Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 261


__ADS_3

Dari kedua tangannya menyambar hawa pukulan yang amat kuat. Ketika dia mengembangkan kedua lengannya dengan gerakan mendorong sambil mengeluarkan seruan keras, tubuh tiga orang pengeroyok itu terlempar dan terus terpelanting sampai ke bawah panggung.


"Bocah sombong, terpaksa aku turun tangan menghajarmu!" Bentak Koan Tek, dan semua orang melihatnya saat dia melompat di depan Hong Lan deng pedang telanjang di tangannya.


Ayahnya koan Bok terkejut melihat ini akan tetapi dia tidak sempat mencegahnya, dan karena puteranya sudah maju, tentu akan memalukan sekali dan menjatuhkan nama besarnya kalau dia menyuruh anaknya mundur kembali.


Maka, dia pun hanya menonton dengan penuh perhatian siap setiap saat untuk melindungi puteranya.


"Apakah kau juga seorang cucu muridku?" tanya Hong Lan pada saat melihat seorang pemuda tinggi kurus dan tampan pesolek berdiri di depannya dengan pedang di tangan


"Aku Koan Tek bukan anggota atau murid aliran Bumi dan Langit, akan tetapi sebagai seorang tamu yang dihormati, aku tidak bisa membiarkan saja kau membuat kacau di sini. Kalau kau memang sudah bosan hidup keluarkan senjatamu dan lawanlah pedangku!" seru Koan Tek yang memandang dengan mata melotot.


Kemudian dia mengelebatkan pedangnya dan terdengar suara mendesing disertai kilatan sinar pedang. Pemuda ini tidak boleh disamakan dengan tiga orang pemuda yang baru saja kalah tadi.


Dia sudah menguasai semua ilmu ayahnya dengan baik sehingga tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah tingkat ayahnya. Ini pula yang membuat ayahnya membiarkan dia menghadapi pemuda yang dianggap pengacau itu, karena bagaimanapun juga, Koan Bok percaya akan kemampuan puteranya.


Hong Lan teringat akan keterangan yang pernah dia dengar dari ayahnya.


"Aku pernah mendengar nama besar Majikan Pulau Hiu yang bernama Koan liok, tidak tahu apakah engkau ada hubungan dengan dia, Sobat?" tanya Hong Lan yang sedikit penasaran.


"Beliau adalah Ayahku!" seru Koan Tek yang membusungkan dadanya.


"Aha! Pantas saja kau begini gagah. Aku akan merasa senang sekali kalau kelak alira Bumi dan Langit akan mendapat bantuan orang muda seperti kau!" kata Hong Lan yang sedikit memuji.


"Tidak perlu banyak cakap, keluarkan senjatamu dan lawanlah aku!" seru Koan Tek kembali yang membentak.


Kalau bukan di tempat ramai dan disaksikan banyak orang, tentu dia sudah menyerang lawan yang tidak bersenjata itu agar cepat dia dapat merobohkannya.


Hong Lan tidak gentar menghadapi pedang di tangan Koan Tek, akan tetapi dia pun maklum bahwa perbuatannya yang nekat ini tentu akan mendapat tentangan dari semua orang, maka di harus memperlihatkan ilmu kepandaiannya untuk menundukkan mereka semua.

__ADS_1


Dengan sikap tenang dia pun mencabut sebatang suling dari ikat pinggangnya.


"Aku sudah siap mengadu jurus dengan siapa saja yang tidak mau mengakui bahwa akulah yang paling berhak memimpin Aliran ini sebagai penerus mendiang Ayahku, Hong Cu Dan untuk menghadapi senjatamu, aku cukup mempergunakan suling ini!" seru Hong Lan.


Yang kemudian Hong Lan menempelkan suling itu di bibirnya dan dia pun meniup dan memainkan sebuah lagu rakyat melalui suara sulingnya yang merdu.


Semua orang merasa heran dan juga terkejut. Benarkah pemuda itu demikian lihainya sehingga berani menghadapioan Tek yang lihai dengan pedangnya itu, hanya dengan sebatang suling.


 Apalagi, dia kini meniup sulingnya itu, seperti memandang rendah lawan dan mempermainkannya.


