Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 210


__ADS_3

"Para biksu dan pendekar yang berjiwa pendekar itu tidak rela melihat rakyat jelata dikorbankan, yang ditentang adalah aturan yang menindas rakyat!" lanjut jelas Hek Bin.


"Ahh, banyak omong tidak akan ada yang menyelamatkan dirimu Hek Bin! Lihat naga hitamku akan menelanmu bulat-bulat!" seru Hek Bin membungkuk mencengkeram segenggam tanah dan dilontarkan tanah itu ke udara dan berbareng dengan meledaknya asap hitam nampak seekor naga yang dahsyat mengerikan hendak mencengkeram ke arah Hek Bin.


Pendekar tua Hek Bin tetap berdiri tegak dengan tersenyum lembut dan matanya memandang kepada naga ciptaan yang menyeramkan Itu. ,


"Beng Cu, tidak perlu berrmain-main seperti anak kecil! Apa pun yang berasal dari tanah pasti kembali menjadi tanah!" seru pendekar tua Hek Bin, si kakek pakaian putih ini menggunakan ujung tongkatnya mencokel tanah di depannya.


Segumpal kecil tanah melayang dan nyambar ke arah "naga" itu dan asap hitam mengepul tebal, naga itu pun lenyap dan udara kembali terang di bawah sinar lampu-lampu yang digantung sekitar tempat itu.


Beng Cu marah sekali dan mengeluarkan suara aumannya yang amat berbahaya itu. Namun, juga auman sama sekali tidak mempengaruhi Hek Bin, dan dia tetap berdiri tegak dengan penuh kewaspadaan.


Maklum akan lihainya kakek berpakaian putih ini, Beng Cu lalu mencabut sebatang pedang dan menyerang dengan gencar dan dahsyat. Namun, semua sambaran sinar pedangnya membalik ketika bertemu dengan tongkat di tangan Hek Bin.


Sementara itu, Han Beng yang mengamuk dengan tongkatnya, berhasil merobohkan Hai Jin dan tiga orang kawannya. Nyaris pundak Han Beng terluka ketika Hai Jin, dengan sisa tenaga yang ada karena kakek ini sudah merasa lelah sekali, mengayun pedang samurainya.


Pedang itu berat dan cara kakek itu bermain pedang, menguras banyak tenaganya, padahal lawannya Han Beng, memiliki gerakan yang lincah sekali sehingga semua serangannya tak pernah menyentuh lawan.


Ketika pedang samurai itu terayun, Han Beng sedang menendang roboh seorang pengeroyok terakhir, maka kakinya sedang terangkat dan tepat pada saat itulah pedang samurai datang menyambar lehernya. Dia cepat menekuk lututnya dan samurai itu menyambar lewat, dekat sekali dengan pundaknya sehingga terasa dingin sambaran pedang itu. Dia cepat meluncurkan tongkatnya ke samping, tepat ujung tongkatnya menotok pinggul dari kakek itu.


"Ahhh!"


Seketika kaki kiri Hai Jin terasa lumpuh dan dia pun roboh, tangan yang memegang pedang samurai itu sudah lemas dan pedang yang berat itu pun meluncur ke bawah, hampir tak terkendalikan tangannya dan tahu-tahu pedang itu meluncur dan menusuk lehernya sendiri.

__ADS_1


Kakek itu berkelojotan dengan leher yang hampir putus.


Han Beng terbelalak ngeri. Sama sekali dia tidak bermaksud membu nuh Hai Jin seperti itu. Dia cepat membuang muka dan pada saat itu, melihat betapa tongkat Hek Bin yang memukuli punggung dan pinggul Beng Cu.


Pemuda itu sudah merasakan kelihaian Beng Cu yang bertangan kosong kini datuk sesat itu memegang pedang. Namun ternyata pendekar tua Hek Bin mampu mempermainkannya dan memukuli pinggang dan punggungnya seperti seorang guru memberi hukuman kepada seorang muridnya yang nakal.


