
"Nanti dulu, tuan putri!" seru Hua Li dengan suaranya tetap halus karena dia ingat bahwa pangeran itu adalah calon suami adik misannya.
Hua Li akui bahwa pendapat tuan putri itu dipandang dari pihak Kerajaan Mongol memang tidak dapat dibantah kebenarannya. Akan tetapi jika dipandang dari pihak rakyat Han tentu saja membuat hatinya penasaran.
"Pendapatmu itu memang benar, akan tetapi itu kebenaran pemerintah yang menang dan menjadi penjajah. Tentu kau tahu benar bahwa harta karun itu didapatkan oleh Kerajaan Han yang telah jatuh dari milik rakyat jelata. Maka setelah kerajaan han itu jatuh, sudah sepatutnya kalau harta karun itu dikembalikan kepada rakyat. Adapun tempat ditemukannya harta karun ini, yaitu Pegunungan Tengkorak, sejak jaman dahulu adalah milik rakyat jelata di mana mereka terlahir dan mati. Ini adalah tanah air dan tanah tumpah darah rakyat jelata, maka segala sesuatu yang didapatkan di tanah air ini adalah hak milik rakyat. Kami membantu Adik Liu Ceng mendapatkan harta karun yang petanya ditinggalkan ayahnya dan setelah kami temukan, bagaimana mungkin hendak kau minta begitu saja untuk diserahkan kepada kerajaanmu? Ini sungguh tidak adil!"jelas Hua Li.
Sebelum Putri raja Yu menjawab, tiba-tiba terdengar suara tawa aneh. Tawa yang keluar dari dua mulut, akan tetapi begitu aneh tawa itu sehingga menyeramkan, apalagi yang satu tawanya seperti tangis. Muncullah sepasang kakek dan nenek iblis yang bukan lain adalah Beng Ong dan Si Mayat Betina.
''He....he ...hi.....hi....!"
"Hi...hi....! tuan putri, kenapa tuan putri masih mengajak mereka bercakap-cakap? Rampas saja harta karun itu, kami akan membantu tuan putri dan hadiahnya bagi saya cukup serahkan pemuda ahli obat itu kepada saya!" seru Si Mayat betina itu seraya menunjuk ke arah Liu Ceng..
"He..he ..! benar sekali, tuan putri. Dan serahkan gadis itu sebagai hadiah kepada saya!" seru Beng Ong yang tidak mau kalah seraya menunjuk ke arah Hua Li.
Akan tetapi pada saat itu tampak banyak orang berlompatan dan sebentar saja puluhan orang sudah berdiri di belakang Hua Li dan Liu Ceng. Mereka adalah rombongan perguruan ular kobra, perkumpulan pengemis tongkat merah, perguruan walet putih yang diwakili Thian Yu dan para muridnya, perguruan Bu ga persik yang diwakili oleh Ling ling dan Ching Mei yang datang bersama Sin Lan dan Sin Lin.
Tampak pula Cu Liong bersama puterinya, Cu Ai, akan tetapi mereka ini berdiri di tempat netral, agaknya tidak berpihak kepada siapa pun.
__ADS_1
"Tuan putri, mereka itu hendak memberontak terhadap kerajaan kita!" seru Kong Sek dengan nada marah.
Rupanya Kong Sek saat melihat Hua Li, dia sudah tidak sabar untuk mempergunakan kekuatan putri raja Yu, Beng Ong dan Si Mayat betina untuk membunuh Hua Li sebagai balas dendam terhadap kematian ayahnya.
Putri Raja Yu memberi isyarat dengan tangan agar Kong Sek dan dua orang kakek nenek iblis itu tidak turun tangan. Lalu dia memandang kepada mereka yang baru datang itu. .
"Tuan putri, kami sama sekali tidak hendak memberontak terhadap pemerintah! Kami hanya membenarkan saudara Liu Ceng dan saudari Hua bahwa harta karun itu adalah berasal dari rakyat jelata dan harus kembali kepada rakyat yang menjadi pemiliknya. Ada pun harta karun itu ditemukan di pegunungan tengkorak, maka kami perguruan ular kobra yang sudah ratusan tahun tinggal di sini, dapat mengatakan bahwa tempat ini merupakan daerah wilayah kami. Kami percaya bahwa pemerintah tentu menghormati hak rakyat atas daerah yang menjadi kekuasaannya." jelas ketua Thio Kong dengan sopan.
