
Ahh.....!"
Bukan main lega dan girangnya rasa hati dua orang muda itu. Mereka percaya kepada keterangan ini, pertama karena tadi pun Cu Ming sudah berkata demikian, dan kedua karena setelah kini Mo Li yang kini menjadi biksuni, sikap dan kata-katanya sangat menyakinkan.
Ketika Hok Cu menatap wajah bekas gurunya itu, biksuni tua itu melihat keraguan di pandangan mata bekas muridnya.
"Amitabha.....! apakah kau masih ragu, Hok Cu? Apa gunanya aku menggunduli rambut dan menjadi biksuni, kalau aku masih suka berbohong? Tenangkan hatimu dan menikahlah kalian." kata Biksuni Li dengan lemah lembut.
Biksuni Li itu lalu merangkap kedua tangan dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa lalu meningalkan mereka yang memberi hormat dengan membungkuk.
Setelah biksuni Li itu memasuki kuil dari pintu belakang, Han Beng merangkul kekasihnya dan Hok Cu juga merangkulnya. Keduanya tidak berkata apa-apa, akan tetapi suatu kebahagiaan dan kelegaan menyusup ke dalam jantung mereka.
Ketika mereka menceritakan hal itu kepada Coa Siang dan Cu Ming suami isteri ini merasa bergembira sekali.
"Adik, keluargamu hanya kami. Maka kami yang wajib merayakan pernikahan kalian." kata Coa Siang.
"Aihh....kakak ipar! kami hanya membuat kalian repot saja!" seru Han Beng.
"Tidak! kau harus menerimanya adik Beng! Ingat, bukankah aku ini Kakakmu? pengganti orang tuamu? Jadivkau harus taat!" seru Coa Siang.
"Dan kau juga Adik Hok Cu. Kau pun sepatutnya mentaati permintaanku, yaitu kalian harus melaksanakan pernikahan di sini, dan kami yang akan merayakannya." kata Cu Ming.
Tentu saja Hok Cu dan Han Beng merasa gembira bukan main.Karena suami isteri itu mendesak agar pernikahan segera dilangsungkan, maka mereka tidak sempat lagi untuk memberi kabar kepada Kwe Ong dan biksu Hek-bin yang merantau ke Gunung Thai-san.
Mereka mengambil keputusan untuk kelak saja setelah menikah mencari guru-guru mereka untuk memberitahu dan mohon doa restu mereka.
Pernikahan itu dilangsungkan dengan sederhana di dusun tempat tinggal Coa Siang , namun cukup meriah walaupun hanya dihadiri para tetangga. Biarpun hanya sederhana, namun sebentar saja dunia persilatan sudah mendengar belaka berita itu, bahwa pendekar Naga Sakti Sungai Kuning telah menikah dengan pendekar wanita Hok Cu yang namanya mulai dikenali
Han Beng dan Hok Cu merasa berbahagia sekali ketika melihat bahwa tanda bintik merah di bawah siku lengan kiri Hok Cu benar-benar lenyap setelah malam pengantin pertama.
__ADS_1
Mereka hidup penuh kemesraan, dan Coa Siang dengan isterinya sengaja menyewakan sebuah rumah mungil untuk mereka berdua agar mereka dapat berpengantinan.tanpa ada gangguan.
Sepasang pengantin itu sudah yakin akan kebenaran keterangan Biksuni Li maka mereka tidak pernah merasa was-was. Bahkan setelah batas waktu satu bulan itu makin mendekat, mereka sama sekali tidak mempedulikan, sama sekali tidak merasa khawatir.
Setelah lewat sebulan, tidak pernah terjadi apa-apa. Kesehatan Hok Cu sama sekali tidak terganggu, bahkan! ia nampak segar dan sehat, dengan kedua pipi kemerahan dan wajah yang mengeluarkan cahaya berseri, bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar-mekarnya.
Kemudian sebulan lewat beberapa hari, Hok Cu mulai merasakan suatu kelainan, la sering merasa pening. Ketika ia memberitahukan hal ini kepada suaminya, tentu saja Han Beng menjadi pucat pasi. Jangan-jangan ancaman itu sedang berlangsung sekarang.
