Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 100


__ADS_3

Yauw Lie itu tersenyum, menyentuh lengan Li Hong dan mengangguk. Kemudian dia menoleh ke arah Beng Ong, Si Mayat Betina dan Kong Sek yang agaknya sudah siap dengan senjata masing-masing.


"Aku perintahkan kalian jangan menyerang siapapun juga sebelum aku memberi perintah!" seru Yauw Lie dengan lantang.


Kakek dan nenek itu terpaksa menaati, mereka mengangguk dan bahkan melangkah ke belakang. Biarpun dengan bersungut-sungut karena dia tidak diberi kesempatan menyerang musuh besarnya, yaitu Hua Li, Kong Sek terpaksa mundur pula mengikuti kakek dan nenek iblis itu.


Setelah itu Yaow Lie kembali menghadapi Liu Ceng, Hua Lie dan para tokoh persilatan yang mendukung mereka.


"Para Pendekar Sekalian! Sesungguhnya yang langsung berurusan tentang harta karun adalah saudara Ceng dan kami. Saudara Ceng sebagai pewaris dari ayahnya panglian Liu Bok, dan akan melaksanakan pesan ayahnya." kata Yauw lie seraya melihat satu persatu orang di hadapannya.


"Sementara kami sebagai wakil kerajaan yang bertindak atas nama yang mulia Kaisar. Ketahuilah bahwa kami sama sekali tidak berniat untuk bermusuhan dengan saudara Ceng dan para pendekar dan tokoh persilatan yan lainnya. Kami harap Anda Sekalian juga tidak mengambil sikap bermusuhan dengan kami. Sama sekali bukan berarti bahwa kami merasa takut. Kami tidak takut, akan tetapi kalau sampai di antara kita terjadi bentrokan dan pertempuran, lalu kami tewas, akibatnya akan hebat. Kami adalah wakil pemerintah yang mendapat hak dari yang mulia Kaisar, maka kalau sampai kami tewas di tangan kalian, tentu kalian dianggap pemberontak dan pemerintah akan mengerahkan bala tentara untuk membasmi kalian! Ini bukan gertakan belaka, melainkan peringatan agar hal itu tidak sampai terjadi." jelas Yauw Lie dan Hua Li menyadari akan hal itu.


"Sekarang begini saja. Karena kedua pihak memiliki alasan masing-masing yang kuat, maka pertentangan karena perebutan harta karun itu kita selesaikan dengan cara yang adil dan gagah seperti biasa dilakukan di dalam dunia persilatan. Agar jangan menimbulkan banyak korban dan permusuhan besar, sebaiknya diantara kita mengadakan adu jurus untuk menentukan siapa yang menang dan berhak mendapatkan harta karun itu." usul Hua Li.


"Baik aku setuju dan tentu saja kakak Liu Ceng boleh memilih wakilnya yang akan bertanding melawanku." kata Yauw Lie dengan mengulas senyumnya.


Para pimpinan rombongan yang terdiri dari tokoh-tokoh persilatan itu mengangguk-anggukkan kepala dan setuju dengan usul yang dikemukakan Hua Li dan juga Tuan putri Yu.


Bahkan Cu Liong yang berwatak keras dan jujur, tidak berpihak itu tak dapat menahan kegembiraannya untuk menonton orang mengadu ilmu silat.


"Bagus! Bagus sekali diadakan adu silat itu!" seru Cu Liong.


Liu Ceng melangkah maju hendak menyambut tantangan adu jurus itu, akan tetapi Hua Li memegang lengannya.


"Adik Hua, akulah yang berkepentingan dan aku yang ditantang adu jurus itu!" seru Liu Ceng yang menatap Hua Li.


"Kakak Ceng, kepentinganmu adalah kepentinganku juga, dan tadi tuan putri Yu mengatakan bahwa kau boleh mewakilkan orang lain untuk bertanding melawannya. Biarlah aku yang mewakilimu, kakak Ceng. Karena kita sama-sama perempuan!" seru Hua Li yang kemudian tanpa menanti jawaban dari Liu Ceng, Hua Li melompat ke depan tuan putri Yu itu.


"Tuan putri, akulah yang mewakili kakak Ceng untuk bertanding melawanmu!" seru Hua Li dengan lantang.