"Kami mendukung saudara Liu Ceng, dan kalau ada yang hendak merampas harta karun milik rakyat dari tangannya, kami siap untuk membelanya!" Seru Thian Yu wakil dari perguruan walet putih. Terdengar suara berisik karena semua yang diam-diam anti penjajahan mendukung Liu Ceng.
Menghadapi semua ucapan itu dan melihat puluhan pasang mata memandangnya dengan sikap penasaran, putri raja Yu tampak tenang saja. Berbeda dengan Beng Ong, si mayat betina dan Kong Sek yang sudah marah dan ingin menerjang dan mengamuk.
"Kami mengerti bahwa kalian tidak hendak memberontak terhadap pemerintah, dan kami juga tidak ingin bermusuhan dengan para tokoh dunia dunia persilatan! Kalian menghendaki harta karun untuk diberikan kepada rakyat jelata, sebaliknya pemerintah menghendaki harta karun itu juga hendak dipergunakan demi kesejahteraan rakyat. Untuk mengatur negara dari rakyat, untuk menyejahterakan rakyat memerlukan biaya yang amat besar. Harta karun itu memang peninggalan Kerajaan Han, maka setelah Kerajaan Han kalah, maka dengan sendirinya harta karun itu menjadi milik kerajaan kami yang menang. Aku, Putri raja Yu sama sekali tidak menginginkan harta itu untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk diserahkan kepada kerajaan, kepada pemerintah!" kata Yauw Li yang menatap Liu Ceng dan yang lainnya dengan masih berharap untuk mendapatkan harta Karun itu.
"Tuan putri, kami tidak dapat membantah kebenaran ucapan Paduka, akan tetapi kebenaran itu dipandang dari pihak kerajaan. Kakak Ceng juga memiliki kebenaran pendiriannya sendiri. Ia menerima warisan peta dari ayahnya dengan pesan khusus, maka sebagai anak yang berbakti tentu saja ia harus melaksanakan pesan atau perintah yang diwariskan ayahnya. Adapun kami semua yang membela kakak Ceng juga mempunyai kewajiban, yaitu berbakti kepada bangsa dan tanah air, membela kepentingan rakyat, maka kami mendukung niat kakak Ceng untuk mengembalikan harta karun kepada rakyat jelata." jelas Hua Li.
"Dua pihak memiliki alasan dan pendirian masing-masing, itu hal yang wajar. Tidak ada yang dapat disalahkan karena alasan masing-masing benar. Kalian adalah pendekar-pendekar yang setia membela kepentingan rakyat akan tetapi lupa bahwa kalian juga berkewajiban untuk membela dan setia kepada pemerintah yang berkuasa dan berwenang. Adapun kami tentu saja berkewajiban untuk berbakti kepada pemerintah kerajaan kami dan sekaligus juga mementingkan kesejahteraan rakyat yang akan dilaksanakan dan diatur oleh pemerintah." kata Yauw Lie seraya menganggukkan kepalanya secara pelan-pelan.
__ADS_1
"Pangeran, kita hajar saja pemberontak-pemberontak ini!" seru Beng Ong yang sudah tidak sabar lagi.
"Beng Ong, kami bukan pemberontak! Kami tidak takut kepadamu demi membela hak kami!" seru ketua Thio Kong dengan lantang.
Liu Hong yang melihat betapa kedua pihak mulai panas, meninggalkan Liu Ceng dan melompat ke dekat Yauw Lie. Ia menatap wajah tuan putri itu.
"Tuan putri jangan memusuhi kakak misanku Hua Li dan kakak angkatku, Liu Ceng. Ingat akan janjimu kepadaku!" kata Liu Hong secara lirih.
Yauw Lie itu tersenyum, menyentuh lengan Li Hong dan mengangguk. Kemudian dia menoleh ke arah Beng Ong, Si Mayat Betina dan Kong Sek yang agaknya sudah siap dengan senjata masing-masing.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...