Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 157


__ADS_3

Hal ini adalah karena ketika ikut dengan Mo Li, ia telah berusia sepulu tahun dan ia sudah diajar kesusilaan oleh mendiang ayahnya, seorang lurah di Kong-cung.


Walaupun pergaulannya dengan orang-orang kang-ouw yang kasar dan kadang-kadang cabul, ia tidak sampai ketularan penyakit itu.


Pada waktu Mo li sedang menjamu kunjungan belasan orang rekannya, yaitu tokoh-tokoh dunia hitam dan fi antara mereka terdapat beberapa orang tokoh muda yang pandang matanya membuat Hok Cu merasa muak dan lama-kelamaan Hok Cu menjadi bosan juga.


Dan siang hari itu ia meninggalkan rumah gurunya, meninggalkan para tamu yang sedang dijamu itu untuk pergi ke tepi laut yang berada tak jauh dari kota itu.


Hok Cu berdiri tegak, kedua kaki agak terpentang, lalu ia mengembangkan kedua tangan dari depan ke atas sambil menarik napas sebanyaknya sampai kedua paru-parunya penuh sesak, dadanya mengembang besar.


Setelah paru-parunya tidak dapat menampung lagi, dengan kedua tangan tetap di atas, ia menahan napas, kemudian mengerahkan tenaga untuk menekan dada dan mengembangkan perutnya. Dadanya mengempis dan perutnya mengembang, seolah-olah hawa yang berada di dadanya itu turun ke perut.


Ia lakukan ini beberapa kali, kemudian ia mengempiskan perut mengembangkan dada kembali dan mengeluarkan napas perlahan-lahan sampai habis sama sekali, sampai kedua paru-parunya kempis sama sekali.


Diulangnya beberapa kali, lalu ia mengambil napas dengan cara yang sebaliknya. Ketika menarik napas, ia bukan mengembangkan dada melainkan mengembangkan perutnya, seolah-olah hawa itu disedotnya ke dalam perut sampai sepenuhnya.


Kemudian, ia menarik napas dan "mengoper" hawa di perut itu naik ke dada, turun lagi dan akhirnya pun membuang napas perlahan-lahan seperti tadi, dari perut.


Melihat kanan kiri tidak ada orang, timbul keinginannya untuk bermain-main di pantai itu. Karena dari rumah memang ia sudah membawa ganti pakaian.


Pakaian pengganti itu ia letakkan di atas pantai yang tidak tersentuh air, ditindih dengan batu agar tidak terbawa kabur angin, kemudian melepas sepatunya, melepas tusuk konde dan hiasan rambut, dan berlarilah ia hanya mengenakan pakaian dalam yang ringkas berwarna merah muda, dan di lain saat ia telah meloncat ke dalam air yang bergelombang itu.


Terdengar gadis remaja itu tertawa-tawa riang seorang diri ketika bermain-ain dengan ombak. Kalau ada ombak datang bergulung-gulung, ia meloncat dan menyambut gelombang itu, menyelam ke bawah gelombang, kemudian muncul dibelakangnya.


Rasanya seperti bermain-main dengan kawan-kawan yang akrab, yang merangkulnya, menggelitiknya, dan mengajaknya bermain-main dengan gembira sekali.


Air yang dingin sejuk itu sungguh nyaman terasa membungkus kulitnya.


Sampai sejam lebih lamanya Hok Cu bermain di lautan itu. Akhirnya ia merasa cukup puas dan berenang ke tepi.

__ADS_1


Tapi betapa terkejutnya dia, karena ketika ia melihat seorang pemuda duduk di dekat tempat ia menaruh pakaian penggantinya tadi.


Dan yang lebih menjengkelkan hatinya lagi, pemuda itu dikenalnya sebagai pemuda yang paling genit dan ceriwis di antara semua orang muda yang kini menjadi tamu gurunya selama beberapa hari ini. bahkan ia tahu pula bahwa pemuda itu bernama Siang koan, putera dari Siang Bok yang merupakan saudagar kaya dari Pulau Hiu.


Yaitu seorang yang kabarnya kaya raya dan berpengaruh, ia mempunyai banyak anak buah dan menjadi bajak laut yang amat disegani dan ditakuti.


