Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 50.


__ADS_3

Yauw Lie lebih banyak berdiam diri menanti serangan, maka dia tidak membuang banyak tenaga seperti halnya Liu Ceng yang berkelebat ke sana-sini dan ini menyerap banyak tenaganya.


Tentu saja dengan cara menutup diri dan hanya menangkis, Yauw Lie sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menyerang balik. Setelah pertandingan lewat sekitar lima puluh jurus, Liu Ceng melompat menjauhi dan berdiri sambil tersenyum dan mengusap keringat dari leher dan dahinya.


"Ah, jurus pedang kakak Ceng sungguh membuatku kagum sekali. Aku mengaku kalah." ucap Yauw Lie yang melompat ke depannya dan menjura.


Liu Ceng tersenyum dan menoleh ke arah keluarganya yang duduk di pinggir ruangan. Ia menggunakan tangan kirinya menunjuk ke arah rambut kepalanya.


"Ah, adik Yauw terlalu merendahkan diri. Akulah yang mengaku kalah. Jurus pedang adik Yauw sungguh amat lihai, aku masih perlu mendapatkan banyak petunjuk tentang ilmu pedang darimu." balas Liu Ceng yang menjura kepada Yauw Tek.


Semua orang melihat lengan sebelah kiri Liu Ceng robek sedikit. Hal ini berarti bahwa dalam gebrakan terakhir tadi ranting di tangan Yauw liu telah berhasil membuat lengan pakaian yang di pakai Liu Ceng robek.


Liu Hong bertepuk tangan dan ia pun melompat berdiri, menghadap ke arah kedua orang tuanya.


 "Ayah, jelas bahwa adik Yauw telah dapat menandingi dan mengungguli jurus-jurus tangan kosongku dan jurus pedang kakak Ceng! Dia pantas menemani kami mencari harta karun itu, bukan?" ucap sekaligus tanya Liu Hong.


"Mari kita bicarakan hal ini di dalam," kata Liu Tek dan mereka semua menuju ke ruangan dalam dan duduk mengelilingi meja besar yang bundar.


"Kami mengakui bahwa kemampuan beladiri Yauw liu cukup tangguh untuk dapat menemani kalian berdua dan memperkuat keadaan kalian. Akan tetapi, Yauw Liu, engkau harus mengetahui bahwa perjalanan mencari harta karun ini merupakan pekerjaan yang berat dan berbahaya. Banyak tokoh kang-ouw tentu akan berusaha untuk mendapatkannya karena berita tentang harta karun yang mungkin dicuri orang yang tinggal di Perguruan Ular Kobra pasti tersiar luas. Kami harap kalian bertiga nanti tidak bertindak gegabah," pesan Ban Tok guru mereka yang kemudian menceritakan kepada Yauw Liu tentang tokoh-tokoh di perguruan Ular kobra seperti yang pernah ia ceritakan kepada kedua muridnya itu.


 "Bibi, maafkan pertanyaan saya. Karena saya masih hijau dan tidak banyak mengenal tokoh-tokoh dunia persilatan, maka mohon petunjuk Bibi sekalian, siapakah di antara para tokoh di Rimba Persilatan yang patut dicurigai sebagai pencuri harta karun itu?" tanya Yauw Lie yang penasaran.

__ADS_1


 "Inilah yang harus kalian bertiga selidiki. Tadi engkau telah mendengar cerita anak kami tentang hilangnya ukiran ulasa harta karun yang tersembunyi di Bukit Sorga. Pencuri itu hanya meninggalkan ukiran gambar ular kobra dalam peti harta. Ukiran ini dapat juga diartikan sebagai kesombongan Si Pencuri yang mengaku dan menantang bahwa dia berada di perhgu, akan tetapi bukan tidak mungkin hal ini dilakukan Si Pencuri hanya untuk menipu dan menyesatkan para pencari harta karun. Karena itu, tugas kalian tidak ringan, sebelum berusaha merampas harta karun, haruslah lebih dulu menyelidiki secara teliti apakah benar pencuri itu tinggal di dan kalau benar, siapa orangnya." nasihat panjang lebar Liu Ceng.


