Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 76


__ADS_3

Tapi dia merasa heran, ketika berhadapan dengan dua orang laki-laki muda dan ternyata mereka itu mengenalnya.


Karena biasanya, yang mengenal ia adalah para pendekar yang sudah punya nama di dunia persilatan.


Akan tetapi kini, dua orang laki-laki muda, tampaknya kembar, mengenalnya, bahkan berani menghinanya. Tentu saja ia menjadi marah sekali dan ia ingin tahu lebih dulu siapa mereka sebelum ia membunuh mereka.


Si mayat betina ini adalah adik seperguruan dari Beng Ong, yang tadinya mereka membantu murid mereka Lim Bao ketika Lom Bai berusaha mendapatkan harta karun Kerajaan Han.


Tapi setelah peta itu dia rampas dari Liu Ceng, Lim Bao memisahkan diri dari mereka.


Adapun sepasang Iblis Tua itu, diajak oleh Raja Iblis dan mereka bertiga juga pergi ke pegunungan Tengkorak, dimana ada tanda ukiran ular kobra yang membuat mereka yakin kalau harta Karun itu ada di pegunungan tengkorak.


Setelah tiba di kaki pegunungan tengkorak, si mayat betina yang mempunyai jurus yang mengharuskanya untuk menghisap darah bayi.


Hal ini dilakukan untuk memperkuat daya rendah yang kotor guna mempelajari ilmu sesat yang dapat membuat nenek ini melakukan sihir. Akan tetapi kemudian ia merasa kecanduan dan satu dua tahun sekali ia kumat dan baru puas kalau sudah menghisap darah beberapa orang bayi.


Di tempat itu ia lalu mencari bayi-bayi dan kebetulan dusun di lereng itulah yang menjadi korban.


"He...he...he...! kalian berdua ini bocah-bocah sudah bosan hidup rupanya. Hayo katakan siapa kalian sebelum aku membunuhmu dan jangan mati tanpa nama!" seru si mayat betina itu.


"Hei, nenek siluman yang jahat! Sebentar lagi kau akan berkabung untuk kematianmu sendiri! Bukalah telingamu dan dengarlah bahwa kami berdua adalah penghuni Lembah Seribu Bunga!" seru Sin Lin yang marah mendahului kakaknya.


"Lembah seribu bunga!" seru si Mayat Betina itu yang terkejut juga mendengar disebutnya Lembah Seribu Bunga yang amat terkenal di dunia persilatan, terutama bagi para datuk.


"Lembah Seribu Bunga? Apakah kalian murid-murid Sin Yang di pemilik Lembah Seribu Bunga?" tanya si mayat Betina itu yang penasaran.


"Kami puteranya!" jawab Sin Lan dengan lantang.


"Oh, kiranya putera pemilik Lembah Seribu Bunga. Pantas saja kalian berani menentang aku! Mengingat ayah kalian, biarlah aku mengampuni kalian, akan tetapi jangan mencampuri urusanku. Pergilah dan jangan menggangguku atau aku akan lupa bahwa kalian adalah putra-putra Sin Yang si pemilik Lembah Seribu Bunga!" seru nenek yang berjuluk si Mayat Betina itu.


"Huh, enak saja menyuruh kami pergi!" seru Sin Lin kesal


 "Hei, nenek Mayat Betina! dosamu sudah bertumpuk-tumpuk dan sore ini bersiaplah untuk mampus tangan kami!" lanjut seru Sin Lin dengan lantang.

__ADS_1


"Kurang ajar!" umpat Si mayat betina , yang kemudian melihat Sin Lan sekarang mengambil bayi yang menangis itu, memondong dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Sin Lan menyerahkan bayi itu ke dalam pondongan ibu bayi yang sudah terbebas dari totokan oleh Sin Lan sebelum menyerahkan anak itu. Kini dengan cepat Sin Lan sudah berdiri di samping adiknya lagi.


 "Bocah-bocah kurang ajar! Sekarang aku tidak peduli lagi kalian anak dewa ataupun anak setan! Terimalah ini!" seru nenek si Mayat Betina itu melompat ke depan dan tongkatnya menyambar bagaikan kilat secara bertubi kakak beradik itu itu.


Tongkat yang menjadi gulungan sinar hitam itu mula-mula menyambar ke arah dada Sin Lan dan ketika Sin Lan mengelak, tongkat itu langsung menyambar ke arah leher Sin Lin.


