
"Putraku! Coba kau jelaskan, bagaimana engkau sampai memilih Tuan putri Yu itu sebagai calon istrimu?" tanya Lu Siang, ibu kandung Liu Hong yang sedari tadi menyimak percakapan mereka.
Tampaknya orang tua Liu Hua itu sangat terkejut dan agaknya tidak suka mendengar putranya berhubungan dengan tuan putri Mongol itu, namun Liu Hong tetap tenang dan tersenyum menghadapi kedua orang tua dan gurunya itu.
"Ayah, ibu dan guru, mantu seperti apakah yang kalian inginkan?" tanya Liu Hong
"Tentu saja seorang pendekar seperti kakak misanmu ini!" seru Ban Tek.
"Ya, kami menginginkan mantu seorang pendekar budiman," kata Siauw Tek dan isterinya yang mengangguk-anggukkan kepalanya, karena membenarkan suaminya.
"Hemm, apakah seorang pendekar seperti Yauw Lie itu, yang sudah kalian kenal kehebatannya itu?" tanya Liu Hong.
"Ya, seperti Yauw Lie itu! O ya, kenapa kalian tidak menceritakan tentang Yauw Lie yang dulu menemani kalian berdua pergi mencari harta karun? Ke mana dia dan bagaimana dengan dia?" guru Ban Tok yang penasaran.
"Ayah dan Ibu dan guru, ketahuilah bahwa Yauw Lie itu bukan lain adalah Tuan Putri Yu dari kerajaan Mongol itu." jelas Liu Hong.
"A....apa?" seru ketiga orang tua itu yang sangat terkejut.
"Kalau begitu, ketika dia ke sini itu, dia memang sengaja menyamar dan bermaksud buruk?" tanya Siauw Tek yang menduga-duga.
"Sama sekali tidak, Ayah," jawab Liu Hong membela yang kekasihnya.
__ADS_1
"Dia memang mendengar bahwa kakak Ceng, pemegang peta harta karun itu berada di sini. Sebagai utusan Kaisar yang bertugas menemukan harta karun itu, tentu saja dia ingin mendekati kakak Ceng dan menyelidikinya. Akan tetapi ketika dia sudah dekat dengan pulau kita ini, dia bertemu dengan pasukan pemerintah. Tuan putri Yu belum lama kembali dari perantauannya ke barat sejak remaja, maka pasukan itu tidak mengenalnya. Dan tuan putri Yu yang sedang menyamar juga tidak memperkenalkan diri, maka dia dikeroyok sehingga terluka dan kita menolongnya." lanjut jelas Liu Hong
"Akan tetapi, Liu Hong, bagaimana ceritanya sampai kau mengambil keputusan bertunangan dengan seorang Tuan putri dari kerajaan Mongol? Tidak kelirukah pilihanmu itu?" tanya Siauw Tek sambil mengerutkan alisnya dan Nyonya Lu Siang juga menggelengkan kepalanya tanda kurang setuju.
Jantung dalam dada Li Hong berdebar kencang dan mukanya berubah merah ketika ia teringat akan pengalamannya dengan Yauw Lie. Tentu saja ia tidak mau menceritakan kepada siapapun juga bahwa ia telah berhubungan sebagai suami isteri dengan kekasihnya itu.
"Liu Ceng, kau yang melakukan perjalanan bersama Liu Hong dan Yauw lie tentu tahu apa yang telah terjadi. Ceritakan kepada kami!" seru Ban Tok yang penasaran karena melihat Liu Hong agaknya ragu dan malu,
"Ketika itu kami bertiga, saya, adik Hong dan Tuan putri Yu yang kita kenal sebagai Yauw Lie membantu pihak perkumpulan pengemis tongkat merah menghadapi utusan perguruan tengkorak hitam beserta anak buah mereka. Kami berhasil mengusir mereka, dan sepasang iblis itu melarikan diri. Adik Liu Hong mengejar mereka sedangkan saya lalu sibuk mengobati orang-orang dari perkumpulan pengemis tongkat merah yang terluka. Sedangkan Yauw Lie lalu pergi menyusul adik Hong. Nah, demikianlah dan selanjutnya, saya kira Adik Liu Hong sendiri yang akan dapat menceritakan dengan jelas." cerita Liu Ceng.