Siang koan itu seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang mata keranjang, tinggi kurus namun tampan dan pesolek. Pemuda itu ceriwis dan genit juga cabul dan sudah seringka menggodanya, bahkan pernah bebera kali didampratnya.


Namun gurunya adalah sahabat baik ayah pemuda itu, bahkan sikap gurunya terhadap pemuda tampan ini pun kadang memuakkan hati Hok Cu.


"Mau apa pemuda itu mendekati pakaian pengganti ku yang tadi aku tindih batu di atas pasir itu?" gumam dalam hati Hok Cu.


Lalu gadis itu keluar dari dalam air dan berjalan di atas pasir menuju ke tempat pemuda itu duduk di atas pasir. Akan tetapi ia teringat akan pakaiannya yang basah, pakaian dalam lagi di dalam keadaan basah itu pakaiannya melekat dan mencetak tubuhnya, membuat tubuhnya membayang dan nampak lekuk lengkungnya.


Perasaan rikuh dan malu membuat wajah Hok Cu kemerahan apalagi melihat pemuda itu memandang kepadanya dengan mata melotot seola olah biji kedua matanya hampir rnelompat keluar dan mulutnya ternganga.


Yang dibentak malah tersenyum, |alu menarik napas panjang, seolah-olah baru sadar dari mimpi yang amat indah.


"Aduhai, Adik Hok Cu! engkau sungguh cantik jelita tubuhmu itu, ah! aku bisa gila kalau tidak kau beri cium satu kali saja pada mulutmu!"racau Siang Koan.


"Siang koan! mulutmu sungguh busuk!" seru Hok Cu dengan Sepasang mata yang jeli dan bening itu seperti memancarkan sinar berapi.


"Eh, aku lebih tua darimu Nona Manis! sepatutnya-lah engkau menyebut aku kakak, seperti yang sudah-sudah. Bukankah gurumu sendiri menyuruh kamu untuk menyebut kakak kepadaku?" kata Siang Koan yang mengingatkan.


"Kakak hidungmu! Siapa sudi menyebutmu kakak? kau ini berhati kotor, mata keranjang, hidung belang, genit dan ceriwis! Hayo cepat kau pergi dari situ dan tinggalkan aku sendirian. Aku mau berganti pakaian kering!" seru Hok Cu.


Kembali sepasang mata yang nakal itu menjelajahi tubuh Hok Cu, membuat gadis itu menutupi tubuhnya bagian depan dengan tangan dan ingin sekali dia segera mendapatkan pakaian keringnya.


"Aduh, bukan main indahnya tubuhmu!" seru pemuda itu yang terang-terangan menelan ludah.

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku yang menggantikan pakaianmu?" tanya pemuda itu yang kemudian mengambil pakaian kering itu dari bawah tindihan batu.


"Berikan pakaianku, dasar kau keparat!" seru Hok Cu yang sudah marah sekali dan memaki.


 "Aduh, bukan main! Kalau marah mulutmu cemberut matamu terbelak semakin cantik saja. Adik, aku cinta padamu dan aku akan minta pada Ayahku untuk meminangmu menjadi isteriku. Adik, berilah aku sebuah ciuman saja dan aku akan pergi tidak mengganggumu lagi." racau pemuda itu yang semakin membuat Hok Cu geram.


"Dasar tak tahu diri! Berikan pakaianku dan pergilah dari sini!" seru Hok Cu dengan raut wajah memerah.


"Pakaian ini!" seru Siang Koan yang mendekatkan pakaian itu ke depan wajahnya dan menghirup aroma wangi pakaian itu.


"Hm, wangi...! Kau mau pakaian ini? Boleh, ditukar dulu dengan ciuman satu kali!" seru Siang Koan yang nampak mengejek ke arah Hok Cu.


"Bedebah! Kau mau menghinaku!" bentak Hok Cu, kini tak dapat lagi ia menahan kemarahannya.


Dengan cepat ia sudah menerjang dengan tangan kanan memukul ke arah wajah Siang Koan, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah pakaian yang dibawa pemuda itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


__ADS_2