
Keduanya menjadi tambah bersemangat dan menggali dengan cepat. Akhirnya cangkul mereka bertemu dengan benda keras dan setelah tanah di atasnya dibersihkan, tampaklah sebuah peti besi.
Pemuda dan gadis itu lalu menarik peti itu dari kanan kiri, mengangkat peti dan menaruhnya di mulut goa yang lebih terang. Dengan wajah berseri dan mata bersinar-sinar, keduanya lalu membuka peti itu dan mereka terpesona, mata mereka silau oleh harta benda yang terdapat di dalam peti.
Bahkan perak pun tidak ada, yang ada hanya emas, semuanya dari emas. Perhiasan-perhiasan beraneka macam, terbuat dari emas permata yang biasanya hanya dipakai oleh para permaisuri, selir Kaisar dan para puteri istana. Di bagian bawah terdapat emas beratus-ratus kati.
"Ayah, akhirnya aku dapat memenuhi pesanmu!" seru Liu Ceng yang kemudian menangis tersedu-sedu sambil berlutut di samping peti harta karun itu.
Hua Li merasa terharu mendekatinya dan menyentuh pundak Liu Ceng dengan Lembut, Liu Ceng mengangkat muka dan begitu melihat Hua Li, ia pun menubruk dan mereka saling berangkulan. Liu Ceng menangis di dada kekasihnya itu.
Sejenak Hua Li membiarkan pemuda itu menangis karena itulah yang terbaik bagi pemuda yang agaknya sudah lama dihimpit berbagai kepahitan hidup.
Liu Ceng melampiaskan semua kepahitan itu melalui air matanya yang membanjir dan membasahi baju sampai membasahi dadanya. Air mata itu seolah menembus kulit dadanya dan menyirami perasaan hatinya mendatangkan kesejukan dalam hatinya sendiri yang juga dihimpit banyak kepahitan hidup.
Walaupun Hua Li sendiri juga ingin menumpahkan semua perasaannya, namun dalam pikirannya perasaan Liu Ceng yang lebih kacau akan hal ini.
Liu Ceng adalah seorang gadis yang sudah memiliki kekuatan batin sehingga setelah melalui tangisnya itu ia menumpahkan semua perasaannya, kini ia sudah tenang kembali.
Pemuda otu menarik waiahnyanya dari dada bahu Hua Li, melepaskan rangkulannya dan sambil mengusap sisa air mata yang menempel di pelupuk matanya.
"Adik Hua, ma'afkanlah kelemahanku. Karena merasa girang dan berbahagia menemukan harta karun ini dan dapat memenuhi pesan Ayahku, maka aku menjadi lemah dan menangis. Lihat, aku membuat bajumu menjadi basah. Maafkan aku, adik Hua." ucap Liu Ceng yang tak enak hati.
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa, kakak Ceng. Aku ikut bersyukur bahwa kita dapat menemukan harta karun ini." kata Hua Li sembari mengulas senyumnya.
"Iya, semua berkat bantuanmu, adik Hua." kata Liu Ceng yang menata Hua Li.
"Tidak kakak Ceng. Kita yang mendapatkannya secara bersama-sama." ucap Hua Li.
"Melihat tanda-tanda tadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa agaknya pejabat Bong yang mencuri harta ini dari istana Kerajaan Han, sengaja menyembunyikan peti harta karun ini di sini. Delapan orang itu tentu orang-orangnya yang mengerjakan penggalian untuk menyimpan harta karun. Kemudian, karena tidak ingin ada orang mengetahuinya, dan agar jangan ada yang membocorkan rahasianya itu, dia lalu membunuh delapan orang itu, setelah harta karun ditanam dengan baik. Dan pejabat Bong yang korup itu pula yang sengaja menanam semak belukar di depan goa untuk mencegah orang memasuki goa Dan dia membiarkan mayat delapan orang itu di dalam goa karena kalau ada orang yang nekat membabat semak belukar masuk goa, tentu akan takut kalau melihat delapan buah kerangka manusia itu. Kemudian, menurut perkiraanku, agar dia tidak lupa tempat ini, dia sengaja membuat peta itu." jelas Liu Ceng.
"Tapi kenapa di Bukit Sorga dekat kota raja itu terdapat peti yang di dalamnya ada ukiran Ular Kobra?" ta ya Hua Li yang penasaran.
