
TIba-tiba mereka mencabut pedang dari punggung mereka.
"Kalau kau tidak mau menolong Bibi guru kami, pedang kami yang akan memaksamu!" seru gadis yang memakai ikat pinggang hitam itu.
Liu Ceng merasa penasaran juga, walaupun mulutnya masih tersenyum. Dua orang wanita ini sudah keterlaluan dan mereka agaknya perlu disadarkan.
"Hemm, begitukah? Andaikata aku menolak, lalu kalian mau berbuat apa?" tanya Liu Ceng sedikit menantang.
Dua orang wanita itu membuat gerakan dengan pedang mereka, agaknya hendak menodong dan mengancam.
Akan tetapi tiba-tiba mereka terkejut karena begitu berkelebat, pemuda yang memakai baju putih itu lenyap dan yang tampak hanya bayangan putih berkelebat. Sebelum hilang rasa kaget mereka, tiba-tiba saja pedang di tangan mereka dirampas orang tanpa dapat mereka pertahankan karena lengan mereka yang memegang pedang tiba-tiba tertotok lumpuh.
Mereka terkejut dan cepat memutar tubuh. Di sana mereka melihat Liu Ceng berdiri memegang dua batang pedang yang dirampasnya dengan cepat tadi.
"He...he...he...! belum pernah aku melihat orang minta tolong dengan sikap seburuk kalian! Apakah aku berhadapan dengan dua orang wanita penjahat!" seru Liu Ceng dengan kedua tangannya yang memegang pedang rampasannya.
"Sing.....sing....!"
Sepasang pedang itu meluncur seperti anak panah dan menancap di atas tanah, dekat sekali dengan kaki dua orang wanita baju hijau itu.
Wajah dua orang wanita itu menjadi pucat. Sekarang baru mereka menyadari bahwa pemuda yang ada dihadapannya ini selain ahli pengobatan, ternyata seorang pendekar yang luar biasa.
Gadis yang memakai sabuk hitam itu lalu mengangkat kedua tangan depan dada, diikuti temannya menunduk ke arah Liu Ceng.
"Saudara Ceng maafkan kami. Kami baru saja menerima musibah yang mengakibatkan dua orang rekan kami tewas dan Bibi Guru kami terluka parah. Karena penasaran dan sedih, maka kami lupa diri dan bersikap sangat tidak baik kepadamu. Mohon maafkan kami berdua." ucap gadis yang memakai pakaian hijau dan sabuk warna senada dengan pakaian dipinggangnya.
"Kalau kalian menyesali kesalahan sendiri, hal itu sudah cukup, tidak ada yang perlu dimaafkan. Akan tetapi kuharap kalian menceritakan dengan singkat siapa kalian dan apa yang telah terjadi dengan kalian!" seru Liu Ceng yang kemudian duduk di atas akar pohon yang menonjol dari permukaan tanah dan mempersilakan dua orang wanita itu duduk pula.
__ADS_1
Mereka menghela napas panjang dan menyarungkan pedangnya kembali, lalu duduk berhadapan dengan Liu Ceng.
"Kami adalah murid-murid walet putih. Ketua kami mengutus Bibi Guru Thian Yu sebagai wakil perguruan walet putih untuk meninjau ke sekitar pegunungan Thai-san di mana para tokoh persilatan katanya mencari harta karun Kerajaan Han, di beberapa perguruan yang ada di sekitaran pegunungan Thai-san. Bibi Guru mengajak kami, lima orang muridnya, untuk melakukan penyelidikan. Kami mencari dan menemukan kedua orang murid perguruan walet putih telah tewas dan sebelum dibunuh agaknya mereka diperkosa orang. Kami marah sekali dan mencari pelakunya. Tak jauh dari situ kami menemukan orangnya yang ternyata seorang kakek iblis pendekar dari aliran hitam yang tinggi sekali ilmunya dan berkelakuan seperti iblis. Dia mengaku terang-terangan bahwa dia yang memperkosa lalu membunuh dua orang teman kami itu. Bibi Guru marah sekali. Kami lalu mengeroyoknya, akan tetapi Bibi Guru terluka sebatang panah kecil beracun sehingga dengan terpaksa kami melarikan diri. Kemudian, dari penduduk dusun kami mendengar kalau saudara Liu Ceng adalah ahli mengobati, maka kami mencarimu untuk mengobati bibi Guru." jelas gadis yang memakai sabuk hitam.
