
"Masih guru, mereka adalah Coa Siang, keturunan ketua perguruan Harimau Hitam di Ta Bun dekat Poyang di utara Sungai kuning, dan juga istrinya yang bernama Cu Ming." jawab Han Beng.
"Bagus sekali, muridku. Dengan demikian tidak akan sia-sia aku mendidikmu selama lima tahun ini. Akan tetapi kini telah lima tahun kau menjadi muridku dan seluruh ilmu yang aku miliki telah kuberikan kepadamu, bukan hanya ilmu silat, juga ilmu pengobatan. Dan sudah tiba janjiku kepada Kwe Ong untuk menyerahkan kau kepadanya agar kau menerima didikan dari-nya selama lima tahun pula." jelas Hua Li yang mengingatkan perjanjian mereka.
"Murid menta'ati semua perintah guru. Akan tetapi sebelum berpisah, murid mempunyai sebuah permintaan kepada guru, dan murid harap guru sudi pertanyaan murid ini." ucap Han Beng dengan memberi hormat.
"Apakah pertanyaan kamu itu muridku? Terus terang saja, aku tidak akan memberikan kamu pusaka, karena aku tidak mempunyai pusaka apa pun, pusakaku hanyalah ilmu-ilmu yang sudah kuberikan kepadamu dan juga kecapi. Ma'af kecapi ini tak akan aku berikan pada kamu, karena banyak kisahku bersama kecapi ini dan juga berkat kecapi ini aku bisa hidup sampai sekarang. Kecapi ini seperti nyawa keduaku." kata Hua Li yang memeluk kecapinya.
"Iya guru, saya mengerti akan hal itu. Yang ingin murid tanyakan, bolehkah murid tahu kenapa guru masih saja melajang? Apakah tak ada laki-laki yang guru cintai dan guru membina rumah tangga dengan laki-laki itu?" tanya Han Ben dengan hati-hati.
"Ah..!" seru Hua Li yang meloncat turun dari atas batu, tubuhnya menggigil, mukanya merah dan dia mengepal kedua tangannya, memandang kepada Han Beng.
"Han Beng! Apa maksudmu dengan itu? Apa kau kira aku ini perawan tua yang tak laku, begitukah!" seru Hua Li dengan geram.
Tentu saja setiap wanita yang ditanya hal seperti itu, pastinya hatinya lebih sensitif dan langsung bereaksi
Han Beng memberi hormat, sikapnya tetap tenang, tanda bahwa pemuda remaja berusia tujuh belas tahun ini tentu mempunyai batin yang kuat, mampu menahan perasaan sehingga dia selalu bersikap tenang, tidak dipengaruhi perasaan.
"Harap guru jangan salah sangka. Apa yang telah murid katakan, murid hanya tak ingin jika guru menyiksa diri." jawab Han Beng.
"Aku menyiksa diri? aku bukan menyiksa diri, hanya saja aku belum menemukan laki-laki yang cocok, yang benar-benar mencintai aku dengan tulus dan sejalan dengan tujuanku!" jelas Hua Li yang menatap Han Beng dengan tajam.
"Harap guru tenang agar dapat berpikir secara luas dan mendalam, guru. Murid melihat betapa guru menyiksa diri sendiri dengan kesendirian guru. Kalau guru mengijinkan, bolehkah murid selalu mendampingi guru? Karena selama lima tahun kebersamaan kita, hati saya bergejolak! Saya mencintai guru, tapi bukan cinta seorang murid pada gurunya. Tapi ini lain, seperti....kekasih!" kata Han Beng dengan sangat hati-hati dia mengungkapkan perasaannya.
Karena dia tak mau memendam rasa itu berlama lama. Dia sudah tahu akan risikonya tapi dia tetap mengungkapkannya, gelora yang terus membara dan dia tak ingin berpisah dengan gurunya itu .
__ADS_1
Wajah cantik yang tadinya merah itu kini berubah pucat dengan kedua matanya yang terbelalak, tapi dia masih marah sekali.
"Kau ........ kau! apakah maksud kamu kalau kamu mencintaiku? Seperti sepasang kekasih?" tanya Hua Li yang meyakinkan pendengarannya.
