
Akan tetapi, melihat betapa serangan pedang di tangan Hok Cu membuat lawan seperti terkejut dan kewalahan, bahkan kini berganti senjata, dia menjadi gembira sekali dan bersama Giok Cu, dia pun cepat mendesak ke depan dan menghujankan serangan kepada lawannya.
Kini pemuda tinggi besar itu menggerakkan tongkatnya dengan gerakannya yang kacau balau dan seperti orang mabuk saja. Tubuhnya terhuyung ke sana-sini, bahkan seperti kadang-kadang hendak jatuh.
Hebatnya, semua gerakan aneh itu dapat membuat tubuhnya bukan saja terhindar dari hujan serangan dua orang lawannya, bahkan ujung tongkatnya masih sempat melakukan serangan balasan yang cukup ampuh, membuat Hong Lan dan juga Hok Cu terpaksa meloncat mundur dengan kaget.
Sementara itu, para penyerang tadi juga terdesak hebat oleh tiga belas orang pengawal berkuda. Beberapa orang di antara para penyerbu itu sudah roboh terluka. Akan tetapi tiba-tiba terdengar sorak sorai dan muncullah sedikitnya lima puluh orang, berlarian ke tempat itu dengan segala macam senjata di tangan.
Dengan senjata di tangan, mereka menyerbu dan mengamuk sehingga tiga belas orang pengawal itu tentu saja terkejut dan terdesak.
Melihat ini, pemuda tinggi besar yang tadi dikeroyok oleh Hok Cu dan Hong Lan, tiba-tiba membuat gerakan melompat jauh meninggalkan dua orang lawannya, mendekati para pengawal lalui berseru dengan suara nyaring.
"Kalian tidak lekas pergi mau tunggu mati? Cepat pergi susul majikan kalian dan lindungi dia!" seru pemuda itu.
Para pengawal itu seperti diingatkan bahwa kereta yang membawa Liu Tai sudah sejak tadi pergi maka kini mendengar seruan pemuda tinggi besar itu, mereka lalu membalikkan kuda dan melarikan diri.
Tiga orang teman mereka yang roboh dan tewas terpaksa mereka tinggalkan. Para penyerbu itu tidak dapat melakukan pengejaran karena mereka tidak mungkin dapat menyusul lawan yang berkuda. Maka, kini semua kemarahan mereka tumpahkan kepada pemuda tinggi besar yang lihai itu.
Akan tetapi, di antara suara riuh rendah mereka, tiba-tiba seorang di antara orang-orang itu berteriak.
"Pendekar Naga Sakti Sungai Kuning!"
Teriakan ini membuat semua orang menghentikan gerakan mereka yang hendak mengeroyok pemuda tinggi besar itu. Mereka terkejut mendengar disebutnya nama julukan ini, sebuah nama julukan yang baru muncul akan tetapi sudah menggemparkan karena sepak terjang pendekar itu yang amat mengejutkan bagaikan seekor naga sakti yang turun dari angkasa untuk membersihkan segala bentuk kejahatan di sepanjang Sungai Kuning.
Hong Lan juga menahan serangannya dan dia berdiri tertegun memandang pemuda tinggi besar itu. Dia ingat pada malam itu yang tidak begitu terang, akan tetapi dia ingat bahwa inilah orang yang pernah dilawannya yaitu ketika dia hendak memperkosa seorang wanita gagah dan pemuda tinggi besar inilah yang menggagalkannya.
__ADS_1
Terlebih pada permainan tongkatnya yang aneh itu. Jadi orang yang telah dua kali ditempurnya ini berjuluk Naga sakti sungai Kuning. Dia akan mencatat nama itu.
Dengan mempergunakan kesempatan selagi semua orang tertegun yang membuat dua orang pengeroyoknya yang lihai tadi pun menghentikan serangan mereka, pemuda tinggi besar itu lalu berloncatan cepat dan sebentar saja bayangannya sudah lenyap di antara pohon-pohon.
Kalau saja Hok Cu tahu siapa pemuda itu, yang bukan lain adalah Han Beng, Tentu saja Hok Cu tidak mengenalnya juga sebaliknya Han Beng tidak lagi mengenal gadis yang kini menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita, manis dan lihai itu.
Ketika mereka saling berpisah, Han Beng berusia dua belas tahun dan Hok Cu baru berusia sepuluh tahun! Dan dua belas tahun telah lewat sejak mereka saling bertemu dan menjadi sahabat.
