
Misalnya saja Han Beng hanya mempelajar ilmu silat dari Hua Li saja, belum tentu dia akan mampu menandingi Hong Lan yang amat lihai itu. Akan tetapi, Han Beng telah digembleng oleh Kwe Ong, seorang kakek yang sakti, oleh karena itulah tingkat kepandaiannya masih jauh lebih tinggi dibandingkan Hong Lan.
Hong Lan merasa marah sekali ketika punggungnya kena hantam suling. Dia membalik dan pedangnya menusuk ke arah perut lawan sedangkan tangan kirinya menyusulkan tamparan atau dorongan ke arah kepala, namun, dengan mudah Han Beng mengelak dengan menggeser kaki ke kiri, kemudian sulingnya membuat gerakan melingkar dan tubuhnya meliuk aneh, tahu-tahu ujung suling sudah ******* pinggul kiri lawan.
"Dukkk!"
Hong Lan nyaris saja terpelanting karena kaki kirinya terasa lumpuh, akan tetapi dia masih mampu melompat dan memutar tubuhnya, turun ke tanah dengan kaki kanan sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk memulihkan kaki kiri yang terasa lumpuh.
Dia kini merasa kaget bukan main, juga amat marah. Kemarahan yang membuat dia menjadi nekat karena dia maklum bahwa lawannya sungguh amat lihai. Diputarnya pedangnya sehingga nampak sinar bergulun-gulung dan dia pun menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan jurus-jurus maut dan tidak begitu mempedulikan segala pertahanan. Ini serangan orang yang sudah nekat dan hendak mengadu nyawa.
Baginya hanya menang atau kalah, karena maklum bahwa tingkat kepandaiannya masih kalah oleh lawan.
Menghadapi orang yang sudah nek seperti itu, Han Beng harus berhati-hati sekali. Orang yang nekat amat berbahaya karena semua daya kekuatannya ditujukan untuk menyerang. Han Beng mengerahkan tenaga dalamnya dan memutar tongkatnya atau sulingnya menyambut sinar pedang.
Begitu pedang bertemu tongkat pedang itu ikut terputar karena tenaga sin-kang Hong San kalah kuat, makin lama semakin cepat berputar dan akhirnya, begitu Han Beng mengeluarkan bentakan nyaring, pedang itu terlepas dari tangan Hong Lan dan terlempar jauh.
Hong Lan terkejut sekali, akan tetapi dia masih nekat, dan menerjang dengan pukulan tangan kosong, memainkan ilmu silat yang dahsyat.
Sementara itu Han Beng menggerakkan suling itu dan tanpa dapat dihindarkan lagi oleh Hong San, ketika tangan kirinya mencengkeram ke arah lawan, ujung suling telah mendahuluinya, menotok pergelangan tangan itu sehingga tangan kirinya lumpuh seketika.
"Aaaghh.....!"
Hong Lan mengerang kesakitan, tapi beberapa detik kemudian dia membentak dan tangan kanannya membuat gerakan berputar, lalu menghantam kedepan. bahwa pukulan yang dahsyat sekali, di dahului oleh uap hitam, menyambar ke arah Han Beng.
Pukulan yang amat ampuh dan jahat, karena itulah jarang ada lawan yang kuat menahan pukulan yang mengandung tenaga dalam yang mengandung kekuatan sihir ini, bahkan uap hitam itu saja sudah cukup membuat orang pingsan karena mengandung racun.
Han Beng mengenal pukulan dahsyat, maka dia pun mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga sakti yang dilatihnya dari guru ketiganya.
"Desss ..........!"
__ADS_1
Dua tenaga sakti yang ampuh bertemu melalui telapak tangan itu dan tubuh Hong Lan terpental ke belakang lalu terbanting roboh. Dia pingsan seketika sedangkan Han Beng terhuyun-huyun namun dia mampu menguasai dirinya.
Sementara itu, Hok Cu sudah mendesak Mo Li dengan pedang tumpulnya. Kipas di tangan kiri iblis betina itu sudah tidak nampak lagi karena sudah patah-patah bertemu dengan pedang tumpul dan kini Mo Li dengan matian-matian melawan dengan pedangnya.
