
Mata laki-laki itu melotot seperti hendak menelan dan melahap tubuh yang terbujur di hadapannya.
"Wah, istriku kita untung besar! Seorang manusia muda akan menjadi santapan kita! Ha..ha...ha..., sungguh beruntung sekali kita!" seru laki-laki itu yang liurnya mulai menetes.
"Ya, tapi bolehkah aku 'mencicipinya' lebih dulu? Baru besok malam aku akan masak dia!" pinta si istri yang kedua matanya menatap penuh hasrat pada Liu Hong.
"Kau ini,kau anggap apa aku disini hah..!" seru laki-laki itu yang mengomel, akan tetapi keluar juga dan duduk di atas batu yang terdapat di luar gubuk itu.
Dia merasa berhutang dan bersalah pada istrinya, karena kemarin dia beberapa kali menemukan beberapa gadis yang kesemuanya telah dia cicipi sebelum istrinya memasak para gadis-gadis itu.
Sejak tadi Liu Hong sudah berusaha untuk meronta, namun tubuhnya belum juga dapat digerakkan. Rasanya lemas seluruh badannya, lemah lunglai. Bahkan ketika ia mencoba untuk mengeluarkan suara, yang terdengar hanya suara lirih saja.
"Lepaskan aku, bibi! lepaskan.....!"
Liu Hong sudah berteriak, namun karena tidak ada tenaganya, suara itu terdengar lirih seperti bisik-bisik saja.
"He...he...he..., rupanya kau ini keras hati dan tidak mau menyerah, manisku. Aku suka itu!" seru wanita itu yang kemudian mengambil tali yang cukup kuat dari sudut gubuk itu dan dengan tali itu dia mengikat kedua pergelangan tangan dan kedua pergelangan kaki Liu Hong, diikatkan pada keempat kaki dipan itu.
Tentu saja Liu Hong ingin memberontak, akan tetapi ia masih belum mampu menggerakkan kaki tangannya. Kembali wanita itu tertawa dan memandang kepadanya dengan mata penuh nafsu.
"Manisku, aku tidak ingin memaksamu, aku ingin kamu menyerahkan diri dengan manis!" seru wanita itu yang kemudian dia mengambil sebuah bungkusan dari saku bajunya yang kotor.
Wanita itu membawa bungkusan ke meja di sudut di mana terdapat sebuah guci dan beberapa cawan kosong. Dibukanya bungkusan dan dituangkan isinya, bubuk merah, ke dalam cawan lalu cawan itu diisi minuman dari guci.
Kemudian dibawanya cawan kecil berisi arak itu ke dekat dipan dan disodorkannya cawan itu kepada Liu Hong.
"Nah, minumlah arak ini, manis, dan engkau akan merasa senang dan sehat!" seru wanita itu menatap Liu Hong dengan mengulas senyumnya.
Tentu saja Liu Hong tidak sudi minum, akan tetapi ia tidak mampu menolak dengan tangannya yang telah diikat dan terbentang. Ia hanya berusaha untuk memalingkan mukanya dan mengatupkan mulutnya, walaupun dengan gerakan lemah.
"Minum....!"
Bentak wanita itu lalu duduk di tepi dipan dan menggunakan tangan kirinya memaksa mulut Liu Hong terbuka dengan menekan rahangnya, lalu dia menuangkan arak itu ke dalam mulut Liu Hong.
__ADS_1
Pemuda itu tak dapat menolak lagi, mencoba untuk menutup kerongkongannya, namun akhirnya arak itu memasuki perutnya dan ia tersedak-sedak.
Liu Hong merasa betapa ada hawa panas mengamuk di dalam perutnya dan hawa panas itu menjalar ke dalam kepalanya, membuat ia merasa pening.
Akan tetapi ia terkejut bukan main karena tiba-tiba saja ia merasakan rangsangan yang amat hebat dan kuat. Ia memejamkan matanya dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk melawan rangsangan yang tidak wajar itu.
Biarpun selama hidupnya ia belum pernah merasakan rangsangan seperti itu, namun nalurinya mengatakan bahwa itu merupakan pengaruh yang tidak baik.
"Tidak...... tidak....!"
