
Ini merupakan pengalaman baru bagi Han Beng yang membuat wajahnya agak kemerahan. Dia biasanya diterima dengan pandang mata iba atau cemooh, akan tetapi baru sekali orang menghadapinya sebagai bukan gembel, sebagai seorang pembeli biasa.
Menghadapi pengalaman baru ini, Han Beng agak tertegun dan betapa dia mengharapkan saat itu ada uang cukup di sakunya agar dia dapat benar-benar membeli obat yang di butuhkan.
Apalagi pandang mata gadis itu demikian penuh kepercayaan, sedikit pun tidak ada bayangan mengejek atau menghina dalam pandang mata itu.
"Saya memang membutuhkan obat, Nona. Guru saya sakit, terserang demam dan batuk, sudah dua minggu lamanya." kata Han Beng.
"Demam dan batuk? Ah, tentu saja ada obat untuk itu! Gurumu itu, berapakah usia beliau?" tanya nona itu yang memandang ke arah Han Beng dengan penasaran.
"Sekitar enam puluh lima tahun, Nona." jawab Han Beng yang apa adanya.
"Baiklah! kalau begitu kau tunggu sebentar, biar pegawai saya yang ambilkan obatnya." kata nona pemilik toko obat itu yang kemudian menyuruh pegawainya.
"Paman Ji, tolong berikan obat untuk penyakit demam panas dan batuk yang biasa diderita orang tua!" pinta Nona itu.
"Oya, berapa bungkuskah yang nona kehendaki?" tanya pegawai yang dipanggil paman Ji oleh nona pemilik toko obat.
"Tiga bungkus paman." jawab nona itu dan tak berapa lama paman Ji itu datang menghampiri nona pemilik toko obat dan menyerahkan obat yang diminta oleh nona majikannya.
"Sebungkus untuk sekali masak dan diulang sampai dua kali,' Air dua mangkok tinggalkan setengah mangkok. Minum secukupnya sampai sembuh ya tuan." jelas nona pemilik toko obat itu dan Han Beng memperhatikannya dengan seksama.
"Apakah dengan tiga bungkus ini sudah bisa mengatasi sakit yang di derita oleh guru saya nona?' tanya Han Beng yang masih penasaran.
"Saya kira tiga bungkus pun sudah cukup." jawab Nona itu seraya menyerahkan tiga bungkus ramuan obat demam dan batuk yang telah dia kemas dengan baik kepada Han Beng.
"Maafkan saya, Nona. Saya memang membutuhkan obat untuk guruku yang sakit, akan tetapi... saya... Maksud saya... , hendak mohon bantuan Nona
untuk memberikan obat kepada saya secara percuma. Karena saya tidak mempunyai uang untuk membelinya." kata Han Beng dengan gugup menjelaskannya.
Gadis itu nampak tercengang. Kiranya benar juga dua orang pembantun tadi. Pemuda itu mengemis. Sungguh luar biasa. Sama sekali tidak pantas menjadi pengemis.
__ADS_1
"Nah...nahhh...! betul tidak dugaan kami, Nona? Dia tentu hanya datang untuk mengemis!" seru paman Ji.
"Sungguh tidak tahu malu, masih muda dan kuat lagi, dan bukan anggota Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah. Pergilah kau dari sini!" seru pegawai yang satunya dengan geram.
"Sssttt, Paman Ji! Diam kau, biar aku yang mengurus persoalan ini!" bentak gadis itu yang kemudian ia menghadap Han Beng.
"Saudara, tahukah gurumu bahwa kau pergi mencarikan obat untuknya dengan jalan minta-minta?" tanya Nona itu dengan suara halus.
"Tentu saja dia mengetahuinya." jawab Han Beng.
Gadis itu membelalakkan matanya yang indah.
"Dan dia tidak melarang muridnya melakukan hal yang merendahkan namanya itu?" tanya nona itu sekali lagi.
Han Beng tersenyum dan membayangkan betapa gurunya yang akan tertawa terpingkal-pingkal mendengar ini.
"Guruku sendiri juga suka mengemis mengapa dia harus melarang saya, nona?" tanya Han Beng.
