
Mereka menelikung kedua tangan Hok Cu ke belakang, lalu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan kuat-kuat, menggunakan ikat pinggang Hok Cu sendiri yang tadi mereka renggut lepas.
Biarpun mendongkol sekali, Hok Cu menyembunyikan rasa dongkol itu dari mukanya. Ketika dua orang itu membebaskan totokan dari tubuhnya dan ia merasakan darahnya mengalir kembali dengan normal.
Hok Cu tidak tergesa-gesa bergerak, membiarkan jalan darahnya pulih kembali dan ia hanya memandang saja ketika mereka kembali mulai membelai dan menciuminya.
Akan tetapi begitu jalan darahnya sudah pulih kembali, diam-diam ia mengerahkan tenaganya, digerakkannya dengan tiba-tiba kepalanya menghantam San Bo.
Gadis itu melompat berdiri dan kakinya menendang dada Tek Su. Dua orang pemuda yang sedang dimabuk nafsu mereka sendiri itu seperti orang terlena, menjadi lengah dan tak mampu menghindarkan diri dari serangan tiba-tiba itu.
"Duk...! Dess...!"
"Aaargh.....!"
San Bo berteriak kesakitan karena hidungnya bocor, mengucurkan darah ketika dihantam kepala Hok Cu, sedangkan Tek Su terbanting dan terjengkang keras, dadanya terasa sesak dan napasnya terengah-engah.
"Aargh...!" Tek Su juga dia mengaduh-aduh kesakitan.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hok Cu untuk meloncat dan melarikan diri. Yang masih menempel di tubuhnya yang telanjang bulat itu hanya tinggal sepasang sepatunya saja.
Hanya sejenak saja dua orang pemuda itu tertegun dan kesakitan. Melihat gadis itu melarikan diri, mereka pun la berloncatan dan cepat melakukan pengejaran.
Biarpun Hok Cu memiliki kegesitan dan keringanan tubuh, akan tetapi ia berlari dengan kedua lengan terikat di belakang. Tentu saja hal ini membuat ia tidak leluasa lari dan kecepatannya berlari berkurang banyak.
Maka tak lama kemudian, dua orang pemuda itu mampu menyusulnya dan mereka menubruk dari belakang sambil meloncat.Tubuh Giok Cu terbanting keatas pasir dan ditindih oleh mereka berdua.
Hok Cu meronta-ronta, menendang, menggigit dan meludah sehingga dua orang pemuda itu harus menjambaknya, memegangi kedua kakinya, bahkan menamparinya.
__ADS_1
Akhirnya mereka dapat mengikat kedua pergetangan kaki Hok Cu dengan ikat pinggang San Bo dan gadis itu untuk kedua kalinya tak mampu menggerakkan tangan dan kakinya.
Kalau karena tertotok, kini karena kaki tangannya terbelenggu. Akan tetapi kini ia masih mampu membalikkan tubuhnya menelungkup, memutar leher dan memandang kepada dua orang muda yang terengah-engah kelelahan itu dengan mata melotot penuh kebencian.
"Kakak, cepat kerjai gadis liar ini, biar tahu rasa! Aku akan berjaga kalau ada orang datang dan menunggu giliranku!" saran Tek Su yang mendendam kepada Hok Cu karena dadanya tadi tertendang cukup keras dan masih merasakan nyeri sampai sekarang.
"Baiklah saudaraku!" balas San Bo yang saat ini sudah melepaskan ikat pinggangnya untuk membelenggu kaki Hok Cu, mendekati gadis itu dengan wajah menyeringai buas.
Akan tetapi sebelum tangannya mampu menyentuh Hok Cu tiba-tiba terdengar suara halus.
"Kalian mencari mampus!"
Dua orang muda itu terkejut dan cepat menengok. Wajah mereka seketika berubah pucat dan mata mereka terbelalak ketika mereka mengenal siap wanita yang menegur mereka itu.
Mo Li si wanita iblis ini tadi setelah muridnya lari keluar, diam-diam merasa kecewa dan tidak enak. Ia merasa sayang kepada muridnya itu, seorang murid yang baik dan berbakat.
