Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 89


__ADS_3

"Siasat kita untuk mengadu domba di perguruan ular kobra telah gagal. Dan agaknya memang perguruan ular kobra tidak mencuri harta karun itu," kata Lim Bao yang diam-diam mengintai ketika semua orang berkumpul di depan pintu gerbang perguruan ular kobra waktu itu.


"Kita harus mencari siasat yang lebih baik untuk memancing keluar pencuri harta karun itu sehingga kita dapat merampasnya!" seru salah satu anak buah Lim Bao.


Semuanya pun menganggukkan kepala seraya memegang dagu serta mengernyitkan kedua alis masing-masing dari mereka.


Setelah berunding sampai lama akhirnya mereka menemukan siasat yang mereka anggap baik sekali untuk memancing keluar pencuri aseli harta karun yang diperebutkan itu.


"Kita siarkan bahwa kita telah menemukan harta karun itu dan kita bawa turun gunung. Tentu mereka akan berbondong datang dan berusaha merampasnya dari kita. Kita tinggal melihat saja, kalau ada mereka yang tidak datang mencoba merampas harta karun, berarti di antara mereka itulah pencurinya. Kalau harta karun sudah ada padanya, tentu dia tidak percaya akan berita itu dan tidak akan mengganggu kita," kata Lim Bao.


"Saya setuju panglima!"


"Saya juga setuju!"


Setelah semua setuju dan pasukan maklum akan siasat yang dimainkan pemimpin mereka, mulailah mereka menyiarkan kabar bahwa harta karun sudah ditemukan oleh pasukan pemerintah yang dipimpin Panglima Lim Bao dan bahwa pasukan akan membawa harta karun itu turun gunung.


Jika berita bahwa harta berada di perguruan ular kobra itu cukup menimbulkan kekacauan, berita kedua ini lebih menggemparkan lagi.


Berita pertama hanya merupakan dugaan bahwa perguruan ular kobra pencurinya dan itu tanpa adanya bukti. Akan tetapi kini Panglima Lim Bao telah menemukan harta karun dan pasukannya sedang membawa harta karun itu turun gunung.


Itu berarti sekarang ada buktinya dan tentu saja semua orang yang mencari harta karun itu menjadi gempar dan berbondong-bondong mereka hendak melihat sendiri dan kalau mungkin merampasnya.


Setelah mempersiapkan segalanya, pada suatu pagi, rombongan pasukan yang dipimpin Panglima Liim Bao menuruni gunung mengawal sebuah gerobak dorong di mana terdapat dua buah peti besar.


Melihat betapa beberapa orang perajurit mendorong kereta itu dengan sukar, bahkan ada yang membantu dengan menariknya dari depan, maka dapat diketahui bahwa dua buah peti hitam itu tentu berat sekali.


Lim Bao dan dua belas orang perwira pembantunya menunggang kuda berada di depan, diiringkan perajurit berkuda. Di bagian belakang ada dua puluh perajurit berkuda lagi yang dipimpin seorang perwira.

__ADS_1


Puluhan orang perajurit yang lain berjalan kaki. Kereta atau gerobak dorong itu berada di tengah, dijaga ketat.


Dalam perjalanan menuruni gunung yang hanya dapat dilakukan secara lambat ini, rombongan itu beberapa kali mendapat gangguan mereka yang mencoba untuk merampas peti.


Akan tetapi para pengganggu itu dengan mudah dipukul mundur oleh Lim Bao dan para perwiranya, ada yang tewas dan yang lainnya melarikan diri.


Diam-diam Lim Bao mencatat mereka yang telah berusaha merampas peti sebagai orang-orang yang sama sekali tidak mencuri harta karun. Mereka yang telah mencuri dan memiliki harta karun itu pasti tidak akan mau mencoba merebut peti itu dan dapat menduga bahwa peti itu kosong.


Hanya yang belum mendapatkan harta karun sajalah yang akan mencoba untuk merebut peti yang dibawanya turun gunung. Dia tinggal memperhatikan dan mencatat saja siapa-siapa yang tidak muncul untuk merampas peti. Merekalah atau seorang di antara mereka yang menjadi pencurinya.


