Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 119


__ADS_3

Tentu saja begitu melihat musuh besar ini, belasan orang itu pun segera mengepung dengan perahu mereka.


Diwajah mereka terbayang penuh kegeraman dan kebencian, dan mereka merasa gembira karena kini mengharapkan akan dapat membunuh musuh besar itu. kalau di daratan, beberapa kali usaha Bhok Ki gagal dan jatuh korban banyak diantara para murid Perguruan Harimau hitam itu.


Akan tetapi kini mereka berada di permukaan sungai, diatas perahu dan mereka mengharapkan musuh besar itu tidak akan mampu meloloskan diri pembalasan mereka.


Para tokoh dunia persilatan yang berada disitu tahu akan sikap orang-orang perguruan Harimau Hitam itu yang mengepung laki-laki muda yang tidak dikenal itu. mereka semua tertarik, merasa tegang dan maklum bahwa akan terjadi perkelahian yang menarik.


Maka, perahu-perahu segera minggir dan nonton dari jauh, sedangkan orang-orang yang berada di daratan, segera berkumpul di tepi sungai untuk menonton pertunjukan yang amat menarik bagi mereka itu. tidak ada pertunjukan yang lebih menarik daripada perkelahian bagi orang-orang dunia persilatan itu.


Bhok Ki tentu saja tahu bahwa perahunya dikepung oleh empat buah perahu orang-orang perguruan Harimau Hitam yang ternyata mereka sudah mencurigai penyamarannya, akan tetapi dia bersikap tenang saja, bahkan mendayung perahunya ke tengah, mendekati daerah pusaran maut.


Makin dekat daerah itu, airpun mulai beriak dan terdengar suara angin besar. Dia mendayung dan duduk ditengah perahu, kelihatan tenang seolah-olah tidak ada bahaya mengancam. Buntalan besar tetap berada diatas punggungnya.


Setelah empat buah perahu itu mengepung dalam jarak dekat, tiba-tiba Bhok Ki bangkit berdiri diatas perahunya, berdiri tegak dan dayung itu masih berada ditangannya.


Agaknya gerakan ini menjadi isyarat bagi enam belas anggota perguruan Harimau Hitam untuk bergerak menerjang setelah perahu mereka yang masih meluncur itu dekat benar dengan musuh. Akan tetapi, pada saat belasan orang itu melakukan gerakan menyerang dari empat penjuru, tiba-tiba tubuh Bhok Ki meloncat keatas meninggalkan perahunya dan dia melompati kepala orang-orang dalam perahu di depannya dan urun di sebelah belakang mereka.


Ternyata kedua kaki Bhok Ki telah dipasangi papan yang ditalikan dengan betisnya, dan ketika tubuhnya turun keatas air, tubuh itu tidak tenggelam melainkan berdiri diatas kedua lembar papan itu.


Hal ini tidak nampak oleh para anggota perguruan Harimau Hitam karena selain gerakan Bhok Ki amat cepat juga cuaca sudah mulai gelap.


Mereka terbelalak dan mulut mereka ternganga melihat betapa musuh besar itu dapat berjalan diatas air!


Akan tetapi, keheranan mereka berubah menjadi kekagetan dan kepanikan ketika tiba-tiba tubuh Bhok Ki melayang diatas permukaan air ke arah mereka, dan pendekar ini sudah mengayun dayung di tangannya, menyerang mereka!


Repotlah belasan orang itu ketika diserang secara tiba-tiba. Mereka tidak mengira Bhok Ki dapat "berjalan" diatas air dan serangan orang tinggi besar itu memang hebat sekali.

__ADS_1


Biarpun anggota perguruan Harimau Hitam mencoba untuk menangkis dengan pedang dan golok mereka, tetap saja mereka terpukul atau terdorong dari atas perahu mereka, jatuh terlempar kedalam air.


Karena sudah berada di daerah Pusaran air, maka tubuh mereka segera terseret oleh arus air yang dasyat.


Tubuh Bhok Ki terus melayang dari perahu ke perahu dan dalam waktu sebentar saja, tubuh enam belas orang itu telah terpelanting semua ke dalam air dan mereka terbawa arus air kearah pusat pusaran.