Heran ia kenapa muridnya begitu berkeras hendak menolong dua orang korban itu padahal dua orang korban itu amat diperlukan sebagai "tebusan" ia masuk menjadi anggota pemuja Arca sesmbahan.
Ketika dilihatnya tidak nampak bayangan Hok Cu di luar ruangan itu, ia pun lalu meninggalkan ruangan itu untuk mencarinya.
Ketika ia tidak dapat menemukan Hok Cu di dalam kamarnya, ia dapat menduga kemana perginya muridnya itu. Muridnya itu suka sekali bermain-main di Pantai lautan dan mungkin sekarang, dalam keadaan marah dan kecewa, Hok Cu juga pergi ke sana.
Apalagi di pantai itu amat indah kalau terang bulan dan dapat menyejukkan dan menenangkan hati. Dengan cepat Mo Li lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke pantai.
Mula-mula ia menemukan pakaian muridnya berserakan di pantai. Pakaian luar dan pakaian dalam juga dalam keadaan robek-robek.
Akan tetapi muridnya tidak ada, dan dia menduga tentunya Hok Cu bertelanjang bulat, la pun mengambil pakaian itu dan menyelipkannya di ikat pinggang.
__ADS_1
Kemudian berlari lagi dan melihat bahwa tidak jauh dari situ nampak bayangan dua orang atas pasir. Cepat ia menghampiri dan dapat dibayangkan betapa hatinya seperti dibakar ketika ia melihat muridnya dalam keadaan telanjang bulat menelungkup di atas pasir dengan kaki tangan terikat, dan dua orang pemuda yang bukan lain adalah San Bo dan Tek Su yang berada di dekat muridnya.
Tidak sukar diduga, apa yang akan dilakukan dua orang pemuda itu, maka ia pun lalu menegur mereka.
Melihat bahwa iblis betina itu muncul, dua orang pemuda itu sejenak seperti berubah menjadi patung. Kemudian, maklum betapa lihai dan galaknya wanita itu, keduanya lalu meloncat dan seperti dikomando, mereka melarikan diri.
Mo Li adalah seorang datuk sesat yang ditakuti banyak orang, ia sendiri tidak takut kepada siapapun juga, dan ia terkenal memiliki keberanian dan kekejaman yang luar biasa, tak pernah mau mengampuni musuh-musuhnya atau orang yang menyakiti hatinya.
Melihat betapa muridnya hampir saja diperkosa dua orang pemuda itu, mengalami penghinaan, ia tidak lagi mempedulikan bahwa dua orang pemuda itu adalah tamu-tamunya, murid dari Kian Sian, seorang di antara tamu-tamunya yang terhormat.
Dengan beberapa loncatan saja, ia sudah dapat menyusul mereka. Bagaikan seekor harimau menerkam seekor domba dari belakang, kedua tangannya mencengkeram dan mencekik leher Tek Su dari belakang,
Jari-jari kedua tangannya yang berkuku panjang dan runcing itu mencekik dan menembus kulit dan daging leher.
Tek Su mengeluarkan suara aneh, kedua tangannya berusaha melepaskan cengkeraman, akan tetapi kedua tangannya itu lalu merentang kaku, matanya melotot, mukanya berubah hitam dan ketika cekikan dilepaskan, dia pun terkulai dan roboh tanpa nyawa lagi dengan muka hitam dan mata melotot lidah terjulur keluar.
Melihat Tek Su yang dicekik dari belakang, San Bo sudah merasa tubuhnya menggigil dan kakinya seperti lumpuh. Dia menjatuhkan diri ke atas tanah dan berlutut, menyembah-nyembah meminta ampun sambil memandang kepada sutenya yang mengalami nasib mengerikan itu.
"Ampun nyonya, ampunkan saya...!" ratapnya ketika dia melihat adik seperguruannya itu roboh dan tewas, dan wanita; yang menakutkan itu berdiri sambil bertolak pinggang di depannya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...