Koan Tek adalah seorang yang sudah biasa bertindak sewenang-wenang dan curang. Dia sudah menantang, dan lawan sudah mengeluarkan suling yang diakuinya sebagai senjata, maka dia pun tidak membuang waktu lagi.


Melihat lawan meniup suling dengan asyik dan seolah-olah tidak menghiraukan dirinya itu, dia merasa dipandang rendah, akan tetapi juga melihat kesempatan baik. Maka, dia segera menggerakkan pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang.


Pedangnya mendatangkan sinar menyilaukan mata ketika menyambar dan membacok ke arah leher Hong Lan.


Dan sambil mengelak itu, dia masih terus meniup suling, nya, melanjutkan nyanyian lagu rakyat itu. Koan Tek menghujankan serangan bertubi-tubi, menusuk membacok membabat dari segala jurusan, susul me nyusul, namun semua itu dapat dielakkan oleh Hong Lan tanpa banyak kesulitan dan dia masih terus melanjutkan permainan sulingnya.


Baru setelah lagu itu selesai dimainkan dengan sulingnya, dii menggerakkan sulingnya untuk menangkis pedang dari samping, lalu membalas dengan totokkan-totokan ke arah jalan darah. Serangannya cepat dan tidak terduga sehingga dalam beberapa gebrakan saja, Koan Tek mulai terdesak!


"Tranggggg .... cringgggg ...........!"


Bunga api berpijar-pijar ketika pedang berkali-kali hertemu dengan suling dan akibatnya, tubuh Siangkoan Tek terhuyung dan pedangnya hampir terlepas dari tangani Baru dia terkejut bukan main. Juga semua orang yang hadir di situ terkejut,


Koan Bok bukan hanya terkejut, melainkan juga amat khawatir karena dia dapat menduga bahwa pemuda yang menggunakan suling sebagai senjata itu benar-benar lihai bukan main dan puteranya itu terancam bahaya.


Oleh karena itu, tanpa malu-malu lagi, dia pun meloncat dari tempat duduknya. Pada saat itu suling di tangan Hong San mengirim totokan ke arah pundak Soan Tek dan hampir mengenai sasaran.


qqqqqqqq Q10 Siangkoan Bok. Melihat munculnya seorang kakek bertubuh pendek tegap dengan muka hitam, Hong San meloncat ke belakang.

__ADS_1


"Maaf, apakah Paman juga seorang tokoh Thian-te-pang?" tanyanya.


"Hm, aku hanya seorang tamu, kau sudah mengenal namaku tadi. Aku Majikan Pulau Hiu." jawab laki-laki itu.


"Ah, kiranya orang tua gagah pemilik Pulau Hiu!" kata Hong Lan dan dia memandang heran. Kakek ini memiliki wajah begini buruk, akan tetapi puteranya demikian tampannya.


Ayah, kita hajar saja manusia sombong ini, untuk apa bicara lebih banya teriak Koan Tek yang berbesar hati lagi melihat majunya ayahnya.


"Aku sudah banyak mendengar tentang majikan Pulau Hiu, dan kalau aku memimpin aliran Bumi dan langit ini, tentu aku ingin menarik Paman sebagai seorang sahabat kata pula Hong Lan.


"Sombong! Siapa percaya bahwa kau pemimpin aliran Bumi dan Langit? Lihat pedangku!" seru Koan Tek yang sudah marah sekali karena merasa penasaran dan malu bahwa dia sama sekali tidak mampu mengalahkan lawannya, kini menyerang, diikuti ayahnya yang juga sudah menggerakkan pedangnya.


"Hmm, kalian ini Ayah dan anak rupanya harus mengenal dulu siapa aku sesungguhnya!" seru Hong Lan sambil memutar sulingnya menyambut serangan dua orang lawannya itu.


Biarpun dikeroyok dua orang, Hong Lan masih saja mengenakan caping merahnya yang lebar, dan kini sulingnya berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang mengeluarkan suara melengking-lengking seolah-olah suling itu yang ditiupnya.


Sementara ayah bersama puteranya dari Pulau Hiu itu segera terdesak dan dua sinar pedang mereka terimpit oleh sinar suling yang menjadi semakin kuat.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih ini...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2