
Bukit itu sendiri sunyi, tidak di tempatau oleh manusia karena memang merupakan hutan belukar yang liar.
Begitu tiba di puncak Kim-hong-san, Hua Li dibantu oleh Kian Beng menebang pohon dan bambu, membuat pondok darurat untuk mereka. Setelah selesai keduanya kemudian duduk di atas bangku kayu buatan mereka sendiri.
"Kian Beng, kau sudah menceritakan semua riwayatmu dan sekarang kau adalah seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai orang tua dan keluarga lagi. Sudah bulatkah hatimu untuk berguru kepadaku?" tanya Hua Li yang penasaran.
Kian beng merupakan anak yang tabah, pada saat dia bersama gurunya itu mencari perahu orang tuanya di sekitar pusaran maut, dia hanya menemukan ayah ibu Hok Cu yang terluka. Dari keluarga Hok ini dia mendengar bahwa ayah ibunya tewas dalam keributan ketika orang-orang di dunia persilatan memperebutkan anak naga kemudian memperebutkan dia dan Hok Cu.
Sekarang dia seolah diingatkan oleh gurunya bahwa dia adalah anak yatim piatu yang tiada keluarga lagi, hatinya seperti di remas, akan tetapi dia tidak mau hanyut oleh kedukaan dan keharuan.
"Guru, murid sudah bertekad untuk menjadi murid guru, dan murid akan mentaati semua perintah dan petunjuk guru." jawab Kian Beng dengan patuh.
"Benarkah itu? kau berjanji akan memenuhi semua permintaanku sebagai syarat berguru kepadaku?" tanya Hua Li yang walaupun usianya dengan Kian Beng hanya terpaut tujuh tahun.
"Guru, bukan hanya berjanji, bahkan murid bersumpah untuk mentaati semua perintah guru dengan taruhan nyawa murid. Guru bukan hanya guru murid, akan tetapi juga guru penolong dan penyelamat nyawa murid." kata Kian Beng yang menatap wajah gurunya yang ternyata lebih cantik dari Hok Cu.
Ada perasaan suka pada gurunya yang menyerah tubuhnya, entah suka antara murid dan guru, entah suka sebagai seorang laki-laki pada seorang gadis.
"Bagus, kalau begitu dengar baik-baik pesanku. Kau akan belajar ilmu silat dariku selama lima tahun. Setelah lima tahun, kau akan kuserahkan kepada ketua Kwe Ong. Karena beliau yang melindungi kita, menyelamatkan kita dan memberikan kita kesempatan untuk terbebas dari kepungan mereka yang hendak merampasmu. Jadi bersedia-kah kau untuk menjadi murid Ketua Kwe Ong selama lima tahun, setelah kau menjadi muridku selama lima tahun pula?" jelas Hua Li dan juga tanya gadis itu pada Kian Beng.
"Murid sanggup guru!" jawab Kian Beng dengan menunduk dengan hormat.
"Sekarang yang kedua, dan mungkin ini akan terasa berat olehmu. Ketahuilah bahwa aku juga kehilangan keluargaku secara menyedihkan sekali, dan sampai selamanya aku tidak akan dapat melupakan sakit hati karena kehilangan keluarga itu....." kata Hua Li yang tak melanjutkan ucapannya.
Gadis itu mengalihkan pandangnnya, dan nampak kedua matanya yang berkaca-laca, kemudian guru Kian Beng itu menarik napasnya dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara pelan-pelan. Nampak rambutnya yang panjang tertiup angin yang membuat Kian Beng begitu terpesona akan kecantikan gurunya itu.
__ADS_1
"Ah....! Kenapa guruku ini begitu cantiknya? Rasanya aku ingin me...! Ah, mana boleh seorang murid menyukai gurunya?" gumam dalam hati Kian Beng yang sedang tak menentu itu.
"Sekarang dengar, Kian Beng. Sakit hatiku tak pernah dapat tertebus sampai saat ini. Yang jelas setiap ada kejahatan, harus segera aku tumpas!" seru Hua Li yang kemudian menatap ke arah Kian Beng.
"Degh...!"
Senyum itu membuat jantung Kian Beng seolah meloncat tak beraturan.
"Guru, apa-apa yang harus murid lakukan?" tanya Kian Beng dengan suara lirih dan jantung berdebar tegang.