Enam belas orang itu mati-matian berenang untuk membebaskan diri dari arus, namun sia-sia belaka. Tubuh mereka terseret semakin cepat dan arus itu kuat sekali.


Mereka berteriak-teriak, menjerit dan melolong, namun sia-sia belaka karena arus itu lebih kuat. Bukan hanya tubuh enam belas orang itu yang hanyut oleh arus air pusaran, juga empat perahu mereka mulai terseret!


Setelah melihat betapa semua lawannya terseret arus, Bhok Ki meloncat kembali kedalam perahunya, menggunakan dayungnya dengan kekuatan sepenuhnya dan akhirnya dia berhasil membawa perahunya terbebas dari arus pusaran air dan menjauhkan diri dari tempat itu agar tidak menjadi pusat perhatian orang yang sejak tadi menonton dengan penuh kagum, bahkan mereka bertanya-tanya siapa adanya pemuda yang demikian lihainya.


Sukar dipercaya bahwa enam belas orang anggota perguruan Harimau Hitam yang terkenal gagah perkasa itu akan menemui maut sedemikian cepatnya ketika mengeroyok orang itu.


Sementara itu, kalau orang-orang dari dunia persilatan itu gembira nonton perkelahian tadi, Kian Si dan Hok Gi saling pandang dengan muka pucat. Tak mereka sangka bahwa di tempat itu akan terjadi perkelahian dan pembunuhan demikian banyaknya orang, tanpa seorangpun menolong mereka yang hanyut tadi.


Dua orang dari dusun yang masih berdebar-debar penuh ketegangan dari ketakutan itu, menuju ke sebuah kedai yang mulai memasang lampunya. Agak sunyi disitu karena sebagian besar orang masih berkumpul di tepi sungai.


Mereka tiba di depan kedai yang agaknya menjual makanan dan minuman itu, keduanya berhenti dan merasa ragu-ragu untuk masuk karena mereka melihat beberaapa orang berada di ruangan depan kedai itu.


Ada seorang wanita cantik duduk diatas bangku, mengipasi tubuhnya dengan sebuah kipas yang indah sekali. Wanita itu sukar ditaksir berapa usianya, mungkin sudah empat puluh tahun, akan tetapi mungkin pula baru tiga puluh tahun. Wajahnya cantik dan pesolek, pakaiannya indah pula, akan tetapi kecantikannya itu sama sekali tidak cerah, bahkan menyeramkan karena ada sikap yang dingin sekali, dingin dan angkuh.


Hal ini nampak dari pandangan matanya yang acuh, dan mulutya tersenyum mengejek atau memandang rendah itu.


Dan pada saat itu, ia agaknya memandang rendah kepada lima orang laki-laki yang berdiri mengelilinginya dan agaknya lima orang laki-laki yang usianya antara tiga puluh sampai empat puluh tahun ini memang hendak iseng atau menggodanya.


Lima orang laki-laki ini pun baru datang dari nonton perkelahian di sungai tadi.

__ADS_1


"Ah, kakak seperguruan kita ini datang bukan untuk nonton perkelahian," kata orang kedua.


"Habis, mau apa?" kata yang ketiga


"Agaknya hendak mencari anak naga Sakti Sungai Kuning!" kata yang ke empat nadanya mengejek.


"Kalau tidak ada naga sakti, kamipun merupakan lima ekor naga yang cukup dahsyat!" kata orang kelima dan mereka tertawa-tawa.


Wanita cantik itu memperlebar senyumnya, akan tetapi dari sepasang matanya muncul sinar mencorong bagaikan kilat menyambar.


"Kalian ini anak-anak kurang ajar pergilah. Sebelum mati konyol!" bentaknya.


Suaranya lirih saja, namun mengandung ancaman yang sebenarnya amat mengerikan. Akan tetapi, lima orang itu bukanlah orang-orang biasa.


Mereka memang berjuluk Lima naga Bukit Hijau yang memang sudah terkenal sebagai jagoan-jagoan yang berkepandaian tinggi.


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2