Beng Cu melihat pembantu utamanya Hai Jin telah roboh tewas dan para pembantunya juga banyak yang sudah roboh, Bahkan anak buahnya mulai kocar-kacir dihajar para biksu dan pendekar.


Pasukan pemerintan itu pun tidak banyak dapat membantu karena mereka sendiri pun kewalahan menghadapi pengamukan para biksu dan pendekar.


Karena itu, dia lalu melompat jauh meninggalkan Hek Jin dan melarikan diri.


Melihat betapa datuk sesat itu telah larikan diri dan anak buahnya sudah dihajar, Hek Bin lalu berseru dengan suara nyaring.


Para biksu dan pendekar itu maklum bahwa tidak ada untungnya kalau mereka terus mengamuk dan membunuh banyak prajurit pasukan pemerintah. Tadi pun dalam pertempuran, mereka menjaga diri dan tidak ingin membunuh para perajurit.


Setelah mendengar seruan Hek Bin, mereka pun berloncatan meninggalkan tempat itu dan menghilang di dalam kegelapan malam.


Sementara itu Perwira yang menjadi komandan pasukan, berlari memberi aba-aba kepada pasukan untuk melakukan pengejaran. Akan tapi tentu saja hal ini tidak ada gunanya karena selain para penyerbu itu dapat berlari cepat sekali, juga para prajunt sudah merasa gentar dan tak berani mengejar tanpa mengandal banyak teman.


Dengan kejadian seperti ini, jelas sekali seperti yang diharapkan Hek Bin, menjadi obat mujarab yang menyembuhkan dendam kebencian antara para biksu dan para pendekar.


Sejak terjadinya peristiwa itu, mereka menyebarkan berita itu dengan luas di antara golongan masing-masing sehingga kedua pihak membuang jauh-jauh perasaan bermusuhan itu.

__ADS_1


Bahkan tidak jarang mereka itu bekerja sama untuk membela rakyat jelata yang tertindas oleh oknum-oknum yang mempergunakan kesempatan dalam pelaksanaan pekerjaan besar menggali terusan itu untuk mengeduk keuntungan sebesarnya dengan memaksa rakyat bekerja tanpa upah.


Sementara itu, jauh di luar hutan di tempat terbuka yang sunyi, dan diterangi oleh sinar bulan yang baru muncul. Han Beng berlutut di depan Hek Bin.


"Anak muda, aku melihat bahwa ilmu silatmu sudah cukup tinggi dan kau telah mewarisi inti sari dari imu kepandaian pendekar kecapi dan raja pengemis. Kenapa masih saja kau memohon untuk menjadi murid aku?" tanya Kakek itu dengan suara yang lembut, sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan gembiranya yang timbul ketika melihat pemuda ini menyatakan hendak menjadi muridnya.


Dia sendiri kagum kepada pemuda ini, maklum bahwa pemuda ini selain memiliki tenaga dalam yang luar biasa sekali kuatnya, juga memiliki bakat yang baik dan watak yang tidak tercela.


"Maaf, kakek. Sama sekali bukan berarti bahwa murid meremehkan kedua ajaran dari kedua guru yang telah murid terima. Akan tetapi ketika murid bertanding melawan Beng Cu, terasa benar oleh mereka betapa pengetahuan murid masih dangkal sekali dan murid sayang kagum pada saat melihat kakek dengan amat mudahnya mampu menundukkan datuk sesat itu. Oleh karena itulah, murid bertekad untuk memperdalam ilmu di bawah pimpinan kakek pendekar, tentu saja jika kakek pendekar sudi menerima saya sebagai murid." jelas Han Beng pangan lebar.


"Dunia menghadapi masa suram dan memang amat dibutuhkan orang-orang muda seperti kau, Han Beng. Baiklah! dalam usia aku yang sudah tua ini, akan mencoba untuk menambah bimbingan sedapatnya kepadamu. Kalau begitu ikutlah aku ke Thai-san." kata Hek Bin dengan mengulas senyumnya.


Han Beng dengan semangat memberi hormat delapan kali sebagai tanda pengangkatan guru dan malam itu juga guru dan murid ini melanjutkan perjalanan menuju ke Thai-san.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2