Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 71


__ADS_3

Tak berapa lama wanita itu siuman dari pingsannya, namun tampak masih lemah.


Liu Ceng mengambil obat berupa Pil Pendorong Racun sebanyak dua butir lalu menyuruh murid perguruan walet putih meminumkan obat itu kepada Thian Yu.


Setelah minum obat itu, Thian Yu tertidur. Namun kini pernapasannya sudah normal kembali dan warna kehijauan pada mukanya makin menghilang.


Pada luka di pundak itu, Liu Ceng memberi obat bubuk, ditaburkan pada luka lalu pundak itu kemudian dia membalutnya.


Selesai mengobati Thian Yu, Liu Ceng keluar dari ruangan itu dan mencari tempat di sudut ruangan depan yang sudah dibersihkan oleh tiga orang murid perguruan walet putih dan ia lalu duduk bersila di untuk memulihkan tenaganya karena tadi ia mengerahkan cukup banyak tenaga dalam untuk mengusir hawa beracun dari tubuh Thian Yu.


Beberapa lama kemudian, Liu Ceng mendengar langkah manusia yang menghampirinya. Pemuda itu membuka matanya dan melihat Thian Yu diikuti tiga orang muridnya memasuki ruangan dimana dia berada dan menghampirinya.


"Tuan muda, para muridku memberi tahu bahwa anda adalah Liu Ceng yang telah menolongku dan menyembuhkan lukaku. Terimalah ucapan terima kasihku yang tulus ini." ucap Thian Yu yang memberi hormat pada Liu Ceng.


"Ah bibi, mohon jangan sungkan. Sudah semestinya kalau orang suka saling tolong-menolong. Kebetulan saja saya mempunyai kemampuan mengobatimu, maka hal itu merupakan kewajaran saja dan tidak perlu Bibi berterima kasih kepada saya." balas Liu Ceng yang bangkit dan berdiri seraya membalas penghormatan dari Thian Yu.


 "Menurut para murid, selain pandai ilmu pengobatan, anda pun memiliki ilmu silat yang amat tinggi. Luar biasa sekali seorang laki-laki yang masih muda seperti anda telah memiliki dua macam ilmu itu, Mari duduk tuan muda Ceng, saya ingin sekali berbincang dengan anda dan mengenal anda lebih baik lagi." ucap Thian Yu seraya memberikan isyarat pada Liu Ceng untuk duduk.


Mereka lalu duduk di atas lantai yang ditilami jerami kering. Liu Ceng duduk berhadapan dengan Thian Yu dan tiga orang muridnya.

__ADS_1


"Tuan muda Ceng, perkenalkan lah saya yang bernama Thian Yu, adik seperguruan Ketua perguruan Walet putih yang menjadi di antara pengurus perguruan Walet Putih. Saya ditunjuk oleh Ketua kami untuk mewakili perguruan walet putih untuk meninjau pegunungan ini, di mana kabarnya menjadi tempat pencuri harta karun Kerajaan Han yang akan menjadi ajang pencarian dan perebutan di antara orang-orang persilatan. Perguruan Walet putih tidak menginginkan harta karun, hanya ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Akan tetapi kami mengalami bencana. Dua orang murid kami telah dihina dan dibunuh oleh Raja Iblis yang jahat, yaitu Ben Ong. Saya berusaha membalas dendam, akan tetapi ternyata dia lihai bukan main sehingga kami tidak mampu menandinginya, bahkan aku terluka dan nyaris tewas. Nah, kami ingin sekali mengenalmu lebih baik, Tuan muda Liu Ceng. Darimana asal anda dan kenapa juga berada di Pegunungan Thai san ini?" jelas dan tanya Thian Yu yang menasaran dengan Liu Ceng.


 "Nama saya Liu Ceng, saya berasal dari Nan-king di mana mendiang orang tuaku tinggal." jawab Liu Ceng.


"Di Nan-king? Apa anda masih ada hubungan keluarga dengan Liu Bok?" tanya Thian Yu yang penasaran.


"Liu Bok adalah mendiang ayah saya, Bibi Yu!" jawab Liu Ceng dengan tersenyum.


