Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 163


__ADS_3

Akan tetapi, Lui Seng sebagai seorang pemuja yang sudah lama dan percaya, sama sekali tidak terangsang ketika melakukan pemandian itu.,


Setelah pemandian selesai dilakukan, dua orang yang akan menjadi korban itu bergerak, bahkan gadis itu mengeluarkan jerit tertahan dan menangis. Melihat ini, teringatlah Lui Seng bahwa mereka tentu sudah terbebas dari pengaruh totokan, maka cepat dia pun menghampiri mereka dan dua kali tangannya bergerak, perjaka dan perawan itu sudah lumpuh kembali.


Kemudian, dengan lagak dan sikap seperti seorang pendeta Lui Seng berdiri tegak, lalu mengambil ikatan dupa yang masih membara, dan menggerakkannya di atas mukanya yang tengadah. Abu yang berada di ujung ikatan hio itu terjatuh ke atas mukanya.


Ketika dia mengembalikan ikatan hio itu, mukanya kini menjadi coreng moreng dengan abu hio, dan dengan tangan kirinya dia mengusap mukanya, bukan untuk menghapus abu, melainkan untuk meratakannya.


Tiba-tiba tubuhnya terhuyung lalu dia jatuh terduduk, tubuh itu menggelepar seperti ayam disembelih, kaki tangannya kejang-kejang dan menggelepar, matanya mendelik lidahnya keluar.


Dua orang muridnya nampak tenang saja maka para tamu yang hadir juga diam saja hanya mengamati dengan bulu tengkuk meremang. Mereka tadi telah diberitahu oleh Lui Seng bahwa dari upacara itu, akan ada "setan pembantu" dari sesembahan yang memasuki dirinya dan kalau dia melakukan hal-hal yang aneh, diharapkan para hadirin tidak menjadi kaget karena yang melakukan itu adalah roh atau setan pembantu yang memasuki dirinya.


Kini semua orang mengamatinya, ada yang percaya dan ada pula yang setengah-setengah, ada pun yang belum percaya sehingga mereka ini tersenyum mengejek, menganggap bahwa Lui Seng hanya berpura-pura dan berlagak saja untuk mendatangkan kesan.


Akan tetapi Mo Li sudah percaya betul karena sebelum ini, Lui Ceng sudah membuktikan bahwa dia memang memiliki kekuatan gaib yang didapatnya dari Sesembahan mereka.


Sebelum menyatakan diri ingin masuk menjadi anggota atau anak buah atau murid Lui Ceng, lebih dahulu Mo Li menguji Lui Seng.


Di dalam ruangan ini pula, beberapa hari lalu, mereka berdua duduk berhadapan dalam jarak empat meter. Mo Li yakin bahwa ilmu silatnya, ilmu tenaga dalamnya maupun kekuatan jurus meringankan tubuhnya, masih lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan Lui Seng.


Akan tetapi ketika ia menguji orang itu, yang lebih dulu membiarkan dirinya "kemasukan" sesembahan, sebelum menyentuh tubuh Lui Seng ia berkali-kali terpelanting, kemudian bahkan ia tidak mampu bergerak dari tempat duduknya.


Lui Seng lalu memberitahu bahwa itu hanya satu di antara kesaktian sesembahan mereka. Murid yang tekun akan menjadi sakti, kaya raya, dan juga panjang umur sampai lebih seratus tahun.


Inilah sebabnya, ketika melihat Lui Seng menggelepar di depan meja sembahyang, Mo Li tidak merasa heran, juga ia percaya sepenuhnya bahwa orang itu sedang mulai kemasukan roh halus atau setan pembantu seperti yang telah diceritakan sebelumnya.


Kini Lui Seng tidak menggelepar lagi, menjadi tenang dan berlutut di depan meja sembahyang, menghadap ke arca sesembahan dan menyembah sampai tiga belas kali, mengeluarkan suara mengaum seperti harimau.

