
"Mari kita mencari ayah dan ibumu!" seru Mo Li dan ia pun memondong Hok Cu lalu berlari secepat terbang menuju ke tepi sungai kuning dimana semalam menjadi ramai oleh para tokoh dunia persilatan yang berebutan anak naga.
Mula-mula Hok Cu terkejut dan ngeri juga ketika melihat dirinya dibawa lari seperti terbang, akan tetapi lama-lama ia merasa gembira.
Tubuhnya sudah tidak begitu panas lagi dan tidak lagi disiksa oleh mual di perutnya.
Memang tubuhnya kuat dan darah ular itu biarpun amat kuat, tidak sampai membahayakan keselamatannya karena yang diminumnya tidaklah sebanyak yang dihissap Kian Beng.
Tapi masih ada rasa pening di kepalanya namun tidak begitu dirasakannya karena kegembiraan hatinya yaitu akan bertemu kembali dengan ayah ibunya.
Ketika mereka tiba di pantai yang semalam, keadaan si situ sudah sunyi sekali. Hanya nampak beberapa buah perahu nelayan yang ditumpangi para nelayan yang masih nampak takut-takut karena semalam terjadi peristiwa hebat dimana terdapat banyak korban.
Para nelayan itu menemukan mayat-mayat terapung hampir sepuluh orang banyaknya, belum dihitung mayat-mayat yang lenyap ditelan pusaran. Ada pula mayat beberapa orang menggeletak di pantai, agaknya mayat mereka tadinya terluka dan terjatuh ke air lalu berhasil berenang ke tepi akan tetapi tewas di tepi karena luka-luka yang diderita.
Setelah tidak berhasil mendapatkan orang tuanya di tepi sungai, Hok Cu minta kepada Mo Li agar mereka mencari di antara perahu-perahu nelayan di tengah sungai.
Mo Li menggunakan sebuah perahu dan mulai mencari kedua orang tuanya. Tak lama kemudian, biarpun masih jauh jaraknya, Hok Cu menunjuk ke tengah sungai.
"Itu mereka! Itu perahu ayah dan perahu keluarga Si!" seru Hok Cu dengan semangatnya.
Mo Li yang berpenglihatan tajam itu melihat ada dua buah perahu yang digandeng dengan tali, akan tetapi yang berada di sebuah perahu hanya tiga orang.
Seorang memegang dayung dan yang dua orang nampak rebah di perahu. Sedangkan perahu kedua kosong. Dengan cepat ia mendayung perahunya mendekat sampai menempel pada dua buah perahu itu.
"Ayah... Ibu..." seru Hok Cu yang memanggil ketika mengenal dua orang yang rebah di perahu itu adalah ayah ibunya.
"Nona datang....!" teriak pelayan yang mendayung dengan girang sekali.
Agaknya dia telah kelelahan mendayung terus berputar-putar mencari Hok Cu yang semalam terjatuh ke dalam air dan dibelit ular.
Hok Gi dan isterinya bangkit duduk dan wajah mereka itu pucat seperti orang sakit. Namun, begitu melihat Hok Cu mereka berdua segera merangkulnya dan bertangisan.
__ADS_1
Diantara tangis mereka, Hok Gi dan isterinya menceritakan kepada Hok Cu bahwa Kian Si dan isterinya menjadi korban, tewas oleh yang menyerang secara membabi buta.
"Kami sendiripun diserang, aku dan ibumu terluka, dan dua orang pembantu jatuh ke air. Hanya seorng pembantu selamat. Tadi pun muncul Kian Beng dan seorang gadis. Kami sudah ceritakan tentang tewasnya ayah ibunya, dan gadis itu, dia mengobati kami yang terluka." jelas Hok Gi.
"Wah, celaka! Kalian telah terkena racun hebat. Tentu Hua Li itu yang meracuni kalian, membunuh kalian dengan dalih mengobatinya!" seru Mo Li yang tanpa diketahui mata orang lain saking cepatnya gerakan tangannya, Mo Li telah menjentik dua batang jarum dengan jari tangannya dan dua batang jarum itu melesat dan masuk kedalam dada Hok Gi dan isterinya.
