Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 295


__ADS_3

Han Beng terkejut, akan tetapi lalu tersenyum dan tangannya membelai rambut kepala kekasihnya. Tentu kekasihnya itu menangis karena bahagia, menangis karena terharu, barangkali teringat bahwa ia tidak mempunyai orang tua lagi.


Dia menunduk dan mencium rambut itu, mencium dahi itu.


"Hok Cu, jangan berduka sayang. Memang kita berdua sudah tidak mempunyai ayah ibu lagi, akan tetapi kita kini saling memiliki bukan? Biarlah aku menjadi pengganti Ayahmu dan kau menjadi pengganti Ibuku! Dan kelak, kita pergi ke perkampungan keluarga kita, kita mencari keluarga orang tua kita yang masih ada. Bukankah berarti kita akan memiliki keluarga lagi?" bisik Han Beng yang berusaha menghibur Hok Cu.


Ucapan hiburan Han Beng itu membuat Giok Cu semakin tersedu-sedu. Han Beng membiarkannya sebentar, lalu perlahan-lahan dia mengangkat dagu Hok Cu, disitu dia menatap wajah yang nampak begitu sedih.


Mata itu terpejam, akan tetapi setiap kali dibuka sedikit, air matanya mengalir keluar. Dengan hati penuh rasa haru dan sayang, akan tetapi juga khawatir, Han Beng mengecup pipi yang basah air mata itu sehingga terasa asin olehnya.


Akan menyegarkan hati rasa itu andaikan hatinya tidak begitu hawatir, andaikan tangis itu tangis bahagia, bukan tangis yang demikian sedihnya.


"Hok Cu sayang, kamu kenapa? tolong hentikanlah tangismu dan katakan kepadaku, kenapa kau bersedih? Bukankah sepatutnya kita bergembira, berbahagia? Aiiih, Hok Cu! jangan katakan bahwa kau berduka karena dijodohkan dengan aku.........." kata Han Beng yang belum selesai.


Tiba-tiba Hok Cu membuka matanya dan nampak kemerahan mata itu dan menggeleng kepala, mempererat rangkulannya.


"Tidak! Han Beng, tidak! Jangan salah sangka, aku ....aku berhagia sekali menjadi jodohmu, akan tetapi aku.... aku......." Hok Cu menghentikan ucapannya.


"Kau kenapa, sayang? Kenapa?" tanya Han Beng yang penasaran.


Hok Cu menggeleng kepala dalam rangkulan pemuda itu.


"Aku tidak bisa menjadi isterimu, Han Beng. Tidak mungkin....hiks ..hiks.........!" jawab Hok Cu dengan diiringi tangisannya.


"Eh..." seru Han Beng yang terkejut sekali.


"Kenapa, Hok Cu? Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Han Beng yang penasaran.


Hok Cu menggulung lengan baju kirinya dan melirik ke arah tanda bintik merah kecil di bawah siku kiri, lalu menangis lagi, membenamkan mukanya di dada kekasihnya. Han Beng menjadi seakin bingung.


Berbagai macam dugaan timbul di dalam benaknya. Jelas bahwa kekasihnya sedih, bukan karena berjodoh dengan dia, melainkan oleh suatu sebab lain mengenai diri kekasihnya itu.

__ADS_1


"Apakah Hok hendak mengatakan bahwa ia bukan perawan lagi?" tanya dalam hati Han Beng yang mengingat kalau gadis itu pernah menjadi murid Mo Li.


"Andaikata demikian, aku tidak akan peduli! Aku cinta padamu Hok Cu!" gumam dalam hati Han Beng yang mengatupkan giginya kuat-kuat.


Dia mencintai Hok Cu, bukan mencintai keperawanannya! Atau ada hal lain? Bagaimanapun juga, Hok Cu harus bicara sejujurnya. Kalau tidak, dia akan selalu merasa tersiksa oleh segala macam dugaan yang sewaktu-waktu tentu akan timbul.


Han Beng lalu memegang kedua pundak Hok Cu, didorongnya lembut sehingga mereka saling berpandangan.


"Hok Cu, ceritakanlah padaku. Aku akan terima apapun yang terjadi padamu." bisik Han Beng yang kini kedua anak muda itu saling pandang dengan intens


"Ta...tapi...!" suara Hok Cu yang masih ragu.


