Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 86


__ADS_3

"Ha...ha.....! anak nakal itu kiranya adikku misanku sendiri! Akan tetapi, di mana ia sekarang dan siapa orang yang kau sebut Adik Yauw itu kakak Ceng?" tanya Hua Li yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Begini, adik Hua. Aku dan Adik Hong meninggalkan Pulau Ular dan pergi ke pegunungan tengkorak untuk mencari harta karun seperti juga semua orang setelah mendengar bahwa harta karun itu dicuri orang yang mengaku tinggal di perguruan ular kobra." cerita Liu Ceng dan Hua Li dengan setia menyimaknya.


"Sebelum kami berangkat, anak buah Pulau Ular melaporkan bahwa ada seorang pemuda berperahu dikeroyok oleh banyak pasukan Mongol dalam empat buah perahu besar. Mendengar ini kami lalu pergi menolongnya. Dia terluka akan tetapi tidak parah dan setelah kami selamatkan dan kami bawa ke pulau dia menceritakan bahwa dia bernama Yauw Lie dan sejak kecil ayah ibunya telah meninggal dunia sejak Dia masih kecil." cerita Liu Ceng.


"Dia merantau sampai ke Himalaya dan mempelajari ilmu silat dari para pertapa di sana, kemudian dia belajar pula dari para Pendeta Lhama di Tibet. Ilmu silatnya hebat juga. Ketika mendengar bahwa aku dan adik Hong hendak mencari harta karun yang dicuri orang dan berada di perguruan ular kobra, dia ikut untuk membantu. Sikapnya baik dan sopan sekali, maka kami tidak keberatan dia menyertai kami." lanjut cerita Liu Ceng.


   


"Hemm, menarik sekali. Lalu bagaimana kakak Ceng?" tanya Hua Li yang penasaran.


"Kami bertiga mengunjungi perkumpulan pengemis tongkat merah dan perkumpulan itu ditantang para anggota tengkorak hitam. Karena mereka amat lihai, maka Yauw Lie lalu membantu perkumpulan pengemis tongkat merah, bersama ketua Kui menghadapi para murid perguruan tengkorak hitam. Para murid perguruan tengkorak hitam itu kalah dan melarikan diri, karena itulah adik Hong melakukan pengejaran" cerita Liu Ceng yang berhenti sejenak untuk mengambil napas panjang dan menghembuskan ya secara pelan-pelan.


"Hah, terus bagaimana kak?" tanya Hua Li yang dengan semangat menyimak cerita Liu Ceng.


"Karena khawatir jika adik Hong terkena jebakan para murid perguruan tengkorak hitam, maka Yauw Lie mengejarnya. Setelah menanti beberapa lama dan mereka belum kembali, aku lalu ikut mengejar. Akan tetapi aku tidak dapat menemukan mereka dan sampai sekarang aku berpisah dari mereka." jawab Liu Ceng yang mengakhiri ceritanya.


"Hm, kakak Hong memang terlalu gegabah sehingga terkadang kurang perhitungan dan hal ini dapat membahayakan dirinya sendiri. Aku akan ikut mencarinya!" seru Hua Li yang kemudian dicegah oleh Liu Ceng.


"Jangan khawatir, adik Hua! Aku yakin bahwa dengan adanya adik Yauw, ia akan selamat. Adik Yauw itu pendekar wanita yang mumpuni, dan selain dari itu mereka berdua kalau aku tidak salah kira, mereka berdua itu saling mencinta." balas Liu Ceng yang menatap langit-langit dan kemudian menatap Hua Li.

__ADS_1


"Hemm, begitukah? syukurlah kalau kakak Hong menemukan seorang gadis yang tepat untuk menjadi calon istrinya." kata Hua Li seraya menganggukkan kepalanya.


"Kalau kamu masih merasa khawatir, mari kita mencari mereka adik Hua. Paa saat itu adik Hong pergi mengejar keduabanggota perguruan tengkorak hitam yang melarikan diri, kukira mereka itu pasti kembali ke tempat tinggal mereka yaitu di sebelah Utara pegunungan ini. Sudah pasti adik Hong dan adik Yauw juga mengejar ke arah sana." saran Liu Ceng.