__ADS_1


Kemudian bangkit berdiri, mukanya masih coreng moreng terkena abu, matanya mendelik dan berdirinya tegak lurus dan nampak seolah-olah tubuhnya lebih jangkung daripada tadi. Lalu dia memutar tubuh menghadap ke arah Mo Li lalu terdengar suaranya lantang sekali, terdengar bergetar biarpun agak parau.


"Saudar Mo Li, Ong-ya memanggil engkau untuk menghadap ke sini, sekarang juga!" seru Lui Seng.


Mo Li sama sekali tidak menjadi marah, bahkan ia lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Ong-ya, saya datang menghadap!" Dan wanita yang dikenal sebagai Iblis Betina Selaksa Racun itu melangkah dengan lambat, lengan lenggang lemah gemulai penuh gairah, menuju ke meja sembahyang lalu menjatuhkan diri berlutut di depan meja sembahyang, menghadap patung sesembahannya.


"Mo Li, kami mewakili sesembahan bertanya kepadamu agar kamu menjawab dengan sejujurnya!" kembali terdengar suara parau Lui Seng yang masih berdiri tegak.


"Dengarkan baik-baik!" seru suara parau Lui Seng.


"Saya mendengarkan dan akan menjawab sejujurnya," kata Mo Li dengan perasaan aneh karena selama hidupnya belum pernah ia berjanji untuk menjawab dengan jujur.


Selama ini kejujuran dianggapnya suatu kelemahan dan kebodohan, tanda dari hati yang takut Akan tetapi sekali ini ia berjanji untuk menjawab dengan jujur. Mungkin karena takut di dalam hatinya terhadap kekuasaan sesembahan mereka, atau karena ada harapan di lubuk hatinya agar mendapatkan berkah, terutama sekali umur panjang.


"Benar." jawab Mo Li.


"Dan kau siap untuk menghaturkan korban suci kepada Ong-ya?" tanya Lui Seng.


"Saya sanggup dengan senang hati." jawab Mo Li.


"Apakah korban sudah disediakan?" tanya Lui Seng yang menatap Mo Li.


"Sudah disediakan dan siap dikorbankan." jawab Mo Li yang juga menatap Lui Seng.


"Bagus, permohonanmu diterima, Mo Li dan sebagai anugerah Ong-ya melalui kami, anggur darah remaja akan membuat kau menjadi awet muda seperti remaja!" seru suara parau Lui Seng.

__ADS_1


 "Terima kasih, Ong-ya," kata Mo Li dengan girang dan wanita yang terkenal sebagai Iblis Betina yang biasanya amat angkuh ini, yang tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini menyembah sambil berlutut, menyembah sebanyak tiga belas kali seperti yang diberitahukan kepadanya oleh Lui Seng.


Tiba-tiba Lui Seng jatuh terduduk dan menggelepar kembali, hanya sebentar dan dia pun sudah bangkit lagi dan kini sikapnya biasa, seolah-olah setan yang memasuki tubuhnya sudah menghilang dan dia menjadi Lui Seng kembali.


Kini dihapusnya abu yang coreng moreng pada mukanya, kemudian dia berkata kepada Mo Li.


"Upacara tingkat pertama telah selesai. Kini tinggal menanti masuknya sinar bulan. Kalau sinar bulan sudah menimpa tubuh kedua orang korban itu, barulah upacara terpenting, yaitu persembahan, boleh dilakukan.


Sementara ini, sambil menanti naiknya bulan, nyonya boleh menjamu para tamu dan saksi, bergembira karena nyonya telah diterima menjadi murid dari sesembahan mereka.


Dengan wajahnya yang cantik pesolek itu berseri, Mo Li lalu bangkit dan dengan isyarat tangannya. Belasan orang pelayannya yang semua terdiri dari wanita yang masih muda, cantik dan gesit, mengeluarkan hidangan dan mengatur hidangan itu di atas lantai di depan para hadirin yang duduk bersila di ruangan itu.


Cara pesta yang aneh karena mereka semua duduk bersila di atas lantai, bukan di kursi menghadapi meja.


Akan tetapi, hidangan yang disuguhkan merupakan masakan istimewa, mahal dan lezat, masih mengepul panas lagi, maka gembiralah hati para tamu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2