Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 189


__ADS_3

Han Beng menghela napasnya, sedikit lega dihatinya. Karena yang terjadi pada Yi Hui tidak seperti apa yang dia bayangkan..


"Jangan lupa, adik Hui, kalau kau masih mempunyai seorang Paman yang kini sedang kita cari. Hanya dia adalah anggota keluargamu yang terdekat, dan tentu di samping Pamanmu masih ada keluarganya yang juga merupakan sanakmu. Jadi tak lama lagi kau akan mempunyai banyak orang yang menyayangmu." kata Han Beng dengan mengulas senyumnya.


"Mudah-mudahan begitu, kakak Beng. Sebenarnya, Paman Tang Gu itu bukan hanya kakak dari mendiang Ibuku, akan tetapi juga calon Ayah Mertuaku." kata Yi Hui dengan menghela napasnya.


"Hm, begitukah?" ucap Han Beng yang menahan kejutan dalam hatinya mendengar bahwa nona itu telah menjadi calon mantu orang. Justru kenyataan inilah yang membuat Yi Hui tadi menangis.


Dia teringat bahwa ia tidak bebas lagi, ia adalah tunangan orang calon istri dari seorang yang baru dijumpainya dua kali ketika ia masih kecil berusia kurang dari sepuluh tahun. Yi Hui tidak tahu lagi bagaimana sekarang wajah dari Tang An, tunangannya itu Membayangkan bahwa ia tidak mengenal tunangannya, tidak tahu apakah tunangannya itu sebaik dan selembut Han Beng, inilah hal yang tadi membuat Yi Hui menangis.


"Kami ditunangkan sejak aku usia tujuh atau delapan tahun, kakak Beng. Dan sejak sepuluh tahun yang lalu aku tidak pernah lagi bertemu dengan ' putera Pamanku itu." kata Yi Hui dengan lirih yang sebelumnya dia menghela napasnya.


Han Beng sudah dapat menguasai perasaan hatinya yang tadi terasa tidak enak, bahkan pedih. Dia memaksa diri tersenyum dan matanya mengeluarkan sinar gembira.


 "Wah, kalau begitu, kau tentu akan disambut dengan penuh kebahagiaan oleh mereka, adik Hui! Kalau mereka itu mendengar akan nasibmu yang buruk, tentu keluarga tunanganmu itu akan merasa kasihan dan semakin sayang padamu. Hayo, kita percepat perjalanan ini. Aku ingin sekali melihat kalau kau disambut dengan bahagia oleh mereka!" seru Han Beng yang bangkit dari duduknya.


Yi Hui pun dengan terpaksa bangkit dari duduknya dan keduanya melangkahkan kaki untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Dengn mengenakan pakaian baru yang bersih, dua orang muda itu melanjutkan perjalanan. Hubungan mereka semakin akrab dan keduanya saling cocok, menemukan kebaikan-kebaikan baru pada diri masing-masing, dan mereka saling mengagumi, saling suka, merasa senasib sependeritaan.


Han Beng merasa kasihan sekali kepada Hui Im, juga mendapat kenyataan betapa nona yang bersamanya saat ini memang berwatak baik, ramah dan menyenangkan.


Sebaliknya Yi Hui juga amat kagum kepada Han Beng, merasa berhutang budi, bukan saja karena pemuda ini pernah menolong dan menyelamatkannya, juga budi Han Beng ketika mengantarnya mencari pamannya merupakan budi yang amat besar karena pemuda itu di sepanjang perjalanan memperlihatkan sikap yang amat ramah, sopan dan baik sekali.

__ADS_1


Seorang kakak kandung belum tentu akan sebaik ini sikapnya. Diam-diam Yi Hui merasa suka dan tertarik sekali, akan tetapi setiap kali ia teringat bahwa dirinya sudah ada yang punya, bahwa ia telah terikat perjodohan dengan pemuda lain, ia menahan diri dan hendak melupakan perasaannya yang sedang tumbuh terhadap Han Beng.


