Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 102


__ADS_3

Sebelum dia sempat menangkap kembali pedangnya yang terbang karena dihantam pedang lawan, Hua Li sudah mendahuluinya melompat ke atas dan ketika dia turun kembali, pedang milik pangeran itu telah berada di tangan kirinya.


 


Dengan terampasnya pedang, semua orang juga mengetahui bahwa Tuan putri Yu itu telah dikalahkan oleh Hua Li yang mewakili Liu Ceng.


"Wah, anda hebat sekali pendekar Hua, saya mengaku kalah dan terima kasih atas pelajaran hari ini!" seru Tuan putri Yu yang mengakui hal ini dan diam-diam dia kagum dan berterima kasih kepada Hua Li yang telah mengalahkannya tanpa melukainya.


Dia tahu bahwa jika Hua Li mau, dia tentu sudah roboh terluka.


 Liu Hong melompat dan menghampiri Hua Li. Kemudian dia menjulurkan tangannya minta pedang pangeran itu dikembalikan. Hua Li dapat menanggapi gerakan Liu Hong tanpa kata itu.


Dia menyerahkan pedang rampasan kepada adik misannya. Liu Hong menerima pedang dan menghampiri Tuan putri Yu. Diserahkannya pedang itu kepada Tuan Putri Yu.


  "Tuan Putri, anda telah kalah." kata Liu Hong dengan lembut.


Tuan Putri Yu menerima pedang itu sambil menghela napas panjang. Dia memandang kepada Hua Li yang telah berdiri disamping Liu Ceng.


"Pendekar Hua, kami mengaku kalah dan sesuai dengan perjanjian, harta karun itu boleh dimiliki saudara Liu Ceng dengan sah. Kalau ada pihak yang hendak merebutnya, kami akan membantu saudara Ceng untuk menentang mereka." kata Tuan putri Yu yang menatap Liu Ceng dan Hua Li secara bergantian.


Mendengar ucapan tuan putri Yu, Beng Ong dan Si Mayat Betina mengerutkan alisnya dan merasa penasaran sekali. Akan tetapi tentu saja mereka berdua tidak berani menentang pangeran yang memegang tanda kekuasaan Kaisar.


"Pangeran, kami mohon diri, akan kembali ke Bukit Sorga," kata Beng Ong dan dengan muka keruh penuh kekecewaan, dia dan si Mayat betina berkelebat dan lenyap dari situ.

__ADS_1


Kong Sek yang merasa penasaran sekali, terutama kepada Hua Li namun juga merasa tidak berdaya untuk membalas dendam karena tingkat kepandaian Hua Li yang jauh melampaui tingkatnya. Dia hanya memandang kepada Pendekar kecapi itu dengan mata mencorong penuh kebencian.


"Pendekar kecapi jahanam! kau tunggu saja. Akan tiba saatnya aku datang mengambil kepalamu untuk membalas kematian ayahku!" seru Kong Sek seraya menudingkan telunjuknya kepada musuh besarnya itu dengan raut wajah merah karena kesal dan marahnya.


Setelah berkata demikian, Kong Sek memberi hormat kepada tuan Putri Yu lalu meninggalkan tempat itu.


Sementara itu Liu Ceng menghadapi para tokoh persilatan yang tadi berdiri di belakangnya dan yang mendukungnya, mengangkat kedua tangan depan dada dan memberi hormat.


"Saudara sekalian yang budiman, saya Liu Ceng atas nama mendiang ayah Liu Bok sangat berterima kasih sekali atas dukungan anda sekalian sehingga harta karun itu dapat saya peroleh untuk memenuhi pesan terakhir ayahku. Karena sekarang urusan mengenai harta karun telah dapat diselesaikan, maka saya harap tidak akan terjadi lagi keributan dan pertengkaran mengenai harta karun. Sekali lagi, banyak terima kasih saya ucapkan kepada anda sekalian yang budiman." kata Liu Ceng dengan ramah dan sopan.


Mendengar perkataan Liu Ceng,para tokoh persilatan dengan senang hati meninggalkan bukit itu. Demikian pula dengan Cu Liong dan muridnya, Cu Ai, juga telah meninggalkan tempat itu secara diam-diam tanpa pamit.


