
"Pasti akan terjadi sesuatu yang gawat di sekitar kita!" bisik salah satu penduduk yang melihat Lim Mao dan Kun Cie melewati mereka dengan perasaan khawatir.
Pada saat itu, Siok Kung sedang membuka tokonya yang tidak terlalu besar seperti biasa. Dia berdagang rempah-rempah dan dalam pekerjaannya itu dia telah dibantu Siok Eng dan Siok Hwa,
Ada pula seorang pembantu wanita setengah tua yang bekerja di dapur. Mereka sama sekali belum mendengar nasib yang menimpa keluarga mereka Saudagar Siok Chen yang sudah meninggal karena dibunuh panglima Lim Bao.
Maka, dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka itu ketika tiba-tiba sepuluh orang perajurit yang mengawal Lim Mao dan Kun Cie telah berada di depan toko.
Saking kagetnya, mereka berempat hanya terbelalak memandang dua orang pemuda itu yang sudah melompat turun dari punggung kuda mereka dan cengar-cengir memasuki toko.
Siok Kung yang tinggi kurus dan pemberani itu cepat melangkah maju melindungi yang lainnya, lalu memberi hormat dan bertanya dengan sikap sopan namun suaranya tegas.
"Tuan Muda Berdua datang berkunjung mempunyai keperluan apakah?" tanya Siok Kung dengan menjura.
Akan tetapi Lim Mao dan Kun Cie yang sudah bersepakat mencabut golok masing-masing.
"Kalian keluarga pemberontak! Kalian sudah memberontak terhadap pemerintah! Kami datang untuk membasmi kalian!" bentak Lim Mao yang menatap tajam pada Siok Kung.
"Apa maksud anda?" tanya Siok Kung penasaran.
Tanpa menggubris pertanyaan Siok Kung, Lim Mao memberi isyarat kepada para perajurit pengawalnya itu lalu menyerbu ke dalam toko.
Siok Kung terkejut bukan main dan karena dia sedang berjualan, maka dia tidak mempersiapkan senjata. Dia mencoba melawan ketika para perajurit itu menyerbu.
Akan tetapi pada saat itu, Lim Mao dan Kun Cie juga sudah menyerangnya. Tingkat kepandaian Siok Kung hanya sebanding dengan tingkat Lim Mao dan Kun Cie.
Maka kini, dengan tangan kosong dia menghadapi penyerangan dua orang pemuda bangsawan yang bersenjata golok, masih dikeroyok lagi oleh sepuluh perajurit. Tentu saja dia hanya mampu melawan sebentar.
Hunusan senjata tajam bertubi-tubi menghunjam tubuhnya sehingga dia roboh mandi darah dan tewas seketika.
Para pembantu Siok Kung hendak menolong mantunya, akan tetapi sambaran golok Lim Mao membuat lehernya hampir putus dan dia pun roboh di dekat mayat majikannya.
Siok Hwa dan Siok Eng menjerit-jerit menangisi pamannya, akan tetapi Lim Mao sudah meringkus Siok Eng dan Kun Cie meringkus Siok Hwa.
__ADS_1
Dua orang gadis itu meronta-ronta dan menjerit-jerit, akan tetapi tentu saja mereka tidak mampu melepaskan diri dari rangkulan dua orang pemuda itu.
Siok Hwa terkulai pingsan karena kelelahan meronta dan menagis. Ia dirangkul dan dibawa meloncat ke atas punggung kuda oleh Kun Cie.
Sementara itu Siok Eng juga meronta-ronta dan menjerit, memaki-maki, akan tetapi tubuhnya dirangkul ketat oleh Lim Mao sehingga ia tidak mampu bergerak dan ia pun dibawa naik ke atas punggung kuda oleh Lim Mao.
Sedangkan sepuluh orang pengawal itu, seperti biasa, menggunakan kesempatan itu untuk mengambil barang-barang yang berharga dari toko dan rumah itu. Sikap dan perbuatan mereka itu tiada ubahnya segerombolan perampok.
Ketika peristiwa itu terjadi, para tetangga, bahkan mereka yang sedang berlalu-lalang atau berdekatan dengan rumah Siok Kung, ketakutan dan menjauhi tempat itu.