Dua hari kemudian berangkatlah Yauw Lie , Liu Ceng, dan Liu Hong meninggalkan Pulau Ular. Kini dua orang pemuda itu percaya betul kepada Yauw Lie yang selain lihai juga halus budi bahasanya dan sopan santun.


 Sementara itu Yauw Lie semakin kagum kepada keluarga Majikan Pulau Ular. Bukan hanya kagum kepada keluarganya yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi juga kagum akan kehebatan pulau yang selain mempunyai banyak anak buah, juga mengandung banyak rahasia sehingga kuat menghadapi penyerbuan dari luar.


Setelah tiba di daratan, mereka bertiga menggunakan tiga ekor kuda yang sudah dipersiapkan, melanjutkan perjalanan jauh mereka menuju ke perguruan ulas kobra.


Selama dalam perjalanan ini, hubungan antara tiga orang itu semakin akrab dan dua orang pemuda itu yakin benar bahwa Yauw Lie adalah seorang pendekar muda pilihan yang hanya dapat disejajarkan dengan seorang pendekar muda seperti pendekar kecapi.


Bahkan mereka menganggapnya lebih baik dari Hua Li karena gadis itu telah mengecewakan hati mereka. Mengecewakan hati Liu Ceng karena Hua Li yang tidak segera muncul dan ikut dalam perjalanan mereka.


...****...


Seperti kita ketahui, Hua Li bersahabat dengan kedua pemuda majikan Lembah Seribu Bunga dan ketika dia bercerita tentang harta karun Kerajaan Sung yang dicuri orang, Sin Lan dan Sin Lin ikut dan membantu Hua Li dalam mencari harta karun itu ke perguruan Ular Kobra.


"Wah, tempat merupakan pegunungan yang demikian panjang dan luasnya. Bagaimana mungkin mencari pencuri itu? Untuk menjelajahi pegunungan ini, kukira biar sampai bertahun-tahun sekalipun pasti tidak akan dapat selesai!" Seru Sin Lin ketika mereka bertiga tiba di kaki Pegunungan yang amat luas.


"Kukira tidak perlu menjelajahi seluruh pegunungan ini, kakak Lin," kata Hua Li seraya menebarkan pandangannya.


 "Aku mendengar bahwa perguruan ular kobra di daerah ini adalah aliran persilatan yang cukup terkenal walaupun tidak sebesar perguruan Siauw lim atau perguruan Bu tong. Aku memang tidak percaya kalau perguruan ular kobra yang terdiri dari para pendekar itu melakukan pencurian harta karun dan dengan sombongnya menantang para ahli silat dengan memberitahukan tempat tinggalnya. Akan tetapi setidaknya kita akan bisa mendapatkan keterangan dari mereka." jelas Hua Li.

__ADS_1


 "Kalau begitu tujuan kita mencari dan mengunjungi perguruan ular kobra itu, Li'er!" kata Sin Yang menatap Hua Li.


"Iya." jawab Hua Li yang disertai anggukan kepalanya.


 Mereka lalu mencari keterangan kepada penduduk dusun di sekitar kaki Pegunungan tentang perguruan ular kobra. Dengan mudah mereka mendapatkan keterangan karena semua orang di daerah itu tahu belaka di mana adanya tempat dimana perguruan ular kobra itu berada, yaitu di bagian Timur pegunungan itu.


Demikianlah, pagi hari itu, Hua Li, Sin Lan dan Sin Lin mendaki bukit yang menjadi tempat berdirinya perguruan ular kobra.


Keindahan pemandangan alam di sekeliling mereka ketika mereka mendaki bukit di pagi hari itu membuat mereka berjalan dengan santai sambil menikmati keindahan panorama sepuas hati.


Sin Lin yang berwatak riang dan lincah itu berulang-ulang mengeluarkan seruan kagum memuji keindahan itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


   


__ADS_2