
Tiba-tiba saja bola nanas yang meledak dan memakan banyak korban itu datangnya dari rombongan pasukan kerajaan Mongol yang sebagian sudah sampai di tepi pulau Ular.
Pulau ular kini menjadi berselimutkan darah dan mayat manusia dari berbagai aliran. Hampir tak ada satu pun yang selamat oleh serangan bola nanas itu.
Hua Li dan juga Liu Ceng begitu terkejut dan sangatlah marah, tanpa menunggu lagi mereka menyerang pasukan Mongol itu yang berjumlah ratusan orang itu dengan sekuat tenaga mereka.
Liu Ceng yang menyerang dengan mengandalkan jurus pedangnya, sementara Hua Li menggunakan kecapinya, mengingat lawannya yang tak sedikit itu.
"Teng....teng...teng....!"
Bunyi kecapi mengalun dengan merdunya, namun mengandung tenaga dalam yang luar biasa.
"Darr....darr.....darr....!"
Ledakan demi ledakan menyerang pasukan dar kerajaan Mongol, yang dimana mereka belum sempat melemparkan bola nanas, tapi mereka terlebih dulu terkena ledakan dari alunan kecapi.
Dalam sekejap puluhan pasukan Mongol itu tewas seketika karena terkena ledakan dari jurus kecapi yang dimainkan oleh Hua Li.
Demikian pula dengan Liu Ceng, dengan pedangnya dia juga membabat satu persatu pasukan dari kerajaan Mongol itu.
"Trang....Trang...Trang...!"
"Sreet...! Jlebb....!"
"Trang....Trang...Trang...!"
"Sreet...! Jlebb....!"
Demikianlah yang dilakukan oleh Liu Ceng secara berulang kali, dan pemuda itu lama kelamaan tenaganya terkuras habis setelah berhasil membunuh kurang lebih dua ratus orang pasukan kerajaan Mongol itu.
Dan itu belum ada seperempatnya, sedangkan Hua Li yang menggunakan kecapi sebagai senjatanya, mampu menewaskan tiga ratusan orang pasukan kerajaan Mongol. Dan kini tinggal kurang dari setengah pasukan Mongol yang tiba di pulau Ular, yang harus ada tenaga yang lebih besar untuk menghadapi mereka.
Sementara Liu Ceng sudah tak sanggup lagi, tenaganya sudah terkuras habis dan dia terduduk dengan berlutut, Tubuhnya bersimbah darah dari lawan-lawannya.
Tiba-tiba saja secara beruntun, pasukan kerajaan Mongol itu satu persatu menyabet dan menghunuskan pedang ke arah Liu Ceng.
"Sreet.....Jlebb....!"
"Aaaarghh....!"
"Sreet.....Jlebb....!"
"Ughh......!"
__ADS_1
Suara erangan Liu Ceng berbarengan terhunusnya pedang ditubuhnya.
"Kakak Ceeeeng.......!'' panggil Hua Li pada saat melihat keadaan Liu Ceng.
Gadis itu mengamuk dan meningkatkan tenaganya dalam memetik dawai-dawai kecapi.
"Teng....teng...teng....!"
Bunyi kecapi mengalun dengan merdunya, namun mengandung tenaga dalam yang luar biasa.
"Darr....darr.....darr....!"
"Teng....teng...teng....!"
"Darr....darr.....darr....!"
Kembali tiga ratus pasukan kerajaan Mongol tewas dan yang lainnya terluka parah karena terkena ledakan dari tenaga yang dikeluarkan oleh setiap alunan kecapi Hua Li.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Hua Li tetap memainkan kecapi dan akhirnya dia menuntaskan sisa pasukan kerajaan Mongol itu.
"Host...host ..host...!"
Gadis itu mengatur pernapasannya, dan dengan tertatih-tatih melangkahkan kaki menghampiri Liu Ceng yang sudah sekarat.
"A...adik Hu...Hua....! A...aku men..cin...taimu...!" balas Liu Ceng dengan terbata-bata dan napas yang tak beraturan.
"Kakak Ceng!" panggil Hua Li yang seketika itu juga memeluk Liu Ceng.
"Ja....ga di...rI baik-baik...! se...la...mat ting...gal!" ucap Liu Ceng yang menghembuskan napas terakhirnya.
"Kakak Ceng...!" teriak Hua Li sekeras-kerasnya dengan posisi masih memeluk kekasihnya itu.