Gadis itu menoleh dan melotot pada pembantunya, akan tetapi Han Beng yang sudah terbiasa dengan kata-kata seperti itu.
"Benar sekali memang guruku seorang pengemis dan yang diajarkan kepadaku adalah ilmu mengemis. Nona, maukah Nona menolongku, ataukah tidak? Kalau tidak saya akan mngemis ke toko lain." kata Han Beng yang bersiap hendak pergi.
"Ah, boleh, boleh...! tentu saja akan kuberi, bukankah sudah dibungkuskan obat itu?" kata gadis itu lalu diserahkannya tiga bungkus ramuan obat itu kepada Han Beng, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.
"Tidak boleh! Tidak boleh memberi apa pun juga kepada pengemis busuk yang lancang ini!"
Dan semua orang menoleh, ternyata telah muncul tiga orang laki-laki usia empat puluh tahun yang melarang orang memberi bantuan pada Han Beng.
Lucunya yang memaki Han Beng sebagai seorang pengemis busuk itu ternyata juga orang berpakaian pengemis pula seperti juga Han Beng. Tiga orang pendatang ini mengenakan pakaian tambal-tambalan, akan tetapi kainnya masih baru, agaknya memang sengaja dibuat tambal-tambalan dari kain-kain berwarna-warni dan berkembang.
Di pinggang mereka terdapat sabuk merah. Ini menandakan bahwa mereka adalah tiga orang anggota Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah yang amat terkenal di kota raja. Seluruh pengemis kota raja adalah anggota perkumpulan pengemis sabuk merah dan mereka semua mengenal sabuk merah sebagai tanda bahwa mereka adalah anggota perkumpulan itu.
__ADS_1
Perkumpulan Pengemis Sabuk Merah itu menganggap kalau merekalah yang berhak menguasai seluruh kota raja dan daerahnya, dan setiap orang pengemis bukan anggota, baik dari dalam maupun luar kota. Mereka tidak diperbolehkan mengemis di kota raja daerahnya tanpa seijin mereka.
Mereka setiap hari mengadakan perondaan untuk menertibkan para anggotanya, dan kini mereka muncul depan toko obat. Mereka yang melarang pemilik toko obat memberi sedekah kepada Han Beng adalah tiga orang tukang pukul perkumpulan pengemis sabuk merah.
Perkumpulan ini memang berpengaruh sekali dan ditakuti orang, mereka bukan saja menghimpun para penjahat untuk bergabung dan menjadi tukang-tukang pukul, akan tetapi bahkan mereka sanggup mendekati para pembesar dan dengan jalan memberi suapan-suapan besar-besaran perkumpulan ini menjadi "sahabat" para pembesar tinggi.
Orang tentu akan merasa heran bagaimana perkumpulan pengemis mampu menyewa tukang-tukang pukul bahkan menyuap para pembesar. Hasil mereka itu besar bukan main karena setiap orang anggauta diwajibkan untuk menyerahkan sepuluh prosen dari hasil mereka mengemis kepada perkumpulan itu.
Perkumpulan ini, dari ribuan bahkan puluhan ribu pengemis di kota raja dan daerahnya, tentu saja merupakan harta yang amat besar jumlahnya. Dan perkumpulan itu pun dipimpin oleh orang-orang yang pandai, bahkan kabarnya yang duduk paling atas adalah seorang raja pengemis yang sakti.
Han Beng yang sudah kegirangan mendapatkan obat yang dibutuhkannya, ketika siap menerima tiga bungkuk obat itu dengan pandang mata bersukur, tentu saja mendongkol juga melihat sikap tiga orang ini.
Mereka itu pun pengemis-pengemis, seperti dia, bagaimana kini mengganggu sesama pengemis. Belum pernah dia menjumpai kekurangajaran seperti itu.
"Kawan-kawan," kata Han Beng dengan tenang namun tegas.
"Kenapa kalian datang-datang melarang orang memberi pertolongan kepadaku dan kenapa pula kalian memaki aku?" tanya Han Beng yang penasaran.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1