Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 304


__ADS_3

Dan korban kebiadabannya sudah tidak dapat dihitung lagi, sehingga kota Soh-ciu dan sekitarnya benar-benar telah berubah menjadi neraka yang mengerikan bagi para penghuninya.


Akibatnya hampir separuh dari penduduknya, terutama para wanitanya, terpaksa mengungsi ke tempat lain dan kota Soh ciu yang indah itu akhirnya menjadi sepi. Keadaan itu sungguh sangat memprihatinkan dan sekaligus juga membuat penasaran hati Gui Kok.


Tapi apalah dayanya, segala macam cara juga telah dia tempuh. Namun nyatanya ribuan orang perajuritnya itu juga tidak berdaya menangkap iblis itu. Rasanya memang lebih mudah bagi para perajuritnya itu untuk menghadapi ribuan musuh di medan laga dari pada harus melawan sesosok hantu yang tidak keruan rupa, bentuk dan tempat tinggalnya itu.


Begitulah, tampaknya keadaan itu akan terus berlarut-larut, tanpa sebuah kekuatanpun yang mampu mencegah si Iblis Penyebar Maut melakukan aksinya.


Sampai beberapa waktu kemudian, kira-kira pada pertengahan tahun ke sebelas itu pula, tiba-tiba dunia persilatan digemparkan oleh sebuah seruan atau ajakan yang ditujukan kepada para pendekar persilatan untuk bersama-sama memburu Si Iblis Penyebar Maut dan membinasakannya.


Seruan atau ajakan tersebut disampaikan secara beranting, dari mulut ke mulut, tanpa seorangpun yang mengetahui dari mana asal-mula dari ajakan atau seruan itu. Namun yang pasti, pada saat yang telah ditentukan, kota Soh-ciu tiba-tiba dibanjiri oleh tokoh-tokoh persilatan dari segala penjuru daratan Tiongkok.


Matahari telah jauh menukik ke arah barat. Senja telah menyelimuti kota Soh-ciu dan sekitarnya. Dan sisa-sisa sinar matahari yang kuning keemasan itu masih menjamah padang rumput di kaki bukit, sehingga hamparan rumput itu laksana beludru yang terhampar di kaki langit. Indahnya bukan main.


Namun semua keindahan itu terasa dingin dan mengecutkan hati! Suasana yang sepi dan lengang, di tempat yang begitu luas, remang-remang pula, benar benar menimbulkan khayalan yang bukan bukan. Apalagi bila teringat bahwa Si Iblis Penyebar Maut itu tentu telah bersiap-siap untuk keluar dari sarangnya. Maka sungguh amat mengherankan sekali apabila di saat seperti itu ternyata masih ada juga orang yang berani lewat di sana, perempuan pula lagi.


Demikian pula dengan Hua Li yang pada saat ini sedang berada di sebuah rumah makan yang cukup ramai di kota tersebut.


Tiba-tiba saja terdengar langkah langkah seekor kuda yang berada di luar rumah makan.


"Ketepak! Ketipak! Ketepak! Ketipak!"


Kemudian Kuda itu berhenti, dan nampak seorang wanita tua yang turun dari kudanya.


Wanita itu berpakaian seperti seorang pendeta, dan sejak berada di luar rumah makan tadi Hua Li sudah menaruh curiga pada wanita itu.

__ADS_1


Dengan mengumpulkan keberadaannya, Hua Li menghampiri wanita yang berpakaian pendeta itu dan kemudian mereka saling berkenalan dan juga saling bercerita.


Hua Li memperkenalkan dirinya dengan nama Yui Lan seorang wanita seniman kecapi, yang sedang mengembara mencari pekerjaan.


Seraya menikmati hidangan yang mereka pesan, keduanya saling akrab dan bermaksud berjalan bersama-sama, karena tujuan mereka hampir sama.


Tak berapa lama mereka telah selesai makan dan setelah membayar makanan, mereka melangkahkan kaki menuju ke arah dimana kuda mereka diikat dan diberi makan oleh penjaga kuda yang sebagai fasilitas dari rumah makan tersebut


Dengan melenggut di atas punggung kuda dua orang wanita, yang seorang sudah tua, kira-kira berusia empat puluh tahun, berpakaian seperti pendeta, sementara yang Hua Li yang sekarang bernama Yui Lan, dimana sedang mengenakan pakaian model terakhir.