"Tidak....! Aku tidak boleh mengharapkan yang tidak-tidak! aku adalah seorang calon isteri pemuda Iain...!" serunya dalam hati Yi Hui yang selalu mengingatkan dirinya.


Akan tetapi, kadang-kadang di waktu malam, kalau mereka berdua tidur di dalam hutan atau di rumah penginapan dimana Han Beng lalu menyewa dua buah kamar yang berdampingan, Yi Hui suka menangis seorang diri.


Ia merasa khawatir sekali, khawatir kalau-kalau tunangannya merupakan seorang pemuda yang tidak menyenangkan dan tidak sebaik Han Beng, atau kalau-kalau ia akan kehilangan Han Beng.


...****...


Kita tinggalkan dulu Han Beng yang dengantar Hui Im mencari paman atau calon ayah mertuanya di kota Pei-Shen yang cukup jauh, dan mari kita tengok keadaan Hok Cu gadis lincah jenaka dan nakal manja yang jatuh ke tangan seorang iblis betina seperti Mo Li dan menjadi murid kesayangannya itu.


Seperti telah diceritakan di bagian depan, Hok Cu hampir saja menjadi korban kecabulan dua orang murid dari Liong San yang bernama Kian Sian. Untung saja muncul Mo Li yang menyelamatkannya.


Dan setelah peristiwa itu, Hok Cu yang berusia lima belas tahun berlatih silat ini makin tekun karena ia tahu bahwa untuk dapat hidup aman, ia harus meniliki ilmu setinggi-tingginya untuk melindung diri sendiri.


 Akan tetapi ada satu hal yang membuat hati Hok Cu merasa tidak suka sekali, bahkan ia membenci orang yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam kehidupannya bersama gurunya.


Orang itu adalah Lui Seng yang bekas perampok tunggal yang kini menjadi penyembah aliran sesat dan yang sudah mempengaruhi hati Mo Li, sehingga gurunya itu kini ikut pula menjadi penyembah patung sesembahan mereka untuk mencari ilmu awet muda dan panjang umur.


Rupanya Lui Seng tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia terus menempel pada Mo Li dan kini senang sekali pria itu datang bertamu dan kalau datang, tinggal di situ sedikitnya sepekan, dan jelas sekali kalau dia menjadi kekasih baru dari Mo Li yang selalu memanjakan tamunya atau kekasihnya ini.


Mo Li adalah seorang wanita yang walaupun usianya sudah lima puluh tahun namun masih cantik pesolek, mewah dan kaya raya. Tentu saja Lui Seng merasa betah tinggal di rumah iblis betina ini karena dia bisa memperoleh segala-galanya untuk memuaskan nafsu-nafsunya.

__ADS_1


Di lain pihak MoLli rupanya sudah tergila-gila kepada Lui Seng, karena laki-laki itu memang seorang yang berpengalaman, biarpun usianya sudah lima puluh tahun lebih, namun berwajah tampan dengan tubuh yang tinggi tegap dan nampak jauh lebih muda daripada usia sebenarnya.


Yang membuat Giok Cu merasa tidak senang adalah karena sikap Lui Seng terhadap dirinya. Laki-laki itu dianggapnya kurang ajar, karena menurut anggapannya.


Sepasang mata laki-laki itu memandang Hok Cu dengan cabul, senyumnya juga dimaksudkan untuk memikat, kata-katanya selalu mengandung sindiran kotor dan sinar mata orang itu kadang-kadang aneh dan menakutkan.


Bahkan kadang-kadang melalui sinar mata dari laki-laki itu, beberapa kali Hok Cu merasa seperti dipaksa untuk bertekuk lutut kepada laki-laki itu.


Yang membuat hati Hok Cu menjadi makin tidak senang adalah peristiwa mengerikan yang beberapa kali terjadi sejak Lui Seng sering datang dan berdiam di rumah gurunya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


 

__ADS_1


__ADS_2