
"Bukankah dia Cu Liong, ketua perguruan Bukit Merak?" bisik Hua Li kepada Liu Ceng dan Liu Hong seraya melirik ke arah Cu Liong.
Dua orang pemuda itu sudah mendengar akan nama besar datuk ini, maka mereka bersikap waspada. Setelah mereka bertiga tiba di depan ketua perguruan Bukit Merak itu, Hua Li yang sudah mengenalnya karena dia pernah hampir dua tahun yang lalu ditolong oleh Cu Ai melangkah maju dan memberi hormat kepadanya.
"Rupanya ketua Cu dan Adik Ai yang berada di sini." sapa Hua Li.
Dengan sikap acuh tak acuh ketua itu memandang kepada dua orang pemuda tampan yang berada disamping Hua Li.
"Hua Li, engkau masih ingat kepada kami?" tanya Cu Liong dengan senyum sinisnya.
"Tentu saja Ketua Cu dan Adik Cu Ai pernah menolong saya di Bukit Merak," kata Hua Li yang penasaran dengan maksud ketua itu menghadang perjalanannya.
Liu Ceng dan Liu Hong memandang penuh curiga dan mereka menduga bahwa ketua itu tentu bermaksud merampas harta karun yang digendong mereka berdua di punggung mereka masing-masing.
"Nona Hua, aku hendak bicara penting sekali denganmu dan kau harus dapat memberi keputusan sekarang juga!" seru Cu Liong yang menatap Hua Li dengan tajam.
Hua Li mengerutkan alisnya. Dia sekarang dapat menduga pula bahwa datuk ini, seperti para tokoh lain, tentu menginginkan harta karun itu, maka dia berkata dengan sikap tetap hormat.
"Ketua Cu, apa yang harus saya putuskan? kalau harta, hendaknya Ketua Cu maklum bahwa harta karun itu bukanlah hak milik kami, melainkan hak milik rakyat yang akan kami serahkan kepada yang berhak kelak." ujar Hua Li yang mencoba menjelaskan.
"Hei, siapa peduli akan harta karun!" bentak Cu Liong.
"Harta karun itu tidak ada artinya bagiku. Yang terpenting bagiku adalah urusan kau dengan putriku Cu Ai!" lanjut seru Cu Liong.
"Ada apakah dengan Adik Cu Ai ketua?" tanya Hua Li yang heran dan dia memandang ke kanan kiri untuk melihat apakah gadis itu ikut datang bersama ayahnya.
"Pendekar Hua, sekarang juga kau harus ikut denganku ke Bukit Merak dan kau ajarkan putriku cara bermain kecapi!" seru Cu Liong.
"Bermain kecapi...?" Ucapan ini keluar dari mulut tiga orang, yaitu Hua Li, liu Ceng, dan Liu Hong karena mereka sungguh terkejut mendengar ucapan pendekar tua itu.
__ADS_1
"Ma'af ketua, saya sungguh tidak mengerti apa yang ketua maksudkan. Kenapa saya harus ikut ke Bukit Merak dan bermain kecapi dengan Adik Cu Ai?" tanya Hua Li yang penasaran.
"Kenapa? kau masih bertanya kenapa?" bentak Cu Liong dengan kesal dan dengan mata melotot dan mukanya menjadi semakin merah.
"Masih mau menghindari lagi. Pendekar Hua tinggal pilih, mengajari memainkan kecapi dengan Cu Ai atau mati di tanganku!" ancam Cu Liong.
Hua Li menjadi semakin penasaran, juga Liu Ceng dan Liu Hong memandang heran. Liu Hong sudah marah sekali, akan tetapi dua orang pemuda itu diam saja, hanya mendengarkan karena mereka tidak tahu urusannya.
"Ketua, harap jelaskan dulu ketua memaksa saya mengajari puteri anda memainkan kecapi" kata Hua Li dengan sikap masih sabar.
"Bocah tak tahu diri, tidak mengenal budi dan kurang ajar! Aku telah menyelamatkanmu ketika kau pingsan di dekat sungai dan tentu akan mati dimakan binatang buas. Dan aku ingi kau mengajari putriku bermain kecapi!" seru Cu Liong yang geram.