Gerakannya selain amat cepat, juga ganas dan kuat sekali sehingga setiap serangan merupakan jangkauan maut.


Namun Sin Lan dan Sin Lin dapat menghindar dengan cepatnya, bahkan Si Lan segera membalas dengan sambaran pedangnya, sedangkan Sin Lin menyerang dengan pukulan tangan kanannya.


Sin Lin memang merupakan ahli jurus silat tangan kosong tidak seperti kakaknya yang ahli silat pedang, maka biarpun ia menyerang dengan tangan kosong, serangannya itu berbahaya sekali.


Pukulannya selain cepat juga didorong tenaga dalam yang amat kuat sehingga didahului angin pukulan yang mengandung hawa panas.


"Trang.... Plakk.....!"


Dua kali tongkat hitam nenek Mayat Betina menangkis pedang Sin Lan dan dua kali pula tangan kirinya menangkis pukulan Sin Lin.


Pertemuan tenaga antara nenek mayat Betina dengan kedua orang kakak beradik itu membuat Sin Lan dan Sin Lin terhuyung, demikian juga si Nenek mayat betina yang merasa tergetar lengannya.


Nenek mayat betina itu merasa penasaran. Tingkat kepandaiannya kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Sin Yang mungkin seimbang, jadi akan memalukan kalau ia sampai tidak mampu mengalahkan kedua orang putra


nya itu.


Ia lalu mengeluarkan bentakan nyaring dan tongkatnya digerakkan semakin cepat sehingga berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung yang menyambar ke arah Sin Lan dan Sin Lin menjadi serangan maut yang amat berbahaya.


Sementara itu Sin Lan dan Sin Lin paham mereka berhadapan dengan lawan yang amat lihai, maka mereka bergerak dengan hati-hati sekali.


Sepasang saudara kembar ini tentu saja memiliki kepekaan yang luar biasa antara satu sama lain sehingga ketika bertanding, mereka pun menggunakan penggabungan ilmu silat mereka.


Pedang Sin Lan menjadi pertahanan dan tongkat hitam nenek itu selalu tertangkis pedang, sedangkan Sin Lin yang memiliki gerakan cepat itu melancarkan serangan bertubi-tubi dengan pukulan-pukulan kedua tangannya dan tendangan kedua kaki berganti-ganti.

__ADS_1


Dengan kerja sama yang amat kompak ini, biarpun tingkat kepandaian mereka masih di bawah tingkat si nenek mayat betina, tapi dapat mendesak nenek yang lihai itu.


"Keparat...!" seru si nenek mayat betina yang menjadi marah sekali.


Pikirnya jika hanya mengandalkan ilmu silatnya, akhirnya ia sendiri yang akan terancam bahaya. Karena kedua putra Sin Yang itu memiliki gerakan gesit sekali dan kerja sama mereka amat kompak yang melipat gandakan kekuatan mereka.


Tiba-tiba si nenek mayat betina mengeluarkan suara tangis yang menggetarkan jantung Sin Lan dan Sin Lin. Suara tangis itu demikian kuat pengaruhnya sehingga kedua orang pemuda itu tidak kuat bertahan dan ikut menangis.


Mereka mempertahankan agar tidak terisak-isak, akan tetapi mata mereka mengeluarkan air mata yang menetes-netes membasahi pipi mereka. Dengan tekad yang amat kuat keduanya masih terus mendesak nenek mayat betina itu.


Nenek itu melompat ke belakang, melempar tongkat hitamnya ke atas dan tongkat itu meluncur ke depan, menyerang kakak beradik itu bagaikan seekor ular hidup yang dapat terbang.


Sin Lan dan Sin Lin terkejut sekali. Mereka berdua mengelak dan menangkis. Sin Lan mencoba untuk mematahkan tongkat hidup itu dengan pedangnya, namun sia-sia.


Tongkat itu seperti hidup dan menyambar-nyambar dengan cepat, kini dua orang gadis kembar itulah yang kewalahan. Apalagi kini terdengar teriakan melengking-lengking dari mulut si nenek mayat betina.


"Hiaaaat...!"


Teriakan ini membuat Sin Lan dan Sin Lin semakin terdesak. Lengking itu seolah menembus gendang telinga mereka dan menusuk jantung.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


__ADS_2