 "Ah, kiranya anda adalah putera pendekar patriot yang terkenal itu!" seru Thian Yu yang tersentak kaget. Dan Liu Ceng tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Anda tadi mengatakan bahwa ayah ibumu telah meninggal dunia?" lanjut tanya Thian Yu yang mengernyitkan kedua alisnya.


"Akan tetapi kami mendengar kabar bahwa peta harta karun itu tadinya milik seorang pemuda yang berjuluk raja Obat dan bekerja sama dengan pemerintah Mongol untuk mencari harta pusaka itu!" seru Thian Yu yang penasaran.


"Sayalah yang diberi julukan itu, Bibi. Akan tetapi tidak benar kalau saya bekerja sama dengan pihak Pemerintah Mongol. Karena seorang adik angkat saya tertawan oleh seorang panglima Mongol bernama Lim Bao, maka untuk menyelamatkan Adik angkat saya itu, terpaksa saya menyerahkan peta kepadanya dan terpaksa pula membantunya mencari harta karun sesuai dengan petunjuk peta itu. Setelah tempat harta karun itu ditemukan, yaitu di Bukit Surga tak jauh dari kota raja yang kini menjadi tempat tinggal Beng Ong yang menjadi antek pemerintah penjajah." jelas Liu Ceng seraya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Oh, pantas saja kalau Raja iblis itu menjadi pengkhianat bangsa!" seru Thian Yu yang marah.


"Selanjutnya bagaimana, tuan muda Ceng?" tanya Thian Yu yang semakin penasaran.

__ADS_1


"Di tempat itu kami menemukan tempat penyimpanan harta karun, akan tetapi peti tempat harta karun itu kosong dan di dalamnya hanya terdapat ukiran ular kobra yang ada di pegunungan Thian San ini. Saya dan Adik angkat saya bersama seorang sahabat berhasil meloloskan diri dan demikianlah, berita itu tersiar dan semua orang ingin mencari pencuri dan merampas harta karun itu, Bibi." jelas Liu Ceng.


"Hemm, pantas ketika baru tiba di sini, kami melihat rombongan pasukan Pemerintah Mongol! Sebetulnya, dari mana asal peta harta karun itu dan bagaimana mendiang Pendekar Liu Bok bisa mendapatkannya?" tanya gadis yang memakai sabuk senada dengan pakaiannya itu, dimana sedari tadi ikut menyimak perbincangan mereka.


Liu Ceng menghela napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan.


"Ketika Kerajaan Han dikalahkan bangsa Mongol, seorang pembesar istana mencuri harta Kerajaan Han. Harta yang besar itu lalu dia sembunyikan dan dia membuat sebuah peta untuk tempat penyimpanan harta karun itu. Ketika itu menjadi panglima, melakukan penggerebekan dan membunuh pembesar korup yang berkhianat itu. Ayah saya tanpa sengaja menemukan peta itu, akan tetapi dia tidak sempat mencari harta karun karena Kerajaan Han sedang diserang bangsa Mongol sampai akhirnya kalah dan jatuh. Setelah Kerajaan Han jatuh, Ayah saya juga tidak mencari harta karun itu karena tidak mungkin dikembalikan kepada Kerajaan Han yang sudah tiada. Ayah hanya menyimpannya saja. Akan tetapi agaknya rahasia itu diketahui pihak Kerajaan Mongol yang baru berkuasa, maka Ayah lalu dipaksa untuk menyerahkan peta itu kepada mereka. Ayah menolak dan sebelum ayah tewas, Ayah menitipkan peta itu kepada seorang sahabat dengan pesan agar diserahkan kepada saya. Nah, demikianlah, Bibi, maka peta itu terjatuh ke tangan Ayah lalu diberikan kepada saya dengan pesan agar saya mencari harta karun itu." cerita Liu Ceng yang melihat satu-persatu wanita dihadapannya, dan Thian Yu mulai paham akan jalan cerita peta harta Karun itu.


"Ah, kiranya begitu. Kalau begitu, engkau datang kemari ini tentu hendak mencari harta karun yang menjadi hak ayah anda dan sudah diwariskan kepadamu." ucap gadis yang memakai sabuk hitam yang juga ikut menyimak pembicaraan mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2