__ADS_1


"Ha...ha...ha...!;sudah kuduga kalau kau yang akan maju, pendekar Hua! Aku gembira sekali karena aku tahu bahwa engkau yang berjuluk pendekar kecapi dan merupakan lawan yang amat lihai dan aku senang sekali tidak harus bertanding melawan kakak Liu Ceng!" seru tuan putri Yu yang sudah banyak mendengar tentang Hua Li dari Liu Hong.


Memang dia ingin sekali mengukur sampai di mana kepandaian pendekar yang dipuji-puji oleh Liu Hong yang merupakan adik misan pendekar itu.


"Sekali lagi kuperintahkan agar kalian tidak ada yang campur tangan dalam ini!" Seru Tuan putri Yu setelah menoleh pada para prajuritnya.


"Aku mohon anda sekalian dapat menjaga nama dan kehormatan kita dan tidak turun tangan membantuku dalam adu jurus ini!" seru Hua Li yang juga menoleh kearah para pendukung Liu Ceng.


Kini dua orang gadis yang gagah itu saling berhadapan dalam jarak kurang lebih tiga meter. Karena keduanya maklum bahwa mereka berhadapan dengan lawan tangguh. Dan mereka tidak berani memandang rendah lawan.


Tuan putri Yu lantas memasang kuda-kuda dengan kedua kaki terpentang dan kedua lutut ditekuk, kedua tangan terbuka di kanan kiri pinggang karena itulah kuda-kuda terbaik untuk menghadapi serangan tangan kosong lawan.


Ketika melihat Yauw Lie tidak mencabut pedang, Hua Li juga tidak mencabut pedangnya. Setelah dalam kedudukan memasang kuda-kuda seperti itu untuk sejenak dan hanya saling pandang dengan sinar mata tajam seolah hendak mengukur kepandaian lawan lewat pandang mata masing-masing,


"Pendekar Hua, silakan." kata Yauw Lie.


"Tuan Putri saya telah siap, silakan!" balas Hua Li yang menantang.


Kemudian Yauw Lie perlahan-lahan menggerakkan kedua tangan di kanan kiri pinggang itu ke atas seperti menarik sesuatu yang berat ke atas sampai depan dada, lalu membalikkan kedua tangan seperti menekan benda berat ke bawah.


Dengan gerakan ini dia menghimpun tenaga sakti menjalar ke dalam kedua lengan tangannya.


Sementara itu Hua Lie mengangkat kedua tangan tinggi ke atas kepala lalu menurunkan perlahan-lahan dan mengumpulkan pula tenaga saktinya, siap menyambut serangan lawan karena dari gerakan pangeran tadi dia dapat menduga bahwa lawan akan menyerang dengan pukulan tenaga sakti.


"Sambut seranganku ini!" seru Yauw Lie yang menggerakkan tangan kanannya mendorong ke depan tanpa mengubah posisi kakinya, lalu disusul dorongan tangan kiri.


"Wuuuttt.....! Wuuuttt....!"


Angin pukulan yang amat kuat menyambar ke arah Hua Li, akan tetapi Si Pendekar Kecapi ini sudah menyambut dengan dorongan kedua tangannya pula.

__ADS_1


"Syuuuttt....! Syuuuttt....!"


Dari kedua telapak tangannya juga menyambar tenaga yang tak kalah hebatnya.


"Dess....! Desss.....!"


Dua tenaga sakti bertemu di udara dan kedua orang pemuda itu merasa betapa tubuh mereka tergetar. Mereka merasa penasaran dan kini mereka saling serang menggunakan tenaga sakti, menyerang dalam jarak tiga meter.


Angin pukulan mereka menderu-deru sampai terasa oleh mereka yang menonton, akan tetapi tak seorang pun dari mereka berdua yang dapat terdorong oleh serangan lawan.


Karena merasa penasaran, tiba-tiba kedua orang gadis itu berseru nyaring sambil mendorongkan kedua tangan mereka.


"Wuuuuttt...... bresss....!"


Dua tenaga dahsyat bertemu dan keduanya terpental dan terhuyung ke belakang sampai tiga langkah.


Tuan Putri Yu merasa penasaran sekali. Selama dia meninggalkan Tibet, dalam perantauannya belum pernah dia bertemu orang yang mampu menandingi kekuatan tenaga saktinya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2