Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 42


__ADS_3

"Anak nakal! Macam-macam saja akalmu! Tidak perlu engkau merayu seperti itu, aku tentu akan mempertimbangkan semua keinginan kalian berdua!" ucap Sin Yang gemas.


 "Terima kasih, Ayah, jadi ayah setuju?" tanya Sin Lin sudah menghampiri dan merangkul ayahnya.


Sin Yang menganggukkan kepalanya.


"Setelah mempertimbangkannya, kurasa memang sudah waktunya kalian menyumbangkan tenaga untuk membantu para pejuang. Aku yakin Pendekar kecapi akan membimbing kalian dan mudah-mudahan saja kalian akan berhasil membantu nona Hua untuk menemukan harta karun Kerajaan Sung itu. Akan tetapi, Sin Lin, engkau harus berjanji akan menaati semua nasehat kakakmu." pesan Sin Yang.


"Tentu saja, Ayah. Aku akan taat sekali kepada kakak Lan!" balas Sin Lin.


"Dan kalian berdua harus menurut semua petunjuk yang diberikan Hua Li. Selain dari itu, aku memberi waktu kepada kalian selama satu tahun. Setelah satu tahun kalian mengembara, kalian harus pulang ke sini!" kembali Sin Yang berpesan


"Baik ayah, kami berjanji," kata Sin Lan dan Sin Lin yang bersamaan.


"Nona Hua, saya titip kedua putra-ku. Walaupun mereka laki-laki, tapi mereka belum berpengalaman akan keadaan diluar sana." ucap Sin Yang pada Hua Li.


"Iya paman, saya ingat pesan paman." balas Hua Li sembari mengulas senyumnya.


"Perlu kamu ketahui pula kalau lembah seribu bunga ini adalah tempat kelahiran ini kamu. Semasa kecil aku dan ibu kamulah yang membangun tempat ini. Ibu kamulah yang menanam semua bunga-bunga disini." ucap sin Yang seraya menebarkan pandangannya ke seluruh taman bunga dihadapannya.


"Benarkah? pantas saja saya seperti ada ikatan dengan taman ini." ucap Hua Li yang juga ikut menebarkan pandangannya.


"Iya, kami sering main petak umpet dan juga kejar-kejaran disini." ucap Sin Yang sekali lagi.


"Baiklah paman, Hua Li akan menganggap tempat ini sebagai kampung halaman Hua Li saat ini." ucap Hua Li yang mengulas senyumnya.


"Sekarang buat Sin Lin Dan Sin Lan, kalian lekas berkemas-kemas dan untuk nona Hua, segera beristirahatlah. Pulihkan tenaga kamu yang telah banyak kamu keluarkan pada saat menemukan rumah ini." ucap Sin Yang.


"Baik paman." jawab Hua Li.


"Baik ayah." jawab Sin Lin Dan Sin Lan yang bersamaan.

__ADS_1


Kakak beradik itu lalu berkemas dan malam itu Hua Li bermalam di rumah Lembah Seribu Bunga.


Pada keesokan harinya, ketika pagi-pagi dua orang puteranya yang menggendong buntalan pakaian dan membawa pedang, berangkat bersama Hua Li.


Sin Yang mengantar mereka sampai di tepi sungai, dan ketiga anak muda itu naik ke sebuah perahu kecil yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


"Hati-hatilah kalian! Ingat setahun lagi kalian harus pulang!" pesan Sin Yang seraya melambaikan tangannya.


"Iya...!"'jawab ketiga anak muda itu yang kompak dan membalas lambaian tangan sin Yang.


Perahu kecil itu melaju pesat, mereka tadi meninggalkan tepi daratan dan mendayung perahu meluncur pesat menuju Pulau Ular yang tampak kecil dari jauh.


.Disisi yang lain, ada sebuah perahu kecil yang ditumpangi oleh dua orang laki-laki muda yang parasnya tampan dan menawan.


Mereka adalah Liu Ceng dan Liu Hong. Setelah keduanya berpisah dengan Hua Li, Liu Ceng dan Liu Hong mengambil keputusan untuk melanjutkan tugas untuk mencari harta karun Kerajaan Sung seperti dipesan mendiang ayahnya. Harta karun itu telah hilang dari tempat persembunyiannya, diambil orang yang ternyata ada ukiran ular kobra di dalam peti yang telah kosong.