Setelah pasukan itu pergi, barulah para tetangga berani mendekat. Mereka menemukan pelayan wanita keluarga itu, sedang berlutut dan menangisi mayat Siok Kung dan teman sesama pelayannya yang mandi darah.
Para tetangga cepat bergotong-royong merawat dan mengatur pemakaman ayah mertua dan mantu itu secara sederhana.
Pelayan wanita itu kini menjaga rumah itu seorang diri dengan hati penuh rasa ngeri, takut dan juga sedih dan bingung. Ia sendiri sudah tidak mempunyai sanak keluarga dan keluarga Siok Kung itu sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri.
Bahkan ia pula yang dahulu menjadi inang pengasuh Siok Kung ketika masih kecil. Maka biarpun kini Siok Kung telah tewas, Siok Eng dan sook Hwa yang dibawa lari oleh Lim Mao dan Kun Cie, ia tidak dapat meninggalkan rumah itu.
"Bedebah, manusia terkutuk!" seru Siok Eng yang memaki-maki.
"Ha....ha....ha .....!"
Mendengar hal itu, Lim Mao tertawa lepas seraya melarikan kudanya menuju ke sebuah pondok yang menjadi tempat peristirahatannya.
Dia tidak mau membawa gadis tawanannya itu pulang, karena di sana terdapat banyak orang. Ibu kandungnya, para ibu tirinya, para pembantu rumah tangga dan banyak pula perajurit pengawal sehingga dia akan merasa tidak leluasa.
Karena itu dia membawa Siok Eng ke rumah peristirahatannya yang hanya dijaga oleh seorang pelayan wanita tua.
Setelah tiba di rumah itu, Lim Mao membiarkan kudanya dituntun pelayannya ke halaman belakang, sedangkan dia sendiri memondong tubuh Siok Eng yang meronta-ronta, memasuki rumah itu sambil tertawa-tawa gembira.
Setelah memasuki kamarnya, dia melemparkan tubuh Siok Eng ke atas pembaringan.
Tentu saja Siok Eng menjadi marah dan juga ngeri karena ia dapat menduga apa yang akan dilakukan pemuda setan itu kepada dirinya. Ia merasa putus harapan karena sejak tadi, semua jeritannya sia-sia belaka, tidak ada orang yang berani mencampuri urusan Lim Mao.
__ADS_1
Pada saat itu, sambil memandang wajah Lim Bao dengan ketakutan, Dia harus berbuat sesuatu untuk mempertahankan kehormatannya.
Lebih baik mati daripada harus menyerahkan kehormatannya kepada pemuda biadab ini. Siok Eng mengambil tusuk sanggulnya yang terbuat dari perak dan berujung runcing.
Ia sengaja tidak mengelak ketika bagaikan seekor harimau menubruk domba, Lim Mao menerkam dan merangkul serta hendak menciuminya.
Pada saat pemuda itu lengah oleh memuncaknya nafsu ketika kedua tangan pemuda itu mulai merenggut dan menanggalkan pakaian Siok Eng yang sengaja dibiarkan saja oleh gadis itu, tiba-tiba tangan kanan Siok Eng yang sejak tadi sudah mempersiapkan tusuk kondenya, menyambar dengan pengerahan sekuat tenaga ke wajah Lim Mao.
Lim Mao yang sedang dimabok nafsu dan sama sekali tidak mengira bahwa gadis yang sudah dicengkeramnya dan dia kira sudah menyerah itu akan menyerangnya. Dia menjadi lengah dan serangan itu terlalu dekat sehingga dia tidak sempat mengelak atau menangkis lagi.
"Jlebb.....!"
"Aduhhhh......!"
Lim Mao melompat ke belakang seperti terpental dan kedua tangannya mendekap mata kirinya di mana masih menancap tusuk konde yang panjangnya sejengkal lebih itu dan yang sudah memasuki matanya hampir seluruhnya.
"Aargh....!"
Pemuda itu mengerang kesakitan, lalu mencabut tusuk konde itu dan darah muncrat-muncrat dari mata kirinya.
Kemarahan dan rasa nyeri membuat putra Lim Bao hampir gila. Dia menerkam tubuh Siok Eng yang masih telentang di atas pembaringan, lalu kedua tangannya memukul, mencekik dengan membabi buta.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1