"Apa yang diceritakan kakak Ceng itu benar," kata Liu Hong.
"Aku amat benci kepada para utusan dari perguruan tengkorak hitam itu, kemudian aku melakukan pengejaran untuk membunuh mereka. Akan tetapi setelah mengejar sampai hari menjadi gelap, aku kehilangan jejak mereka. Dalam sebuah hutan aku terjebak dalam perangkap lalu tahu-tahu aku tertotok pingsan. Ketika aku siuman, aku telah berada dalam sebuah gubuk, kaki tanganku terikat dan di situ terdapat sepasang suami istri yang menyeramkan dan tampak jahat sekali. Mereka itu bersikap kurang ajar, memaksa aku minum sesuatu yang membuat tubuhku tidak karuan rasanya dan mereka melucuti pakaianku! Dalam keadaan yang amat gawat tanpa aku dapat melakukan sesuatu itu, tiba-tiba muncul tuan putri Yu dan dua orang itu dibunuhnya. Aku ditolong oleh Tuan putri itu. Nah, Ayah dan Ibu berdua tentu mengerti mengapa aku bertekad untuk berjodoh dengan Tuan putri Yu. Pertama karena kami memang saling mencinta, dan kedua bagaimana aku dapat menikah dengan perempuan lain kalau tuan putri Yu telah melihatku dalam keadaan seperti itu, bertelanjang bulat? Akan tetapi yang lebih penting, aku menilai dia seorang yang bertabiat baik sekali, dan kami berdua saling mencinta!" jelas Liu Hong.
Dilarang dan ditentang tentu akan percuma karena kalau sudah memiliki kemauan, pemuda itu tidak mungkin dapat dilarang lagi. Apalagi Siauw Tek dan Nyonya Lu Siang merasa tidak memelihara dan mendidik Liu Hong sejak kecil sampai dewasa, mereka tentu saja merasa tidak enak kalau melarang. Mereka pun menyadari bahwa di bawah bimbingan Ban Tok yang yang ganas dan kejam, Liu Hong menjadi seorang gadis yang amat keras hati.
Hanya Ban Tok yang masih penasaran itu berani bicara, akan tetapi ia bertanya kepada Liu Ceng dan Hua Li, untuk memuaskan hatinya.
"Pendekar Hua dan Liu Ceng, aku percaya kepada kalian berdua. Maka sekarang katakanlah sejujurnya, benarkah, apa yang dikatakan Liu Hong bahwa Tuan putri Yu itu seorang gadis yang baik?"
Liu Ceng dan Hua Li saling berpandangan, lalu mereka menoleh dan memandang Liu Hong.
__ADS_1
"Kakak Ceng dan adik Hua! katakanlah yang sebenarnya. Kalau memang kalian melihat Tuan putri Yu sebagai seorang gadis yang brengsek dan jahat, jangan tutup-tutupi, katakan yang sebenarnya!" seru Liu Hong yang menantang.
Liu Hong ini memang sudah nekat karena andaikata orang tuanya dan seluruh manusia di dunia ini tidak setuju, tetap saja ia akan menikah dengan Tuan putri Yu. Karena sesungguhnya, ia sekarang pun telah menjadi suami tuan putri dari kerajaan Mongol itu.
Liu Ceng menjelaskan bahwa dia memang melihat bahwa Yauw Li atau Tuan putri Yu itu seorang gadis yang baik dan pantas menjadi istri Liu Hong. Memang ada sedikit hal yang mengecewakan hatinya, yaitu tuan putri itu mudah mengobral dan menyatakan cinta.
Dulu baru saja dia menyatakan cinta kepadanya dan ditolaknya, di lain saat dia telah mengalihkan dan menyatakan cintanya kepada Liu Hong. Mungkin sudah demikianlah watak seorang gadis bangsawan tinggi, itu pendapatnya.
"Ayah, Ibu dan guru, saya telah melakukan perjalanan bersama Adik Hong dan tuan putri Yu, jadi saya berani menyatakan bahwa tuan putri Yu itu adalah seorang yang baik budi, juga gagah perkasa dan sama sekali tidak membenci kita yang merupakan bangsa Han." jelas Liu Ceng.
... ~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1