"Iya guru, saya mencintai guru. Apakah tidak boleh jika saya ingin selalu bersama guru?" tanya Han Beng dengan tatapan yang lain.
Tatapan anak muda yang baru berusia belasan tahun itu, mengingatkan Hua Li pada tatapan Liu Ceng, kekasihnya yang telah tiada.
Hua Li yang tadinya marah besar, seketika merasa tubuhnya lemas dan dia pun menjatuhkan diri terduduk di atas batu, termenung dengan muka pucat seperti patung.
"Guru, maafkan murid. Bukan maksud murid untuk kurang ajar dan ingin melawan atau membantah guru, melainkan karena perasaan cinta saya pada guru." kata Han Beng sambil berlutut dan menundukkan kepalanya.
"Aku tidak tahu apakah benar ini perasaan cinta atau bukan. Karena itulah, aku tetap mengirim kamu pada ketua Kwe Ong! Mungkin dengan perpisahan ini, akan menimbulkan rasa rindu yang mendalam diantara kita. Dan bila nanti kita berjodoh, pasti kita akan dapat bertemu kembali." kata Hua Li yang menatap ke arah muridnya Han Beng.
Tak berapa lama dia selesai membersihkan diri, Han Beng melihat gurunya duduk bersila di tengah ruangan pondok itu sambil memejamkan dua matanya. Melihat ini, dia tidak berani mengganggu dan dia kembali memasuki kamarnya, untuk mengganti pakaiannya sekaligus mengumpulkan pakaian dan membungkusnya menjadi sebuah buntalan.
Diikatnya buntalan itu di punggungnya, kemudian dia pun keluar dari dalam kamar. Dan Gurunya masih duduk bersila seperti tadi, kedua mata terpejam. Han Beng tetap tidak berani mengganggu dan dia pun menjatuhkan diri berlutut didepan gurunya, menanti sampai gadis itu sadar dari samadhinya.
Lebih dari dua jam Han Beng berlutut di depan gurunya, dengan penuh kesabaran dia menanti sampai gurunya bangun dari samadhinya.
Sedikit pun dia tidak merasa gelisah atau kehilangan kesabaran. Kalau gurunya tidak sadar sampai sehari semalam pun, dia akan tetap menunggu, karena dia harus berpamit dari gurunya sebelum meninggalkan tempat itu.
Gurunya selama ini amat dikasihinya. Di dalam dunia ini, hanya dialah satu-satunya manusia yang dekat dengannya. Karena itu, bagaima mungkin dia meninggalkan gurunya ini tanpa pamit.
__ADS_1
"Han Beng...!"
Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari gurunya.
Han Beng cepat mengangkat wajahnya dan memandang ke arah gurunya yang sudah membuka mata dan tersenyum kepadanya. Han Beng mengamati wajah gurunya dan dia pun merasa jantungnya seperti ditusuk karena terharu.
Wajah itu membayangkan kedukaan mendalam, namun mulut itu tersenyum kepadanya. Dia merasakan adanya suatu pertentangan di dalam batin gurunya, dan dia berpikir bahwa hal itu tentu muncul karena ulahnya yang mengungkapkan perasaannya.
"Han Beng, tahukah kau pergi nanti, sebenarnya aku merasa kalau hidupku menjadi kosong tak berarti, seolah-olah pondok ini akan menjadi sepi." kata Hua Li yang memandang muridnya.
Han Beng semakin terharu dan dia diapun memberi hormat sambil berlutut.
"Guru, ampunkan murid karena bersikap lancang dengan mencintai guru seperti seorang kekasih." kata Han Beng yang tak enak hati, tapi kalau rasa itu tidak dia ungkapkan sekarang juga, mana mungkin gurunya akan tahu akan perasaannya saat ini.
"Tidak apa-apa Han Beng, kalau tak begini mana mungkin aku tahu perasaan kamu. Hanya saja kamu tetap harus menimba ilmu ke perguruan Pengemis, untuk menepati janji guru pada ketua Kwe Ong." kata Hua Li.
"Baik guru, dan jaga diri guru baik-baik. Agar nanti kita bisa bertemu kembali." kata Han Beng yang pasrah dengan keputusan gurunya.
....~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...