"Kakak Ceng, aku sangat senang sekali mendengar bahwa Liu Hong adalah kakak misanku sendiri. Dengan demikian aku harap ia tidak akan marah lagi kepadaku." kata Hua Li yang merasa tak enak hati kala dia pernah menolak ungkapan hati Liu Hong.


"Dia tidak marah adik Hua, bahkan adik Hong gembira sekali mendengar bahwa kamu adalah kakak misannya. Ia tidak marah kepadamu, kamu tidak bersalah apa-apa, adik Hua! Oh ya, kamu belum menceritakan tentang pengalamanmu sejak berpisah dari kami. Kemana saja engkau pergi, adik Hua?" kata Liu Ceng yang mengalihkan pembicaraan.


Wajah Cun Giok berubah muram dia tidak mampu memberi jawaban.


"Adik Hua maafkan aku kalau pertanyaanku tadi mengganggumu. Kalau engkau tidak ingin menceritakan, sudahlah, aku tarik kembali pertanyaanku tadi." kata Liu Ceng yang tak enak hati.


Hua Li menghela napas beberapa kali, menenangkan perasaannya baru menjawab.


 "Adik Hua, Kau bilang mereka tewas? kok bisa dan kau harus ceritakan padaku agar hatiku tidak merasa penasaran!" seru Liu Ceng yang memohon.


Dengan nada sedih, Hua Li menceritakan tentang terbasminya keluarga Siok Eng oleh putera Lim Bao yang bernama Lim Mao dan temannya yang bernama Kui Cie di Cin-yang. Mereka itu tewas gara-gara dua orang pemuda anak pejabat itu tergila-gila kepada Siok Eng dan Siok Hwa namun ditolak sehingga mereka lalu menggunakan paksaan, menculik dua orang wanita itu dan membunuh Siok Chen dan Siao Kung. Kemudian Siok Eng dan Siok Hwa itu pun tewas di tangan Lim Mao dan Kun Cie.


"Sungguh keterlaluan dua orang pemuda itu! Adik Hua, aku ikut merasa berduka dengan malapetaka yang menimpa keluarga kerabat kamu! Betapa malang nasibmu," kata Liu Ceng dan tiba-tiba ia teringat akan peristiwa yang ia alami di Cin-yang dahulu.


"Akan tetapi sekarang mereka takkan dapat melakukan kejahatan lagi, kakak Ceng." kata Hua Li yang menghela dapasnya memandang ke arah depan.

__ADS_1


 "Apakah kamu membunuh mereka, adik Hua?" tanya Liu Ceng dan Hua Li menggelengkan kepalanya.


 "Tidak, kakak Ceng. Aku telah banyak belajar darimu dan aku tidak mau membunuh orang yang tidak dapat melawan. Akan tetapi aku telah membuat mereka menjadi orang-orang yang tidak mungkin dapat melakukan kekejaman mengganggu orang lagi." jawab Hua Li dengan mengulas senyum tipisnya dan memandang kepadanya,


Sebenarnya sebelum bertemu dengan Hua Li, Liu Ceng memang beberapa kali bertemu dengan Siok Eng. Dan diantara mereka terjalin persahabat yang sangat erat.


Namun Liu Ceng menyembunyikan hal itu pada Hua Li, karena tak mau gadis pujaannya itu punya perasaan lain padanya setelah mendengar kisahnya dengan Siok Eng.


 "Adik Hua, sudahlah yang terpenting para penjahat itu telah kamu beri pelajaran. Dan kerabat kamu sudah tenang dialam sana. Yang terpenting sekarang kita tak lupa mendoakan keluaga Siok dan kita terus melangkah ke masa depan." kata Liu Ceng lirih tapi bisa didengar oleh Hua Li.


Gadis itu kembali menghela napasnya panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2