"Ketua, dengarkan dulu penjelasanku......" kata Hua Li yang belum selesai, dipotong oleh Cu Liong.
"Tidak perlu penjelasan lagi! cepat ajari Cu Ai bermain kecapi atau kau mati?" seru Cu Liong yang sudah mencabut Golok Emas dari pinggangnya dengan mata mengancam.
"Ketua, saya mengakui bahwa anda dan saudari Cu Ai memang telah berkali-kali menolong saya. Saya kagum dan suka padanya bahkan kami berdua telah menjadi sahabat baik. Akan tetapi saya tidak bisa mengajari saudari Cu Ai bermain kecapi...." kata Hua Li dengan hati-hati.
"Hal itu bisa saya jelaskan, ketua!" seru Hua Li yang tak akan mungkin mengajari sembarang orang bermain kecapi bahkan jurus-jurusnya yang mematikan itu.
"Kau menolak berarti mati!" teriak Cu Liong yang sudah tak dapat menahan diri dan hendak menyerang.
"Ayaaahhh......! Jangan......!" Tiba-tiba terdengar jeritan dan muncullah Cu Ai, gadis pendekar yang cantik. Mukanya agak pucat dan basah, tampak jelas bahwa ia tadi menangis.
Gadis itu sudah berdiri menghadang di antara Cu Liong dan Hua Li.
"Ayah, sudah kukatakan bahwa aku tak mau belajar memainkan kecapi! Bukankah masih ada jurus-jurus lainnya yang lebih hebat? Dan aku yakin kelak aku bisa mengalahkan pendekar kecapi ini!" seru Cu Ai yang menatap Hua Li dengan tajam.
Apa yang dirasakan Cu Ai adalah adanya rasa kecemburuan, karena jika ditinjau dari fisiknya Cu Ai lebih cantik dengan badan yang bagus pula. Tapi yang Cu Ai herankan kenapa banyak laki-laki yang menyukai Hua Li, terutama Liu Ceng yang ternyata gadis itu diam-diam menyukai kekasih Hua Li.
__ADS_1
"Hemm, Cuma Ai! kata ya kau ingin belajar kecapi? kenapa kei ginan kamu berubah?" tanya Cu Liong yang penasaran.
"Ayah, itu adalah keinginan spontanku kemarin. Tapi sekarang aku berkeinginan yang lain." kata Cu Ai yang menatap wajah ayahnya.
Sejenak ayah dan anak ini saling tatap dengan pandang mata tajam. Kemudian Cu Liong membanting kakinya dengan jengkel.
"Anak bodoh...! katanya kau ingin menjadi pendekar nomor satu. Ini adalah kesempatan kamu, kenapa kamu sia-aiak!" seru Cu Liong yang kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi dari tempat itu dengan keadaan marah.
Cu Ai membalikkan tubuh berhadapan dengan Hua Li. Kedua matanya menatap tajam. Lalu ia memandang kepada Liu Hong dan Liu Ceng, dengan kedua matanya yang basah karena air matanya.
"Kalian semuanya, maafkan Ayahku." kara Cu Ai dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa saudari Cu Ai, justeru aku yang minta maaf kepadamu," kata Hua Li dengan hati terharu karena dia telah membuat gadis itu kecewa. Karena keinginannya bermain kecapi, ditolak oleh Hua Li.
Cu Ai hanya diam saja dan dia memutar tubuh dan berlari cepat mengejar ayahnya.
Suasana menjadi hening setelah ayah dan anak itu pergi jauh. Liu Ceng yang berwatak lembut dan peka itu merasa terharu dan kasihan kepada Cu Ai. Ia dapat menduga bahwa keinginan Cu Ai bermain kecapi itu sangatlah kuat, tetapi keputusan seperti ya Hua Li juga membuat keputusannya juga sama kuatnya.
Liu Ceng tahu kalau kekasihnya itu adalah pendekar yang sakti, karena itulah banyak pendekar yang ingin berguru padanya. Dan sepertinya Hua Li memang pilih-pilih orang untuk menjadikanya sebagai muridnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...