Kini semua orang yang tadi menyerang kereta, juga puluhan orang yang datang membantu, memandang kepada Hok Cu dan Hong Lan.
Satu orang diantara mereka, yaitu seorang yang pemimpin memimpin penyerangan pertama, sudah melangkah maju menghampiri dua orang muda itu dan hormat.
"Terima kasih atas bantuan pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi sayang sekali bahwa sergapan kita terhadap pembesar lalim penindas rakyat itu gagal karena pendekar naga sakti itu melindunginya!" kata pemimpin penyerangan itu.
"Kami adalah orang-orang yang membenci para pembesar lalim dan agaknya tidak berbeda dengan kalian yang juga memusuhi mereka. Kami mewakili rakyat yang menderita tekanan dan penindasan sehubungan dengan pengerahan rakyat yang dipaksa untuk bekerja membangun terusan. Kami dipaksa, kalau tidak dapat menyogok, maka pemuda-pemuda kami dipaksa bekerja, gadis-gadis kami dipaksa pula bekerja di dapur umum dan untuk menghibur para mandor. Kami ingin memberontak terhadap para pembesar lalim yang menindas rakyat." jelas laki-laki itu.
"Wah, kiranya kalian adalah pemberontak-pemberontak!" seru Hong Lan yang tertawa mengejek.
"Kalian memang benar! Para pembesar lalim yang melaksanakan pengumpulan tenaga pekerja terusan, memang patut dibasmi!" seru Hok Cu yang tiba-tiba dan hal ini diam-diam mengejutkan hati Hong Lan.
Rupanya gadis yang bersamanya ini setuju dengan para pemberontak itu. Dia sendiri sebetulnya tidak perduli akan pemberontakan terhadap pemerintah. Dia hanya akan bertindak demi keuntungan diri sendiri. Tapi karena dia melihat betapa gadis itu membenarkan mereka yang menentang pemerintah, dia pun pura-pura setuju.
"Memang, para pembesar itu menjemukan sekali, korup dan tukang menerima sogokan, mereka menindas rakyat untuk menggendutkan perut sendiri!" seru Hong Lan seraya mengangguk-anggukkan kepalanya, walaupun dalam hati bertentangan dengan pemikirannya.
Mendengar ucapan dua orang muda yang tadi mereka saksikan sendiri keIihaiannya, orang-orang yang menamai dirinya pejuang rakyat itu merasa gembira sekali. Mereka lalu mengundang Hok Cu dan Hong Lan untuk berkunjung ke tempat tinggal mereka untuk berkenalan.
__ADS_1
"Ketua kami akan merasa gembira sekali kalau dapat bertemu dan berkenalan dengan kalian yang gagah perkasa, yang tadi telah membantu kami." ucap pimpinan penyerang itu.
Sebetulnya Hong Lan tidak tertarik akan tetapi karena Hok Cu ingin sekali tahu lebih banyak tentang orang-orang yang dianggapnya gagah perkasa dan berjiwa patriot, pembela rakyat tertidas itu, ia menerima undangan mereka dan dengan sendirinya Hong Lan menerimanya.
Pemuda ini tidak ingin segera berpisah dari gadis yang membuatnya tergila-gila itu. Maka, pergilah mereka berdua bersama pimpinan itu, menyusup-nyusup ke dalam hutan dan akhirnya mereka tiba di dekat sebuah bangunan darurat yang berdiri di tengah-tengah hutan, di tempat yang amat liar dan tak pernah didatangi, orang dari luar.
Bangunan darurat itu terjaga kuat dan di belakang bangunan itu terdapat sebuah dataran luas dimana terdapat banyak sekali pria yang sedang berlatih silat. Kiranya tempat ini menjadi sarang para pemberontak yang menamakan diri mereka pejuang rakyat itu.
Dan memang harus diakui bahwa banyak pula penduduk dusun, terutama mereka yang masih muda, yang melarikan diri karena tidak mau dijadikan pekerja paksa, di tampung oleh gerombolan ini dan menjadi anggauta "pejuang".
Dipandang sepintas lalu, memang mereka pantas dinamakan pejuang yang hendak membela rakyat dari penindasan para pembesar yang menyalahgunakan perintah dari istana dalam hal pembuatan terusan itu.
Hok Cu sendiri tertarik dan merasa kaget kepada mereka, maka ia mau diajak kesitu untuk bertemu dan berkenalan dengan orang yang menjadi pemimpin rakyat yaitu yang memimpin gerakan membela rakyat tertindas itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1