemis itu.


"Baiklah! Aku pergi...... aku akan pergi.....!" seru Han Beng, tidak mau mencari keributan di tempat orang.


"Hei, tunggu dulu! kau terimalah ramuan obat ini untuk gurumu yang sedang sakit!" seru gadis itu yang menyerahkan ramuan obat itu sambil keluar dari tokonya, menghampiri Han Beng.


Kemudian pemuda itu menjulurkan lengan untuk menerimanya. Akan tetapi, tiba-tiba pengemis perut gendut itu menggerakkan tangannya menampar ke arah bungkusan obat yang akan diserahterimakan itu.


"Plakk....!"


Tiba-tiba bungkusan-bungkusan itu terlepas dari tangan nona pemilik toko obat dan terlempar ke atas tanah. Kini nona itu membalikkan tubuh menghadap ke arah si gendut dengan raut wajahnya yang marah sekali.


Kedua alisnya berkerut dan sepasang matanya mencorong. Pengemis gendut itu menyeringai, dan agaknya merasa gugup juga melihat nona si pemilik toko obat itu yang matapnya dengan kemarahan.


"Nona, jangan memberikan apa-kepadanya. Kalau diberikan juga, tidak urung kami akan merampas barang itu dari tangannya, bahkan dia akan ku pukul setengah mati!" seru pengemis yang satunya.


"Ayo cepat ambil!" perintah si nona itu dengan tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menuding ke arah tiga buah bungkusan yang berserakan di atas tanah, kepada pengemis perut gendut itu.


Pengemis gendut itu sangat terkejut dan memandang ke arah bungkusan-bungkusan itu lalu kepada Si Nona yang bersikap galak. Tentu saja dia tidak sudi melaksanakan perintah yang dianggapnya menghina itu.


Dia biasa memerintah, bukan diperintah, kecuali tentu saja oleh para pimpinan perkumpulan para pengemis sabuk merah yang lebih tinggi kedudukannya, atau atasannya


"Ambil, kataku! Apakah kau tuli?" bentak nona itu dengan suara semakin lantang.

__ADS_1


"Nona, mengapa Nona hendak membela pengemis asing ini? Siapa tahu dia ini seorang mata-mata, atau seorang jahat yang hendak mengacaukan kota raja dengan menyamar sebagai pengemis.Hanya pengemis sabuk merah yang boleh dipercaya!" seru pengemis ke dua yang bertubuh tinggi kurus dan agak bongkok itu dengan suara memprotes.


"Aku tidak membela siapa-siapa hanya menentang kalian yang kurang ajar. Obat itu adalah milikku, akan kuberikan kepada siapapun juga, kalian peduli apa? Bukan milik nenek moyangmu! kau sudah berani memukulnya hingga tiga bungkusan itu terjatuh, ke atas tanah. Sekarang kuperintahkan kalian untuk mengambilnya kembali dan menyerahkan kepadaku, ataukah aku harus memaksa kalian!" seru nona itu yang tetap dengan raut wajah yang memerah.


Diam-diam Han Beng terkejut dan dia siap siaga. Nona ini memang amat baik dan gagah, akan tetapi juga sembrono karena Han beng melihat bahwa tiga orang pengemis ini tentu pandai ilmu silat dan sudah terbiasa memaksakan kehendak mereka dengan kekerasan.


Pengemis dengan perut yang gendut menjadi merah wajahnya. Namun agaknya dia masih menjaga gengsi, tidak ingin ribut dengan seorang nona yang cantik, maka dia masih menganggap bahwa nona itu tentu belum mengenal siapa mereka.


"Nona, dengar dan lihat baik-baik. Kami adalah tokoh-tokoh pengemis sabuk merah!" seru pengemis gendut itu sambil menepuk pinggangnya, untukmemperlihatkan sabuk merah cerah yang menjadi tanda anggota dan tingkatannya,


"Kami datang ini untuk menyelamatkan Nona dari tipuan pengemis busuk ini. Semua pengemis di kota raja adalah anggota kami, Nona, dan orang ini adalah penyelundup dari luar kota!" seru pengemis yang kurus.


"Mau pengemis mana pun kalian, aku tidak peduli!" seru nona itu yang membentak menatap satu persatu kedua pengemis itu.


"Biar kalian pengemis dari neraka pun tidak berhak melarang aku menolong siapa saja. Hayo cepat ambil bungkusan-bungkusan obat itu!" sambung nona itu tanpabtakut sama sekali.


Pengemis dengan perut gendut itu saat ini menjadi marah. Dia merasa ditantang oleh seorang nona muda.


"Dengan terpaksa aku akan memaksa kalian untuk melakukannya!" seru nona itu dengan mengulas senyumnya.


Dua orang pengemis itu saling pandang, lalu tertawa.


"Ha....ha...ha....! bagaimana caranya Nona?" goda pengemis kurus itu.


"Caranya begini!" seru nona cantik itu yang t0iba-tiba tubuh gadis itu menerjang ke depan dan sebelum Si Tinggi Kurus itu sempat mengelak atau menangkis, dua kali ujung sepatunya menendang lutut dan tangannya mendorong.


"Aaaarghh....!"


Tak dapat dihindarkan lagi tubuh Si Kurus itu terjengkang, dan pantatnya yang tipis terbanting ke atas tanah, sehingga dia meringis kesakitan.


"Nah, ambillah bungkusan itu!" seru nona itu yang memerintah.

__ADS_1


Pengemis gendut itu menjadi terkejut bukan main. Sungguh dia tidak menyangka akan ada orang berani menjatuhkan seorang di antara mereka dan yang berani melakukan hal itu justru seorang nona.


Pengemis gendut itu kemudian menerjang ke depan dan kedua tangannya mencengkeram untuk menangkap kedua pundak gadis itu. Namun, dengan gerakan lincah sekali, gadis itu menggeserkan kaki memiringkan tubuhnya.


Dengan kecepatan luar biasa, sambil memiringkan tubuh, pada saat tubuh pengemis itu lewat dan luput menerkamnya, lututnya diangkat dengan tiba-tiba, tepat menyambut perut lawan.


"Bughh ...!"


Perut itu dimakan lutut membuat Si Pengemis gendut itu membungkuk memegangi perutnya. Gadis itu melihat sasaran lunak ketika tubuh itu membungkuk, yaitu tengkuk yang telanjang, maka tangan kirinya cepat membacok ke arah tengkuk.


"Gedebug....!" tubuh pengemis gendut itu pun terjungkal ke tanah.


"Nona, kau memang keterlaluan, ini berarti menentang kami!" bentak pengemis gendut yang bangkit dari jatuh terjungkalnya.


"Kalian yang kurang ajar dan patut diberi pelajaran agar tidak mengganggu orang lain!" balas si nona cantik itu dengan membentak.


Sementara itu, Han Beng memandang dengan hati lega dan kagum. Ternyata nona itu pandai bermain silat. Gerakannya yang begitu cepat dan otomatis, juga pandai mengatur gerakan dengan menggunakan tenaga secara tepat sekali.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


...   ...

__ADS_1


__ADS_2