
"Kakak Bun! kau datang!" seru Hua Li dan kini semangatnya bangkit kembali.
Mereka berdua lalu menggerakkan pedang dengan dahsyat sehingga permainan pedang lawan menjadi kacau. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pedang di tangan Hua Li sudah merobohkan dua orang pengeroyok dan pedang Chen Bun telah merobohkan seorang lagi.
Melihat dalam waktu singkat kawan mereka roboh dan tewas, tiga orang yang lain menjadi jerih dan mereka berlompatan melarikan diri. Chen Bun melompat dan mengejar Pangeran Leng Song yang hendak lari ke dalam gedung. Dia dapat mencengkeram lengan pangeran yang tampan itu.
"Kakak Bun, jangan bunuh dia!" seru Hua Li dan Yan Bun melepaskan lengan pemuda itu dan memandang kepada Hua Li dengan heran.
"Bukankah dia majikan mereka?" tanya Chen Bun. Akan tetapi Hua Li tidak menjawab, hanya melompat ke depan Pangeran Leng Song dan menatap wajah pangeran itu.
Pangeran yang tampan itu menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil ketakutan, sedangkan Hua Li memandang dengan kedua mata penuh air mata dan ia menggigit bibir sendiri menahan tangis. Setelah memandang lama sekali, ia lalu membalikkan tubuh dan meloncat ke atas genteng.
"Kakak Bun, ayo kita pergi!" seru Hua Li dengan terisak.
Chen Bun segera melompat dan mengikuti gadis itu dengan hati menduga-duga.
Beberapa saat kemudian, Hua Li dan Chen Bun berdiri di atas air Sungai Kuning. Mereka seakan-akan berdiri di atas air, padahal sebenarnya mereka menginjak sepasang papan terompah air.
Hua Li pada saat ini mengenakan pakaian serba putih seperti pakaian berkabung. Biarpun ia sudah bertemu dengan ayah kandungnya, namun ia masih menganggap dirinya yatim piatu sehingga ia akan berkabung selama hidupnya.
Chen Bun mengenakan pakaian serba biru, warna kesukaannya sejak dulu. Wajah Hua Li yang cantik jelita itu muram, diliputi kesedihan. Memang hati gadis itu mengalami kenyataan yang menyedihkan.
Pertama ia sudah menemukan ayah kandungnya, akan tetapi ayah kandung macam apa! Ayah kandungnya adalah seorang pangeran, namun seorang laki-laki yang menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya diusir dan hanyut di Sungai Kuning bersamanya dulu.
Dan kini ayah kandungnya itu malah menjadi gila! Pukulan batin ini ditambah pukulan lain yang lebih menyakitkan hatinya. Ia jatuh cinta kepada Pangeran Leng Song yang ternyata merupakan laki-laki yang sama palsunya dengan Pangeran Leng Hui, ayah kandungnya yang telah menyia-nyiakan ibunya.
__ADS_1
Pangeran Leng Song yang dicintanya itu pun ternyata hanya ingin memanfaatkan dirinya, untuk dijadikan seorang selir yang tenaganya dapat membantunya untuk bersaing dan saling berebut kekuasaan dengan para pangeran lain, yang tak lain saudara tirinya.
Gadis itu merasa terhina sekali dan terjadi pertentangan hebat dalam hatinya antara cinta dan benci terhadap Pangeran Leng song.
Dalam usianya yang delapan belas tahun ini, baru pertama kalinya ia jatuh cinta, yaitu kepada Pangeran Leng song, namun ternyata ia telah salah pilih dan kegagalan cintanya ini sungguh menyakitkan sekali.
"Li'er, benar-benarkah engkau akan meninggalkan aku dan tidak akan kembali?" tanya Chen Bun dengan alis berkerut membayangkan kekecewaan dan kedukaan atas keputusan gadis yang dicintanya itu.
Mendengar hal itu, Hua Li menganggukkan kepalanya perlahan.