"Mohon ma'af jika kami telah bersikap kasar karena kami bingung dan marah, juga sedih." tambah gadis yang memakai sabuk senada dengan pakaianny itu.
"Kalau boleh saya tahu, siapakah kakek iblis yang jahat itu?" tanya Liu Ceng yang penasaran dengan kesaktiannya.
"Kakek iblis sombong itu adalah Beng Ong yang katanya jika semua orang yang hendak mencari harta karun akan berhadapan dengan dia karena harta itu katanya milik Kerajaan Mongol dan dia mewakili kerajaan penjajah itu." jawab gadis yang memakai sabuk hitam.
"Ah, kiranya Raja Iblis itu yang datang ke sini dan melakukan kekejian itu!" gumam Liu Ceng seraya memegang dagunya.
"Kau sudah mengenalnya, saudara Ceng?" tanya gadis yang memakai sabuk senada dengan pakaiannya itu.
Liu Ceng menganggukkan kepalanya.
"Ayo antarkan saya pada bibi guru kalian, mudah-mudahan saya dapat menyembuhkannya racun yang menyerangnya." lanjut ucap Liu Ceng yang kemudian mereka melanjutka perjalanan.
Beberapa saat kemudian mereka lalu memasuki sebuah hutan kecil di mana terdapat sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi. Dua orang murid wanita perguruan walet putih menyambut Liu Ceng dengan ramah.
Thian Yu seorang wanita yang berusia sekitar lima puluh tahun, berpakaian pertapa sederhana berwarna hijau. Ia rebah di atas dipan batu yang ditilami rumput dan daun kering, telentang dengan mata terpejam dan wajahnya agak membiru, napasnya terengah-engah.
Melihat wajah wanita itu saja Liu Ceng dapat menduga bahwa wanita itu keracunan. Tanpa diminta lagi ia segera duduk di tepi dipan batu itu dan memeriksa dengan teliti.
Setelah mendapatkan luka di pundak kanan wanita itu, luka oleh anak panah kecil yang sudah dicabut, tahulah ia bahwa racun itu disebabkan oleh anak panah yang melukai pundak.
Anak panah yang mengandung racun. Ia lalu dengan teliti memeriksa luka yang berwarna hitam menghijau di sekelilingnya. Memeriksa pula detak nadi untuk menemukan racun yang bagaimana sifatnya yang terkandung dalam tubuh melalui luka itu.
__ADS_1
"Bisakah kalian dudukkan bibi guru kalian ini?" tanya Liu Ceng, karena menghormati Thian Yu yang seorang wanita dan dia seorang laki-laki, dan yang ada para murid perguruan walet putih yang kesemuanya wanita.
"Baik saudara Ceng." jawab gadis yang memakai sabuk hitam mewakili temannya, mendudukkan bibi Gurunya yang masih pingsan dan menahan kedua pundaknya dari depan.
Kemudian Liu Ceng duduk bersila di belakang tokoh perguruan walet putih itu dan menotok beberapa jalan darah di tubuh bagian belakang lalu menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Thian Yu, dan mengerahkan tenaga dalam untuk membantunya mendorong keluar hawa racun dari dalam tubuhnya.
Perlahan-lahan muncul asap hitam mengepul dari tubuh Thian Yu dan tak lama kemudian ia muntahkan darah menghitam yang mengenai baju murid yang duduk di depannya dan menahan kedua pundaknya.
"Aaaghh...!"
Thian Yu mengeluh dan Liu Ceng menyuruh pada kedua gadis itu untuk merebahkan tubuh Thian Yu kembali.
Tak berapa lama wanita itu siuman dari pingsannya, namun tampak masih lemah.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1