"Tidak ada, hanya belajarlah dengan rajin. Pergi akanlah ilmu kamu untuk menolong orang-orang yang tertindas, dan membela bangsa dari kaum penjajah." jawab Hua Li seraya mengulas senyumnya.
Kian Beng tertegun, mukanya menjadi merah. Dia masih belum dewasa akan tetapi dia sudah dapat mengerti apa yang dimaksudkan gurunya dan dia merasa ngeri membayangkan tugasnya itu. akan tetapi, dia sudah berjanji, bahkan bersumpah untuk mentaati perintah gurunya.
"Bagaimana Kian Beng. Apakah kau sanggup?" tanya Hua Li sambil menatap tajam wajah muridnya yang menunduk.
"Kian Beng, muridku yang baik, ketahuilah bahwa itu merupakan satu-satunya harapanku dalam hidup ini. Aku akan mewariskan seluruh ilmu kepandaianku kepadamu, karena tak ada lagi orang yang aku percaya untuk membantu memerangi kejahatan di muka bumi ini." kata Hua Li.
Demikianlah, mulai hari itu, Kian Beng menerima gemblengan dari Hua Li. Anak ini memang telah memiliki tenaga dahsyat sebagai akibat minum darah ular itu, dan dengan bimbingan yang amat lihai dari Hua Li.
Akhirnya Kian Beng mampu menguasai tenaga dasyat itu dan mengendalikannya tenaga sakti yang terkandung dalam tubuhnya.
...****...
Pembuatan terusan besar yang menyambung dua sungai Kuning dan Yang-ce, makin lama semakin terasa berat bagi rakyat jelata. Karena pekerjaan besar itu membutuhkan tenaga manusia yang sebanyak-banyaknya dan juga membutuhkan biaya besar yang keluar dari kantung pemerintah, maka timbulah hal-hal yang meresahkan rakyat, mana ada banyak uang yang dipermainkan, tentu timbul kecurangan-kecurangan.
__ADS_1
Para pembesar yang mendapat tugas mencari tenaga baru dan membayar tenaga itu setelah melihat kesempatan lalu timbul kecurangan mereka dan banyak sekali uang yang sebetulnya diperuntukkan para tenaga pembuat terusan masuk ke kantung para pembesar.
Rakyat yang takut terhadap pemerint mudah digertak. Hanya sebagian saja upah yang menjadi hak mereka itu di terima oleh para pekerja. Upah ya sudah dikebiri oleh para pejabat, dan yang kecil sampai yang besar.
Pembesar yang kecil mencatut sedikit, yang besar mencatut semakin banyak dan rakyat pekerja hanya menerima sisanya saja. Bahkan banyak pula yang tidak dibayar seperti kerja rodi. Namun, mereka itu hanya dapat menangis dan mengelu tidak berani melawan.
Mula-mula, yang menjadi pekerja paksa tanpa dibayar adalah orang-orang hukuman yang dimanfaatkan tenaganya. Akan tetapi, melihat lubang ini, para pembesar dan pengurus pekerjaan besar itu lalu mempergunakan akal mereka yang busuk, memperlakukan rakyat seperti orang hukuman, memaksa rakyat bekerja tanpa dibayar, dan uangnya masuk ke dalam kantung mereka sendiri.
Ratapan rakyat ini tidak terdengar oleh pemerintah, akan tetapi terdengar oleh para pendekar. Dan pada waktu Itu, para pendekar adalah mereka yang memiliki ilmu silat tinggi dan watak yang bersih, jujur, adil dan pemberani. Dan pusat dari ilmu silat, sebagian besar terletak di dalam biara-biara dan tempat-tempat pertapaan.
Terutama sekali di perguruan Elang Sakti yang menjadi sumber para ahli silat tingkat tinggi. Seringkali para murid Elang Sakti yang sudah menjadi pendekar di luar perguruan, datang berkumpul untuk berunding dengan para tokoh perguruan Elang Sakti yang membicarakan tentang kesengsaraan rakyat yang timbul karena adanya pembuatan terusan yang mempergunakan tenaga ratusan ribu orang itu.
Sudah sejak lama terjadi semacam permusuhan antara para tokoh pendekar aliran putih dan pendekar kaliran hitam, ini terjadi karena adanya semacam persaingan dan iri hati.
Kalau kaisar pemerintah mendekati pendekar aliran putih, maka pihak para pendekar aliran hitam yang merasa iri hati sebaliknya mereka mendekati para pejabat-pejabat yang bisa diajak kerjasama.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...