"Hok Cu sayang, pandang aku dan dengarkan kata-kataku baik-baik. Kita adalah orang-orang yang menghargai kegagahan, bukan? Kita adalah orang-orang yang siap menghadapi kesukaran apapun juga, bukan orang-orang lemah yang cengeng, bukan? Aku pun tahu bahwa kau seorang pendekar yang gagah perkasa, bukan seorang gadis yang cengeng. Nah, usirlah semua perasaan sedih itu, kekasihku, sayangku, dan ceritakan kepadaku apa yang lelah terjadi maka engkau menjadi begini berduka setelah dijodohkan dengan aku." kata Han Beng yang berusaha meyakinkan Hok Cu.


Dengan lembut pula Hok Cu melepaskan kedua tangan, kekasihnya yang memegang kedua pundaknya, mengguraikan kedua ujung baju menyusut air matanya dan menghentikan tangisnya. Kemudian, dengan kedua mata merah, ia memandang Han Beng, mencoba untuk mengumpulkan kekuatan hatinya dan membuka mulut untuk memberi penjelasan.


"Han Beng..., aku.... aku...... aku tidak pantas menjadi isterimu......" kata Hok Cu yang kemudian berhenti lagi dan memejamkan mata karena tidak kuat melanjutkan.


Hok Cu menoleh ke kanan kiri, dan dilihatnya para perajurit masih melakukan pembersihan dan menggeledah di semua tempat.


"Han Beng, mari kita pergi dari sini bicara di tempat yang sepi." kata Hok Cu kemudian.


Han Beng mengerti maksud Hok Cu, lalu dia menggandeng tangan kekasihnya yang terasa dingin lalu mereka keluar meninggalkan tempat itu. Langit di ufuk timur mulai kemerahan, tanda bahwa pagi akan segera muncul menggantikan malam. Mereka terus berjalan sampai mereka tiba di lereng bukit yang sepi.


Han Beng mengajak kekasihnya menghampiri sebatang pohon besar di sana burung-burung sudah mulai sibuk menyambut datangnya fajar.


"Nah, di sini sepi, Hok Cu. Keluarkanlah isi hatimu dan ceritakan segalanya kepadaku. Ingat, aku adalah orang yang kau cinta dan mencintamu, aku adalah calon suamimu, juga satu-satunya orang yang dapat kaupercaya. Nah, ceritakan semuanya!" bujuk Han Beng.


Mereka berdiri berhadapan secara dekat. Hok Cu menatap wajah kekasihnya dalam keremangan subuh.


"Han Beng, aku......... aku........" kata Hok Cu yang kembali gadis itu tidak anggup melanjutkan.

__ADS_1


Ia tidak tega melihat bagaimana nanti pemuda itu menyambut keterangannya, la tidak tega melihat pembahan yang akan terjadi pada wajah yang dicintanya itu, yang akan diselimuti kedukaan dan kekecewaan yang amat mendalam.


Kalau ia memberi penjelasan, sama saja denga menusuk jantung kekasihnya dengan batang pedang berkarat, karena itulah dia tidak tega.


"Han Beng, aku...... aku tidak mampu menerangkan......." kata Hok Cu yang kembali meneteskan air matanya.


Kedua tangan Han Beng menangkap kedua pangkal lengan kekasihnya dan mengguncangnya sedikit.


"Hok Cu kau harus mampu! Harus.....! Tidak boleh kau membiarkan ada rahasia di antara kita!" seru Han Beng yang membujuk Hok Cu.


"Han Beng, peluklah aku, sembunyikan mukaku agar aku dapat menceritakannya kepadamu....." kata Hok Cu yang menjadi lemas dan tentu terhuyung, kalau saja Han Beng tidak cepat memeluknya.


Han Beng memondong tubuh yang lemas itu dan mengajaknya duduk di atas akar pohon yang menonjol keluar dari tanah. Dia setelah memangku gadis itu yang merebahkan kepalanya di dada yang bidang, menyembunyikan mukanya di dada itu.


Kini Hok Cu tidak akan melihat perubahan pada wajah kekasihnya dan gadis itu pun mulai tenang, lalu dengan lirih, namun jelas, ia bercerita.


"Han Beng, sebelumnya maukah kau memaafkan aku?" tanya Hok Cu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ...


...Bersambung...


...    ...

__ADS_1


__ADS_2