"Benar, kakak Bun. Aku titip ayah angkat, aku akan merantau sepanjang Sungai Kuning." ucap Hua Li yang menatap wajah Chen Bun yang sangat terkejut saat mendengar ucapan Hua Li itu.
"Le'er, maafkan kalau aku bicara lancang, akan tetapi... sesungguhnya... aku dan Ayahku mengharapkan agar engkau... dapat menjadi... kawan hidupku untuk selamanya." ucap Chen Bun dan Hua Li yang memandang wajah pemuda itu menjadi terharu.
Dalam hatinya ia harus mengakui bahwa Chen Bun adalah seorang pemuda yang baik sekali. Sulitlah mencari seorang pemuda sebaik dia. Akan tetapi luka di hatinya karena kegagalan cinta pertama masih terasa nyeri dan ia tidak ingin mengulang kesalahannya telah jatuh cinta kepada seorang pemuda kepada seorang laki-laki setelah melihat betapa palsunya cinta laki-laki seperti cinta ayah kandungnya terhadap ibunya dan cinta Pangeran Leng Song terhadap dirinya.
"Ah, jangan merendahkan diri seperti itu, Li'er. Kata-katamu menikam perasaanku. Bagiku, engkau adalah seorang gadis yang paling mulia di dunia ini. Dan engkau tentu mengetahui dan merasakan bahwa aku... aku mencintamu, Li'er." ucap Chen Bun yang berusaha meyakinkan gadis dihadapannya itu.
"Ah, kakak Bun. Harapanku, agar engkau jangan berpikir tentang itu karena aku... aku sama sekali belum berpikir tentang cinta dan jodoh, Kakak Bun. Maafkan aku." balas Hua Li.
"Li'er, harap engkau suka berterus terang. Apakah engkau... mencinta pangeran muda itu? Katakanlah terus terang, aku akan dapat memaklumi dan tidak menyalahkanmu!" seru Chen Bun yang penasaran dan berusaha menebaknya..
Hua Li pun menganggukkan kepalanya lagi dengan pelan. Wajah pemuda itu berubah agak pucat ketika tebakannya benar.
"Maaf li'er, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu," lanjut ucap Hua Li dengan tersenyum getir, menghela napasnya.
__ADS_1
"Memang benar, kakak Bun. Aku cinta padanya, akan tetapi aku juga benci padanya!" jawab Hua li.
"Nah, selamat tinggal, kakak Bun! Jika ada jodoh bisa kita ketemu lagi." ucap Hua Li yang memandang Chen Bun untuk terakhir kalinya.
"Jaga dirimu baik-baik Li'er!" seru Chen Bun yang menatap Hua Li dalam-dalam.
Hua Li menganggukkan kepalanya dan kemudian menggerakkan tubuhnya dan papan terompah yang menjadi semacam papan selancar itu meluncur dengan cepatnya, mengikuti aliran Sungai Kuning dan sebentar saja sudah jauh dan hanya tampak seperti sebuah titik putih.
Chen Bun berdiri memandang ke diarah titik putih itu sampai akhirnya titik itu menghilang. Ketika dia membalikkan tubuhnya untuk kembali ke perkampungan ayahnya, kedua mata pemuda itu basah dan mukanya pucat.
"Selamat jalan Li'er, aku sangat berharap kita dapat berjumpa lagi!" gumam dalam hati Chen Bun yang kemudian dia melompat naik ke biduk kecilnya dan mulai mendayung menyusuri sepanjang aliran sungai kuning, menuju ke perkampungan Bambu kuning.
Sementara itu Hua Li terus mendayung ke arah berlawanan dengan Chen Bun, dengan tujuan sejauh mungkin menjauhi tempat yang menjadi kenangan terburuknya.
Tanpa terasa biduk yang membawa Hua Li itu melaju sampai ke negara bagian lain yang sangat jauh dari kerajaan Manchu, apalagi perkampungan Bambu Kuning.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...