Makin hari, keadaan Hok Cu semakin gawat. Bukan saja ia merasa pening bahkan seringkali merasa mual dan muntah-muntah. Tentu saja Han Beng menjadi semakin bingung.
Akhirnya, mereka yang tadinya masih segan dan rikuh untuk memberitahu kepada Cu Ming karena khawatir kalau wanita itu tersinggung, tidak peduli lagi dan mereka pergi ke rumah Coa Siang.
Mereka tidak dapat menahan lagi kekhawatiran hati mereka karena kini sudah dua hari Hok Cu tidak suka makan, setiap kali dicobanya makan selalu muntah. Itu tanda keracunan.
Coa Siang dan Cu Ming yang menyambut mereka dengan heran karena wajah pengantin baru itu tampak tegang dan cemas. Padahal mereka baru hampir dua bulan menjadi pengantin. Begitu bertemu dengan Cu Ming, Hok Cu langsung merangkulnya dan menangis.
"Eiitt, ada apa ini? Apakah kalian yang baru menikah dua bulan sudah bertengkar?Sungguh terlalui" seru Cu Ming yang mengomel.
"Sssssttt...adik Beng! Ada apakah isterimu itu?" tanya Coa Siang yang mendekati Han Beng dengan berbisik.
"Celaka, kakak Angkat! rupanya ancaman itu bukan bohong belaka! Isteriku, Hok Cu.....! selama beberapa hari ini memperlihatkan gejala yang amat mengkhawatirkan..... pusing, mual dan muntah, tanda-tanda keracunan.....!" seru Han Beng yang gelisah.
"Ehh....!" seru Coa Siang yang terkejut dan memandang ke arah isterinya yang masih menangisi Hok Cu. Cu Ming juga mendengar laporan Han Beng tadi sangat terkejut.
"Cepat sana, panggil Ibu Ma kemari! Ayo Cepat!" seru Cu Ming yang khawatir.
"Baik.....!" kata Coa Siang dan ia pun cepat lari keluar.
Han Beng melangkahkan kakinya mendekati Cu Ming..
__ADS_1
"Kakak Ipar, bagaimana ini? Isteriku apakah tidak apa-apa?" tanya Han Beng yang khawatir.
"Tenanglah, Kakakmu sedang mengundang ibu Ma." kata Cu Ming yang berharap bisa menghibur Han Beng.
"Siapa itu Ibu Ma?" tanya Han Beng yang penasaran.
"la tabib yang paling pandai untuk mengobati penyakit keracunan macam ini." kata Cu Ming sambil menahan senyum.
Han Beng mengerutkan alisnya. Kenapa kini sikap Cu Ming demikian, menurutnya seperti main-main, seolah gembira melihat ancaman maut atas diri Hok Cu.
"Jangan-jangan puteri Mo Li ini.....! Ah, hampir saja aku menampar mukaku sendiri !" gumam Coa Siang, ketika merasa betapa gilanya pikiran jahat itu timbul.
Pada saat itu, Coa Siang sudah kembali sambil menarik lengan seorang nenek yang usianya sudah ada tujuh puluh tahun, kurus akan tetapi masih gesit. Nenek itu tertawa-tawa dengan mulut yang tak bergigi lagi.
"Hayaaa..... apa-apaan ini orang tua diseret-seret? Siapa yang harus kuperiksa!" seru si nenek itu dengan kesal.
"Ini, ibu Ma. Pengantin baru ini yang sakit. Cepat periksa di kamarku!" seru Cu Ming yang merangkul Hok Cu, yang diajak masuk ke dalam kamar, diikuti nenek itu yang jalannya terpincang-pincang. Han Beng mengerutkan alisnya.
"Aduh, nenek itu sama sekali tidak meyakinkan sebagai seorang tabib ampuh!" gumam dalam hati Han Beng yang menunggu di luar kamar, duduk di kursi dengan alis berkerut.
Dia berterima kasih kepada Coa Siang yang tidak mengajaknya bicara karena dia enggan bicara pada saat menegangkan seperti itu. Tak lama kemudian, terdengar suara Cu Ming yang tertawa dan ia nampak keluar bersama Hok Cu, diikuti pula oleh nenek itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih ini...
...Bersambung...