Berulang kali ia berseru sekuatnya, namun terdengar suara lirih saja. Makin lama semakin pusing dan ia segera merasakan sesuatu yang membuatnya merasa ngeri bukan main.
Pakaiannya dilucuti wanita itu, dan Ia masih memejamkan matanya. Liu Hong pun dapat menduga apa yang akan terjadi padanya. Ia tidak berani membuka matanya, dan hanya menggelengkan kepalanya dan agaknya pengaruh totokan itu mulai berkurang karena tiba-tiba dapat menjerit nyaring.
"Jangan......! Ah, jangan......! Tolong...... tolong......!"
"Percuma engkau menjerit, manisku, tidak ada yang dapat mendengarmu, ha...ha....! Kenapa kamu menjerit? Kita akan bersenang-senang!" seru wanita itu yang awalnya dia terkejut.
Liu Hong merasa betapa rangsangan dalam tubuhnya, terutama pada otaknya, semakin kuat dan panas. Ia melawannya dengan menanamkan dalam ingatannya sambil berbisik,
Pikiran ini merupakan hiburan satu-satunya, dan ini untuk melawan rangsangan itu sehingga ia tidak akan menyerah dengan suka rela. Ia akan membunuh dan menyiksa mereka, baru kemudian ia akan bunuh diri.
Ini tekadnya dan ia mengerahkan seluruh tenaga ingatannya agar tidak merasakan apa pun yang akan terjadi dengan dirinya, hanya air matanya yang mengucur deras.
"Gedubrakk....!"
Tiba-tiba terdengar suara gedobrakan di luar gubuk, disusul teriakan mengaduh.
"Aaaduh....!"
Laki-laki yang ada diruangan lain yang tak lain suami dari wanita yang menggerayangi Liu Hong, kini tinggal tubuhnya yang sudah tak bernyawa lagi.
Wanita yang menggerayangi tubuh Liu Hong itu terkejut dan melompat ke arah pintu.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" gumamnya yang penasaran.
Tiba-tiba daun pintu kamar itu roboh dan sesosok bayangan berkelebat masuk. Wanita yang hendak menggerayangi Liu Hong itu terkejut, dengan cepat mencabut goloknya dan bersiap menyerang.
Akan tetapi bayangan itu dengan tangkas mendahului dengan tendangan. Begitu kakinya mencuat, perut wanita tinggi besar itu tertendang dan dia roboh terjengkang.Penolong itu menangkap kakinya dan sekali dia melempar, tubuh wanita yang tinggi besar itu terlempar keluar. Penolong itu melompat keluar mengejar dan terdengar teriakan-teriakan dua orang itu, lalu terdiam.
Liu Hong membuka matanya dan ia sempat melihat penolongnya itu melemparkan penjahat itu ke luar pintu kamar. Karena api lampu bergerak-gerak tertiup angin yang masuk melalui pintu yang terbuka, Liu Hong tidak dapat melihat siapa penolongnya.
Setelah teriakan dua orang itu tak terdengar lagi, Liu Hong ini melihat seorang seorang gadis memasuki kamar dimana mereka berada dan kemudian menutup pintu
"Adik Yauw.....!" serunya dengan
Gadis yang menolongnya itu adalah Yauw Lie. Dengan cepat Yauw Lie melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Liu Hong dan menepuk pundak pemuda itu.
Setelah melepaskan Liu Hong, Yauw Lie langsung memeluk Liu sambil menangis. Tadi ia ketakutan setengah mati,i ia merasa sangat bersyukur, girang dan juga terharu sehingga ia menangis mengguguk di dada Liu Hong yang merangkulnya.
Yauw Lie sangat bersyukur masih bisa bertemu dengan Liu Hong dan demikian pula dengan Liu Hong yang juga sangat bersyukur karena bisa selamat dan bahkan bisa memeluk Yauw Li kekasihnya.
"Adik Yauw kau telah menolongku, aku berhutang budi dan nyawa kepadamu." bisik Liu Hong.
"Hushh...! kakak Hong, hal ini sudah wajar. Aku pasti akan menolongmu jika aku mampu!" balas bisik Yauw Lie.
Kemudian lengan Yauw Lie merangkul leher sehingga Liu Hong agak terkejut.
"Aku...... aku pun...... cinta padamu, kakak Hong......" bisik Yauw Lie.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...