Wakil ketua aliran bumi dan Langit itu telah mengerahkan semua ilmunya, Namun satu demi satu dapat dilawan oleh Hok Cu, bahkan kini gadis itu mulai mendesaknya dengan hebat.
"Plak....! Ini untuk Ayah!" seru Hok Cu dengan tangan kirinya menampar ke arah pipi kanan Mo Li.
"Auw...!"
Wanita ini menjerit lirih dan terhuyung, akan tetapi tamparan itu memang diberikan untuk menghajar, bukan untuk membunuh, maka pipi yang kena tampar itu hanya matang biru dan membengkak, akan tetapi tamparan itu tidak merobohkan.
Dengan kemarahan meluap yang membuat ia menjadi nekat, Mo Li memutar pedangnya sehingga nampak gulungan sinar merah dari pedangnya yang menyerang dengan ganas.
Saat ini Hok Cu sudah menguasai keadaan dan memang tingkat kepandaianya masih jauh lebih tinggi kalau dibandingkan bekas gurunya itu, maka dengan mudah saja gagang pedang tumpulnya membuat sinar merah itu tiba-tiba saja kehilangan daya ampuhnya.
"Sekarang bersiaplah untuk menghadap Ayah dan Ibu!" teriak Hok Cu, akan tetapi pada saat itu, Han Beng melompat ke depan dan sabuk sutera putihnya nyarnbar ke arah pedang yang sudah meluncur menyerang Mo Li.
"Hok Cu, tahan......!" seru Han Beng yang ujung sabuknya melibat pedang gadis itu menahan gerakannya.
"Ihhh, kau ini kenapa, Han Beng? Kenapa menghalangiku membunuh iblis betina pembunuh Ayah dan Ibuku ini!" seru Hok Cu dengan rasa kecewa.
"Maaf, Hok Cu. Ingatlah bahwa ia pernah baik kepadamu dan puterinya adalah isteri dari Kakak angkatku!" seru Han Beng yang saat melihat gadis itu hendak membunuh Mo Li, Han Beng teringat akan Coa Siang dan Cu Ming puteri Mo Li yang membuatnya menjadi tidak tega dan mencegah Hok Cu yang akan membunuh iblis betina yang sudah tidak berdaya itu.
Ketika Hok Cu hendak membantah tiba-tiba terdengar suara ketawa berwibawa dan mengejutkan hati Hok Cu.
"Ha...ha...ha....! Amitabha.....! la jahat karena membunuh Ayah Ibumu, Hok Cu! Kalau sekarang kau membunuhnya apa bedanya antara ia dan kau? sama-sama pembunuh yang jahat!" seru Biksu Hek Bin.
Pada saat itu, Hok Cu tertegun dan dia memutar tubuh dan menghadap ke arah biksu Hek Bin..
__ADS_1
"Guru....!" serunya dengan dengan kedua matanya yang basah.
"Haiiiiittttt ........!"
Ketika mendapatkan kesempatan baik ini, Mo Li menubruk dan menyerang Hok Cu dari arah belakang.
Kedua tangannya dengan bentuk cakar mencengkeram ke arah kepala dan punggung Hok Cu. Serangan maut, karena semua kuku jari tangannya itu mengandung racun yang mematikan.
"Desssss ............!"
Han Beng yang cukup waspada, menyambut serangan itu dari samping dengan tamparan tangannya yang mengenai pundak iblis betina itu. Seketika itu juga Mo Li terpelanting dan roboh tak sadarkan diri.
Empat orang pengawal cepat maju dan membelenggunya lalu membawanya keluar dari ruangan itu.
"Biksu Hek Bin sungguh telah memperoleh kemajuan, dapat mencegah pembunuhan. Memang, menyadarkan penjahat adalah perbuatan mulia, membunuh orang jahat adalah perbuatan kejam! Hanya Tuhan yang berkuasa menentuk mati hidupnya setiap orang manusia." kata Kwe Ong.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih ...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1