"Lihat, muka mereka berubah menghitam...!" seru Mo Li.
Hok Gi dan isterinya mengeluarkan keluhan lirih dan mereka terkulai, rebah lagi diatas perahu. Tentu saja Hok Cu terkejut bukan main dan hendak menubruk ayah ibunya.
"Ayah, Ibu....." Akan tetapi Mo Li memegang lengannya.
"Jangan sentuh mereka! Kalau kau sentuh, engkau pun akan terkena racun hebat yang akan membunuhmu!" seru Mo Li.
Hok Cu terbelalak, hendak nekat menubruk, akan tetapi ditahan Mo Li dan anak ini melihat betapa ayah dan ibunya berkelonjotan sebentar, muka dan tubuh mereka berubah menghitam dan akhirnya kejang-kejang tubuh mereka terhenti dan mereka tewas dalam keadaan mengerikan.
"Ayah.....! Ibuu....!" panggil Hok Cu yang terkulai pingsan dalam pelukan Mo Li, dan pembantu itu tentu saja menjadi terkejut dan bingung dan hanya mampu menangis.
"I...iya nyonya." jawab pembantu keluarga Hok itu.
"Semalam di sini terjadi pertempuran antara orang-orang sakti. Racun-racun masih berkeliaran di tempat ini. Mungkin baru saja mereka merasakan pengaruh racun. Kau pun, kalau tidak cepat pergi dari sini, bisa saja setiap saat terkena racun dan mati!" seru Mo Li.
Mendengar ini, orang itu cepat menggerakkan dayung dan dibantu oleh Mo Li, mereka mendayung perahu itu ke tepi dan dengan wajah ketakutan pembantu keluarga Hok itu lalu menggali lubang besar dan mereka menguburan jenazah Hok Gi dan isterinya.
Hok Cu siuman dari pingsannya dan anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya, berlutut di depan makam ayah dan ibunya.
Setelah selesai mengubur dua jenazah itu, Mo Li mengambil beberapa potong uang perak dan memberikan kepada pembantu keluarga Hok.
"Kulihat kau juga terpengaruh hawa beracun. Cepat pergi dan cari tabib untuk mengobati dirimu. Nih, ambil uang ini dan pergilah!" seru Mo Li.
Tangan Mo Li yang menyerahkan beberapa potong uang itu bergerak dan kuku jarinya menggores telapak tangan orang itu.
__ADS_1
Orang itu tidak merasakan apa-apa, menerima uang lalu berpamit meninggalkan tempat itu. Hok Cu yang menangisi makam ayah ibunya, tidak mempedulikan kepergian pembantu itu.
Hok Cu tidak tahu bahwa dalam waktu dua hari, pembantu itu pun akan tewas tanpa dapat diobati lagi karena dia telah terkena goresan kuku beracun dari jari tangan Mo Li. Agaknya iblis betina ini ingin melenyapkan semua orang yang berhubungan dengan Hok Cu.
"Bibi, apakah yang telah terjadi dengan Ayah ibu? Siapa yang membunuh mereka?" tanya Hok Cu yang penasaran.
"Mulai sekarang, jangan sebut aku Bibi, melainkan guru. Bukankah kau ingin menjadi muridku, mempelajari ilmu silat agar kelak dapat kau pergunakan untuk membalas kematian Ayah ibumu?" jawab sekaligus tanya Mo Li.
Hok Cu seorang anak yang cerdik. Ayah ibunya telah tewas dan ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Dan jelas bahwa ayah ibunya tewas tidak sewajarnya, melainkan ada yang membunuh mereka.
Sementara wanita di depannya ini, biarpun kejam, namun memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga kalau ia akan mampu mencari pembunuh ayah ibunya dan membalaskan kematian mereka.
Karena itu pada saat mendengar ucapan wanita cantik itu, ia pun segera menjatuhkan diri berlutut.
"Guru tolong beritahu kepada murid. Siapakah yang telah membunuh ayah ibu?" tanya Hok Cu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1