Cukup lama Hua Li dalam posisi seperti itu, dan setelah dapat mengendalikan dirinya, gadis itu memakamkan kekasihnya secara layak. Berikut juga dengan keluarganya satu persatu dengan dibantu penduduk Pulau ular yang masih selamat.
Setelah selesai, Hua Li membagikan harta Karun yang mereka dapat pada para penduduk yang masih hidup secara adil.
"Untuk kalian semuanya, ambillah beberapa keping emas ini dan carilah tempat tinggal yang baru. Karena Pulau ular ini sudah tidak layak dihuni oleh manusia. Selain karena darah dan mayat yang berserakan, bau anyir-nya tentu akan mengganggu pernapasan kalian. Jadi pergunakanlah uang ini dengan aebaik-baiknya!" kata Hua Li dengan lantang.
"Baik pendekar kecapi!" seru dua puluh orang warga yang tersisa itu.
Setelah menerima uang dari Hua Li, mereka berbondong-bondong meninggalkan pulau ular. Demikian pula dengan Hua Li yang masih membawa sebagian uang dari harta Karun itu untuk bekalnya dalam perjalanan dan juga membantu para pejuang yang tersisa.
Gadis itu melakukan perjalanan. kembali ke perguruan Bambu Kuning.
__ADS_1
"Aku tak habis pikir, kenapa banyak pasukan Mongol yang datang kemari. Lantas dimanakah tuan putri Yu itu?" gumam dalam hati Hua Li diatas perahu keci yang membawanya berlabuh.
Peristiwa di Pulau ular itu sungguh menghancurkan kehidupan Hua Li. Dia seolah-olah telah mati, dan selalu terancam bahaya oleh pihak kerajaan Mongol. Maklum bahwa para musuhnya itu takkan pernha berhenti berusaha untuk merampas sisa harta Karun yang dia bawa.
Di sela-sela perjalanannya, Hua Li memperdalam ilmu-ilmunya, bahkan dengan bakat dan kecerdikannya, dia telah menciptakan beberapa macam ilmu silat yang hebat. Kini, dalam usia kurang lebih lima puluh tahun, dia memiliki ilmu kepandaian yng hebat, dan jarang ada orang yang akan mampu menandinginya.
Tiba-tiba Hua Li mengelak kekanan,pada saat sebatang piauw yang bentuknya segi tiga dan diujung belakangnya dihiasi ronce-ronce merah. Piauw ini kecil dan ringan sekali, akan tetapi runcing dan mengandung racun yang amat berbahaya, hal ini dapat dikenalnya dari baunya yang amis seperti bau ular.
Dan melihat bentuk piauw yang kecil ringan itu, apalagi melihat hiasan ronce merah, Hua Li dapat menduga bahwa yang mempergunakannya patutnya seorang wanita. Sepasang alisnya berkerut.
Siapa sekiranya yang mengirim seorang murid wanita untuk mencoba membunuhnya. Rasa gatal pada tangan kanannya membuat dia tiba-tiba seperti orang terkejut dan cepat dia memeriksa tangan kanannya, matanya terbelalak melihat betapa ada tanda menghitam pada dua jarinya, di permukaan telunjuk dari jari tengah.
"Ahh...!" seru Hua Li perlahan dan cepat mengambil sebuah buntalan yang tergantung pada rak senjata.
"Sungguh tolol, memandang rendah lawan!" gumam Hua Li sambil membuka buntalan dan dia mengeluarkan sebuah bungkusan kuning.
Dibukanya bungkusan itu dan ditaburkan sedikit bubukan merah pada noda hitam di kedua permukaan jari tangan, digosok-gosoknya dan noda itupun lenyap, rasa gatalnya lenyap.
Bubuk merah itu adalah obat manjur sekali untuk melawan racun, hali itu dia pelajari dari Liu Ceng sebelum kekasihnya itu tewas.
Kiranya, penyerang dengan piauw tadi agaknya sengaja melontarkan piauw secara perlahan saja agar dia dengan mudah dapat menangkapnya dengan tangan atau sumpit.
Dan biarpun ditangkap dengan sumpit, namun agaknya ada bubuk atau hawa beracun dari piauw itu yang mengenai jari tangannya.
Seolah-olah racun itu mampu menjalar melalui sumpit, mengenai dua jari tangan yang kalau tidak cepat diobati akan berbahaya sekali baginya, dapat membuatnya mati konyol.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1