Setelah mendayung perahu beberapa lamanya, mereka melihat gugusan pulau-pulau di depan.


"Adik Hong yang manakah pulau tempat tinggalmu? Aku melihat begitu banyak pulau di depan itu," kata Liu Ceng sambil memandang ke arah gugusan pulau-pulau itu.


"Benar, akan tetapi ketika itu kami diantar seorang nelayan dan tidak memperhatikan keadaan seperti sekarang. Akan tetapi, kalau tidak keliru tebakanku, agaknya Pulau Ular itu yang terletak paling kanan itu, bukan?" tebak Liu Ceng seraya menunjuk ke arah pulau tersebut.


"Wah, tebakanmu tepat, kakak Ceng! Bagaimana engkau dapat menebak begitu tepat?" jawab sekaligus tanya Liu Hong.


"Mudah saja. Pulau itu berbeda bentuknya dengan pulau-pulau lainnya. Bentuknya memanjang dan berlekuk-lekuk seperti ular." jawab Liu Ceng.


"Benar sekali perkiraanmu, kakak Ceng. Pulau itu dinamai Pulau Ular oleh para nelayan karena bentuknya." ucap Liu Hong.


"Akan tetapi di sana memang terdapat banyak ular. Bukankah kekayaannya akan ular itu yang membuatnya disebut Pulau Ular?" tanya Liu Ceng.


"Bukan. Sebelum Ibuku tinggal di sana, pulau itu sama dengan pulau kecil lainnya, tidak ada ularnya. Setelah Ibu mengambil keputusan untuk tinggal di pulau itu, untuk menyesuaikan nama pulau itu dan juga untuk keperluan mengambil racunnya, Ibuku yang juga guruku itu membawa ribuan ular, di antaranya banyak yang berbisa, dan dilepas di pulau itu." jelas Liu Hong

__ADS_1


Dengan dipimpin Liu Hong, perjalanan mereka lebih mudah mendarat di Pulau Ular dan dapat mengambil jalan yang aman dari jebakan menuju ke perkampungan yang berada di tengah pulau.


Setelah tiba di gedung tempat tinggal ayah dan kedua ibunya, Liu Hong dan Liu Ceng disambut dengan gembira sekali. Liu Tek dan isterinya gembira melihat Liu Hong pulang.


Demikian pula dengan Ban-tok yang gembira karena Liu Hong yang diberi waktu satu setengah tahun untuk merantau kini baru kurang dari setahun telah pulang.


Lebih-lebih lagi karena murid atau anak angkatnya itu ditemani oleh Liu Ceng, pemuda yang berpakaian putih.


Liu Hong memperkenalkan Liu Ceng kepada ayah dan ibunya. Liu Tek merasa girang mendengar bahwa pemuda yang berpakaian putih yang diakui oleh Liu Hong sebagai kakak angkatnya itu adalah putera mendiang Liu Bok, salah satu saudara jauhnya yang diketahuinya sebagai seorang pendekar patriot.


"Lou Ceng, kami girang sekali bisa bertemu dengan kamu. Kami harapkan engkau akan dapat memberi bimbingan kepada anak kami, Adikmu itu," kata Liu Tek seraya merangkul Liu Ceng.


"Aku sungguh beruntung, bukan hanya dapat menemukan anakku kembali, bahkan kini bertambah mempunyai anak lain lagi." ucap istri Liu Tek dengan mengulas senyumnya.


"Liu Ceng, bangga sekali hatiku mendapatkan seorang anak seperti engkau!" seru Ban Tok.


Pemuda yang bernama Liu Ceng merasa amat terharu. Ia sendiri sudah yatim piatu dan kini ia mendapatkan bukan hanya seorang adik, akan tetapi juga seorang ayah dan dua orang ibu yang menerima dan mengakuinya sebagai seorang anak.


Dua orang gadis itu disambut dengan sebuah pesta keluarga dan mereka berlima makan minum dengan gembira. Setelah selesai makan minum, mereka duduk di ruangan dalam dan di situ Liu Hong diminta untuk menceritakan semua pengalamannya ketika meninggalkan pulau selama hampir satu tahun lamanya.


Liu Hong lalu menceritakan semua pengalamannya ketika ia bertemu dengan Liu Ceng dan Hua Li, lalu mereka bertiga sama-sama menentang Lim Bao dan rekan-rekannya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


   "


__ADS_2