Kini yang masih berada di depan goa hanya Hua Li dan Liu Ceng, berhadapan dengan Tuan putri Yu dan juga Liu Hong.


"Kakak Hong, sekarang sebaiknya kakak pulang dulu ke Pulau Ular. Aku harus kembali ke kota raja untuk mempertanggung-jawabkan kegagalanku mengemban tugas mendapatkan harta karun seperti yang diperintahkan Yang mulia Kaisar." kata tuan putri Yu dengan raut wajah muram.


"Tidak, Tuan putri. Aku harus ikut bersamamu ke kota raja!" seru Liu Hong seraya merangkul kekasihnya.


"Jangan, kakak Hong. Kau pulanglah ke Pulau Ular dan tunggu di sana. Percayalah, kalau aku dapat terbebas dari hukuman karena gagal melaksanakan tugas, aku akan memberitahu kepada ayahku tentang hubungan kita dan ayah pasti akan mengirim orang untuk menyampaikan pesan secara resmi kepada orang tuamu dan kita dapat menikah dengan resmi." jelas Tuan putri Yu.


"Tidak, tidak, tuan putri!" seru Liu Hong yang berkeras dan menatap Tuan Putri Yu dengan intens. Sepasang matanya menjadi merah dan tangisnya sudah berada di ambang pelupuk mata mereka berdua.


"Kalau kau terhukum, biarlah aku juga menemanimu. Kita pertanggung jawabkan bersama. Aku akan membelamu sampai mati, tuan Putri!" seru Liu Hong, tuan putri Yu tak sanggup menahan air matanya, dia menangis tersedu-sedu di dada Liu Hong.

__ADS_1


Liu Ceng dan Hua Li saling pandang dengan terkejut dan heran. Mereka tertegun menyaksikan adegan itu. Melihat tuan putri yang menangis demikian sedihnya merupakan penglihatan yang luar biasa anehnya.


Betapa kuat rasa cinta mereka, Cinta membuat seorang tuan putri yang gagah perkasa yang tadinya merupakan seorang gadis yang pemberani, keras hati dan ganas itu menjadi demikian lemah dan cengeng. Hampir mereka tidak percaya kalau tidak menyaksikan sendiri keadaan Tuan putri Yu dan Liu Hong di saat itu.


Hati Hua Li yang lembut tersentuh dan ia merasa terharu sekali. Ia tidak ingin melihat cinta kasih antara Liu Hong dan tuan putri Yu menjadi berantakan yang mengakibatkan Liu Hong hidup menderita sengsara karena tuan putri itu gagal mendapatkan harta karun.


Maka dengan hati tetap ia melangkah maju menghampiri pangeran dan adik angkatnya itu, lalu berkata lembut.


"Tuan putri, anda adalah seorang pendekar yang mencinta negara dan mengemban tugas untuk mendapatkan harta karun dengan setia. Demikian pula aku mengemban tugas dari mendiang ayahku tercinta dengan setia. Keadaan dan kedudukan kita berdua sesungguhnya tidak banyak berbeda." kata Liu Ceng yang menatap Tuan putri Yu.


"Mengingat akan keadaan ini, apalagi mengingat bahwa engkau adalah calon suami adik angkatku, bagaimana aku tega membiarkan engkau gagal melaksanakan tugas dan terancam hukuman? Mengingat bahwa kemenanganku memperebutkan harta karun ini tidak sepenuhnya murni karena aku dalam adu jurus ini diwakili oleh adik Hua dan kalau aku maju sendiri melawanmu agaknya aku akan kalah, maka sudah adil kalau aku membagi harta karun ini denganmu. Dengan begini, tugasmu tidak sepenuhnya gagal, demikian pula tugasku. Ambillah setengah dari harta karun itu, Tuan putri!" kata Liu Ceng.


"Apa? Kau rela membagi harta karun ini demi keselamatanku, kakak Ceng?" tanya tuan putri Yu yang menatap wajah Liu Ceng dengan mata terbelalak saking terkejutnya.


"Bukan hanya demi keselamatanmu, tuan Putri. Tapi juga terutama sekali demi Adikku Liu Hong." jawab Liu Ceng dengan mengulas senyumnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2