"Rupanya pejabat Bong memang cerdik dan licik. Dia juga memperhitungkan bahwa peta yang dibuatnya itu mungkin membawa orang ke Bukit Sorga yang berada di sebelah selatan kota raja. Dan mungkin karena dia sudah tua, dia hendak mewariskan peta itu kepada orang lain dan dia memberi tanda ukiran ular kobra, pada peti itu kalau-kalau pewarisnya salah memperhitungkan dan mendapatkan peti kosong itu. Juga tentu saja dia hendak mengelabuhi orang-orang lain, kalau-kalau peta itu terjatuh ke tangan orang lain." kembali Liu Ceng menjelaskannya.
"Bagus, kakak Ceng! Jasamu sungguh besar sekali terhadap Kerajaan. Kau telah membantu Kerajaan dengan menemukan kembali harta karun yang menjadi hak milik Kerajaan. Aku akan melaporkan kepada Yang Mulia Kaisar akan jasa besarmu ini agar kau akan mendapat imbalan yang sepantasnya!"
Liu Ceng dan Hua Li memandang kepada tuan putri Mongol itu, sementara itu Liu Hong yang datang dan berjalan perlahan menghampiri mereka.
"Knakak Ceng dan adik Hua, jangan memandang kepadaku seperti itu! Urusan harta karun adalah urusan yang dapat dibicarakan antara kakak Ceng dan tuan putri, sama sekali aku tidak ikut campur. Hanya kuminta tuan putri tidak memusuhi kalian dan kuharap saja agar urusan itu dapat diselesaikan dengan cara damai. kakak Ceng adalah kakak angkatku dan Adik Hua adalah kakak misanku, kalian berdua di satu pihak adalah kakak-kakakku, dan di lain pihak, Putri raja calon adalah istrikuc. Karena itu, dalam urusan harta karun ini aku tidak mencampuri. Aku akan membantu kalian berdua kalau memperebutkan harta karun dengan orang lain, demikian pula aku akan membantu tuan putri dengan damai tanpa permusuhan." kata Liu Hong,
Hua Li dan Liu Ceng merasa terharu. Bagaimanapun juga, Liu Hong sudah bicara dengan sejujurnya, mengakui bahwa ia telah menerima tuan putri raja itu sebagai calon istrinya Mereka harus menghormati cinta kasih Liu Hong yang dijatuhkan kepada tuan putri, gadis yang cantik dan lihai, juga berpenampilan lembut itu.
Liu Ceng maju menghampiri Liu Hong dan dua orang pemuda itu saling rangkul.
__ADS_1
"Adik Hong, aku mengerti dan tidak akan membawamu dalam urusan ini," kata Liu Ceng.
Setelah melepaskan rangkulannya pada adik angkatnya, Lou Ceng lalu menghadapi tuan putri Yu.
"Tuan putri...!"
"Ah,kakak Ceng. Biarlah kau mengenal aku sebagai Yauw Lie saja."ucap Putri raja Yu atau Yauw Lie.
"Tapi kau adalah seorang putri raja, maka sudah semestinya kalau aku menyebutmu tuan putri. Tuan Putri, kata-katamu tadi keliru. Aku mencari harta karun sama sekali bukan untuk pemerintah Kerajaan Mongol, dan juga harta karun itu milik Kerajaan Han. Mendiang ayahku menyita dari seorang pejabat yang korup, menyita petanya maka dapat dikatakan bahwa harta karun itu yang berhak adalah mendiang ayahku. Sebagai pewarisnya, akulah yang berhak memiliki harta karun ini. Kukira hal ini tidak perlu kujelaskan lebih banyak karena ketika engkau muncul sebagai Yauw Lie, engkau sudah mendengar semua." jelas Liu Ceng.
"Aku mengerti, kakak Ceng. Akan tetapi perlu kau ingat bahwa harta karun itu berasal dari milik Kerajaan Han yang telah dikalahkan Kerajaan Mongol kami, maka semua milik Kerajaan Han yang kalah sudah sewajarnya menjadi rampasan dan milik kerajaan yang menang. Selain itu, harta karun itu terdapat di pegunungan tengkorak yang juga menjadi wilayah Kerajaan Mongol maka pemilik yang berhak dan sah adalah Kerajaan Mongol," bantah Yauw Lie.
"Nanti dulu, tuan putri!" seru Hua Li dengan suaranya tetap halus karena dia ingat bahwa pangeran itu adalah calon suami adik misannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...