Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 123


__ADS_3

Hal ini membuat mereka agak lambat mendekati Kian Beng dan hi Cu yang bergulat dengan ular yang oleh para tokoh disebut anak naga itu.


Kian Beng terus menggigit leher ular dan menghisap darah ular sekuatnya. Demikian pula Hok Cu yang juga menghisap darah ular yang dirasakan manis dan amis itu. akan tetapi karena anak perempuan itu menggigit bagian ekor "Anak Naga" itu, darahnya dihisapnya tidaklah sebanyak yang dihisap oleh Kian Beng.


Kian beng yang tadinya merasa pundaknya yang digigit itu amat nyeri dan panas, bahkan tubuhnya seperti ditusuki ribuan jarum di dalam, kini merasa betapa ada hawa panas yang berputaran di seluruh tubuhnya dan rasa nyeri di pundak itu pun seketika lenyap.


Kini terganti oleh hawa panas yang seolah-olah membakar tubuhnya didalam. Karena siksaan hawa panas itu di menjadi nekat dan menggigit semakin kuat. Gigitan ular pada pundaknya terlepas dan ular itu menjadi lemas gerakannya tidak sekuat tadi.


Pada saat itu, sebuah perahu sudah datang paling dekat dan seorang kakek yang berperawakan gendut itu dengan muka selalu berseri, mulut yang selalu menyeringai, telah menggerakkan tangannya dan di lain saat, kakek itu telah menyambar tengkuk Kian Beng dan ditariknya anak itu naik ketas perahunya.


Kian beng yang sudah berkunang matanya, pening kepalanya dan hawa panas seperti membakar seluruh isi perut dan kepala, seperti tidak sadar bahwa ia diangkat orang naik ke perahu.


Dia masih terus menggigit leher ular dan menghisap daraahnya, dan ketika dia ditarik ketas perahu, ular itu pun ikut pula tertarik.


Dan di ujung ular itu, Hok Cu yang menggigit ekor dan menghisap darah, ikut pula tertarik. Anak perempuan ini pun mulai merasa pening dan tubuhnya terasa panas seperti dibakar.


Biarpun ia tidak sehebat Kian Beng terasa oleh hawa panas karena darah ular yang dihisapnya tidak sebanyak yang dihisap Kian Beng, namun ternyata hawa panas dalam tubuhnya hampir tak tertahankan dan anak perempuan ini pun dalam keadaan tidak begitu sadar ketika tubuhnya tertarik ke atas perahu oleh seorang kakek yang berperawakan gendut itu.


"Ha....ha..,! anak naga terdapat olehku!" seru kakek gendut dan botak itu dengan terkekeh.


"Wah, celaka! Anak naga ini hampir mati, darahnya hampir habis! Wah, kiranya kau hisap darahnya, anak setan!" lanjut seru seorang Kakek gendut berkepala botak itu yang merupakan seorang tokoh dunia persilatan yang kenamaan bernama Ci Kai.


Ci Kai juga merupakan seorang bajak sungai yang terkenal lihai sekali dan ditakuti banyak orang. Biarpun mukanya selalu berseri dan mulutnya selalu menyeringai lebar, nampaknya seperti orang yang selalu riang dan ramah, namanya sesungguhnya dia memiliki watak yang amat kejam dan berdarah dingin.


Dia dapat membunuh atau menyiksa orang sambil tertawa-tawa, dan melihat penderitaan orang lain seperti sebuah hal yang amat menggembirakan dan lucu.


Ci Kiat marah sekali melihat bahwa "Anak Ular" itu sudah hampir habis darahnya, dihisap oleh anak laki-laki dan anak perempuan itu, akan tetapi sebelum dia menentukan apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba nampak bayangan hitam meluncur datang.

__ADS_1


Tiba-tiba datang sebuah perahu yang didayung oleh seorang gadis yang membawa sebuah kecapi. Dialah Hua Li si pendekar kecapi.


"Bajak Hina Ci Kai! berikan anak naga itu kepadaku!" seru Hua Li yang kemudian meloncat keatas perahu bajak itu.


Ci Kai sudah mengenal pendekar dihadapannya itu, maka dia melepaskan ular yang sudah lemas dan masih digigit oleh Kian Beng dan Hok Cu, lalu menyambut tubuh Hua Li dengan hantaman dayungnya yang terbuat dari pada baja.


Dihantamkan sekuat tenaga kearah kepala orang yang melompat ke perahu itu.


"Dukkk....!"


Hua Li menangkis dengan lengannya dank arena tubuhnya masih berada di udara, pertemuan tenaga itu membuat tubuhnya melayang kembali ke atas perahunya sendiri, sedangkan Ci Kai terjengkang di dalam perahunya karena hebatnya benturan lengan Hua Li ketika menangkis dayungnya.


Dari kenyataan ini saja dapat diketahui bahwa dalam hal tenaga dalam bajak ini bukanlah lawan Hua Li yang lihai.


"Hayo, lepaskan anak naga ini!" bentak Ci Kai dan dia menendang tubuh Hok Cu. Anak perempuan yang sudah merasa pening ini terkena tendangan, gigitannya pada ekor ular terlepas dan ia pun terjatuh ke dalam air.


Pendekar kecapi ini segera menangkap "anak naga" itu dan tanpa ragu-ragu lagi, dia lalu menggigit kepala naga sampai pecah, dan didalam kepala itu terdapat sebuah benda kuning, seperti kuning telur.


Dengan cepat benda ini dimasukkan ke dalam mulut dan ditelannya.


Tiba-tiba wajah Hua Li menjadi pucat, kerut merut dan dia menggigit bibirnya. Terasa betapa perutnya seperti diremas-remas dari dalam, nyeri bukan main dan akhirnya, gadis itu roboh pingsan di dalam perahunya.


Sementara itu, Kian beng sudah meloncat ke dalam air untuk menolong Hok Cu kalau-kalau anak perempuan itu terancam bahaya. Namun, dia merasa lega pada saat melihat Hok Cu berenang dan dalam keadaan selamat.


"Hok Cu...!" panggil Kian Beng dengan berseru.


"Mari kita kembali ke perahu kita." ajak Kian Beng saat menghampiri tubuh Hok Cu.

__ADS_1


"Kian Beng, aku... aku merasa pening sekali...!" seru anak perempuan itu yang terengah-engah.


Kian beng juga merasa pening sekali, dan tubuhnya seperti sebuah balon yang penuh dengan hawa panas, seperti akan meledak setiap saat. Namun dia tidak mau mengatakan hal ini, melainkan menangkap lengan Hok Cu dan menariknya.


"Hayo kita cari perahu kita...!" seru Kian Beng.


Akan tetapi, biarpun bulan purnama menerangi permukaan air, tetap saja sukar untuk mencari perahu keluarga mereka diantara banyak perahu berseliweran itu.


"Ha...ha ..! kau hendak pergi ke mana." Tiba-tiba ada suara terdengar di dekat mereka. Kiranya kakek gendut berkepala bulat tadi sudah berada di dekat mereka sambil menyeringai.


"Anak naga tidak dapat, akan tetapi darah naga bisa kuperoleh dari tubuh kalian. Ha...ha ...ha...! Mari ikut dengan aku, anak-anak manis!" bujuk Ci Kai.


Setelah melihat anak naga itu tadi terjatuh ke tangan Hua Li, Ci Kai merasa kesal dan kecewa. Namun, dia teringat kalau dua orang anak itu telah menghisap darah anak naga sampai hampir habis.


Dengan demikian, darah kedua orang anak itu amat bermanfaat, mengandung darah naga.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2