Mereka berjalan beriringan. Perempuan tua itu berada di depan dan Yui Lan mengikuti di belakangnya. Meskipun cerita tentang Iblis Penyebar Maut itu tidak menakutkan hati mereka, namun wajah perempuan tua itu tampak tegang dan pucat.


Sungguh sangat berbeda dengan Yui Lan yang acuh dan santai. Yui Lan sedang mengawasi bintang-bintang yang mulai bermunculan di atas langit, sementara bibirnya yang merah tipis itu sesekali tampak merekah, mengagumi keindahan alam di sekitarnya.


Hua Li yang dipanggil dengan nama Yui Lan itu menatap perempuan tua itu sekejab, mulutnya cemberut, lalu dengan sikap acuh matanya kembali menatap bintang-bintang di atas langit.


"Yui Lan....!" panggilnya dengan sedikit keras.


"Aah iya saudariku...! Kenapa kamu selalu terburu-buru saja? Lihatlah suasana di sini demikian indahnya!" kata Yui Lan yang sedang merajuk.


"Anak bandel! Huh! Kau tahu apa maksud kita datang kemari ini, he...!" seru wanita yang dipanggil saudari itu.


"Ah, saudariku! menyinggung perkara itu lagi. Apa sih sebenarnya hubungan orang-orang itu dengan Si Iblis Penyebar Maut ini?" tanya Yui Lan yang sedikit penasaran.


"Sungguh bodoh benar kau ini! selama ini aku selalu mencari-cari bangsat itu? Nah, siapa tahu kalau bangsat itu juga Si Iblis Penyebar Maut ini pula? Bukankah keduanya memiliki ciri-ciri yang sama yaitu suka membunuh dan menculik wanita!"' kata wanita yang dipanggil saudari itu yang menjelaskan.

__ADS_1


Hua Li atau Yui Lan, menghentikan langkah kudanya. Dengan wajah merengut ia menatap perempuan tua itu.


"Setiap kali saudari mencurigai orang, dan setiap kali pula saudari selalu kesalahan dalam membunuh orang-orang itu. Ahh, lalu apa bedanya tindakan saudari ini dengan penjahat yang kita cari-cari itu?" kata Yui Lan yang mampu membuat perempuan tua itu menghentikan kudanya yang kemudian berbalik dengan cepat.


"Apa katamu....!" bentak wanita tua itu dengan keras.


" Saudari, kawanku sudah bosan berkelana kesana-kemari mencari orang yang tidak tentu tempat tinggalnya. Dan kawanku juga sudah bosan melihat saudariku selalu kesalahan tangan membunuh orang, hanya karena saudariku mencurigainya sebagai penjahat yang sedang kita cari-cari itu. Saudari...! sebaiknya saidariku kembali ke Teluk Po-hai dan hidup tenteram seperti mencari ikan ke laut bersama para nelayan...!" kata Hua Li yang mampu membuat mata perempuan tua itu tiba-tiba bergetar penuh kemarahan.


"Perempuan gila! Apa katamu...? Kembali ke rumah dan melupakan semua dendam kesumat itu, heh? Kurang ajar...!" seru Wanita itu yang seketika membuat Wajah Yui Lan tiba-tiba menjadi pucat.


Sebenarnya perempuan tua itu adalah bekas ketua kuil Im-Yang-kauw cabang Teluk Po-hai yang berkedudukan di desa Ban-cung. Tapi karena sifatnya yang keras, kejam dan suka membunuh orang, maka perempuan tua itu lalu dipecat dari kedudukannya sebagai ketua cabang.


Namun perempuan tua itu masih tetap menganggap dirinya sebagai pendeta Aliran lm-Yang-kauw dan selalu berpakaian seperti pendeta pula. Oleh karena itu di dunia persilatan perempuan tua itu lalu digelari orang dengan nama Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai. Meskipun demikian perempuan tua itu benar-benar amat menyayangi Yui Lan, yang saat ini dia sebut sebagai kawan itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2