Makin ke bawah, semakin banyak orang yang berusaha merampas peti-peti di atas gerobak itu. Bahkan mulai bermunculan para pendekar-pendekar dari perkumpulan besar.


Yang pertama muncul adalah perkumpulan pengemis tongkat merah yang dipimpin sendiri oleh ketua Kui. Mereka terdiri dari sekitar tujuh puluh orang dan mereka menghadang di bagian lereng yang terbuka dan landai, merupakan padang rumput yang luas.


Kedua rombongan itu saat ini sedang berhadapan dan Panglima Lim Bao membentak nyaring.


"Hei! Kalian ini rombongan pengemis mau apa menghadang pasukan kami!"


"Panglima Lim Bao, tinggalkan peti harta karun itu, baru Kau dan pasukanmu boleh melanjutkan perjalanan turun gunung!"


"Dasar Pengemis kotor! Beraninya hendak merampas harta milik kerajaan!" seru Lim Bao dengan geram.


"Bukan kami yang merampok, melainkan kau, Panglima Lim! Harta karun itu yang berhak adalah keluarga Liu, akan tetapi kau telah merampoknya. Kami hanya ingin mengembalikan kepada yang berhak!" seru Ketua Kui yang menatap Lim Bao dengan tajam.


 "Ho...ho....! aku tak peduli dasar keparat! Minggirlah gembel busuk!" maki Lim Bao yang melompat turun, diikuti dua belas orang perwira pembantunya dan mereka telah mencabut golok.


Dilihat dari sikap ketua Kui itu, Lim Bao sudah tahu bahwa harta karun itu tidak berada pada perkumpulan pengemis tongkat merah, namun dia merasa perlu untuk membasmi perkumpulan pengemis itu yang bersikap menentang Kerajaan Mongol.

__ADS_1


Lim Bao sudah melompat dan menyerang Ketua Kui dengan goloknya. Kemudian Ketua Kui ini pun menggerakkan tongkat merahnya, menangkis dan balas menyerang.


Dua belas orang perwira pembantu Lim Bao juga disambut para anggota dari perkumpulan pengemis tingkat merah, dan terjadilah pertempuran diantara kedua rombongan itu.


Jurus Lim Bao masih terlalu tangguh bagi ketua Kui sehingga dia mulai terdesak oleh sinar golok yang bergulung-gulung. Juga para pembantunya tidak kuat melawan para perwira Lim Bao. Apalagi anggota perkumpulan pengemis tongkat merah yang kalah banyak jumlahnya, sedangkan para perajurit yang menjadi anak buah Lim Bao itu merupakan perajurit pilihan yang tangguh dari balatentara Mongol.


Banyak anggota perkumpulan pengemis tongkat merah yang roboh tewas atau terluka. Ketua Kui sendiri juga mengalami luka pada bahunya, ketua ini menyadari kalau dilanjutkan pertempuran itu, pasti pihaknya kalah dan akan jatuh lebih banyak korban lagi.


Maka dengan menyesal Ketua Kui lalu melompat ke belakang dan memberi isyarat kepada para anggotanya untuk mundur dan melarikan diri.


Setelah mengetahui lawannya kabur, pasukan yang dipimpin Lim Bao itu melanjutkan perjalanan. Setelah mereka pergi, barulah para anggota perkumpulan pengemis tongkat merah muncul untuk merawat teman mereka yang terluka dan mengurus teman mereka yang tewas.


Penghadangan selanjutnya dilakukan oleh rombongan perguruan ular kobra yang lebih kuat dan merupakan lawan berat bagi Lim Bao dan pasukannya. Rombongan murid perguruan ular kobra itu dipimpin sendiri oleh Thio Kong, dibantu tiga orang saudara seperguruannya dan memimpin anak buah sebanyak delapan puluh orang lebih.


"Oh...! rupanya perguruan ular kobra yang menghadang perjalanan pasukan Kerajaan! Mau apa kalian menghadang kami!" bentak Lim Bao yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya


   


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


   


__ADS_2