Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 174


__ADS_3

Sejenak dia mengamati pemuda yang bertubuh tinggi besar dan berwajah gagah itu, lalu karena penyesalannya bahwa puterinya menanam permusuhan dengan perkumpulan pengemis sabuk merah hanya karena gara-gara pemuda ini.


"Anak muda apakah kamu tidak malu? Kau ini masih muda belia, bertubuh sehat dan kuat, akan tetapi ada orang-orang menghinamu, kau diam saja tidak membela diri sendiri. Bahkan mengandalkan seorang wanita untuk membelamu! Tidak malukah kau menjadi seorang pengecut!" seru ayah Yi Hui.


 "Ayah !" seru Yi Hui yang tidak sedikit kesal dengan ucapan ayahnya.


"Diam kau!" bentak ayahnya yang masih berhadapan dengan Han Beng. Yi Hui pun terdiam tak berani bersuara lagi.


"Orang muda, gara-gara kau, anakku menanam bibit permusuhan dengan perkumpulan pengemis sabuk merah! Ini berarti kami menghadapi kesulitan besar! Karena kau yang menjadi gara-gara, maka kau perlu dihajar agar semua orang tahu bahwa aku, Yi Tiong, sebetulnya tidak mau mencampuri urusan antara pengemis. Biarlah kau berhadapan sendiri dengan perkumpulan pengemis sabuk merah!" seru Yi Tiong.


"Nah, bersiaplah, orang muda, aku akan menghajarmu seperti tadi anakku menghajar orang-orang perkumpulan pengemis sabuk Merah!" lanjut seru Yi Tiong yang dengan semangat ingin menghajar Han Beng.


Han Beng terbelalak dan kebingungan, tentu saja dia tidak ingin berkelahi dengan orang lain, apalagi orang ini adalah ayah kandung dari nona cantik yang telah menolongnya tadi.


Akan tetapi dia pun mengerti apa yang dimaksudkan orang tua ini. Dia hendak menghajarnya di depan umum sehingga kalau perkumpulan pengemis sabuk merah bisa mendengar akan hal ini, mereka akan menganggap bahwa keluarga Yi sebetulnya tidak membela Han Beng, melainkan terjadi kesalahpahaman saja antara Nona Hui dan dua orang anggota perkumpulan pengemis sabuk merah.


 "Tuan, harap maafkan saya. Sesungguhnya saya datang ke toko ini tidak ada maksud lain kecuali minta bantuan agar diberi obat untuk guruku yang sedang sakit. Saya sama sekali tidak mencari keributan atau perkelahian. Kalau memang Tuan tidak rela memberi obat ini untuk guruku, biarlah saya kembalikan saja." kata Han Beng yang menjelaskan seraya menjura pada Yi Tiong.


"Hemmm, puteriku telah memberi obat itu, tidak akan kami tarik kembali akan tetapi untuk membuktikan bahwa kami tidak berpihak dalam urusanmu dengan perkumpulan pengemis sabuk merah, tapi aku harus menghajarmu!" seru Yi Tiong dan maklum saja di tempat ramai itu tentu terdapat banyak mata-mata perkumpulan pengemis sabuk merah yang dapat mendengarkan semua ucapan mereka, dan dapat menyaksikan pula dia menghajar pemuda itu agar melaporkan hal itu kepada pimpinan mereka.


Yu Tiong sudah melangkah maju, siap untuk menghajar Han Beng.


"Saudaraku, tahan dulu.....!"


Tiba tiba orang yang tadi datang bersama Yi Tiong, melompat maju dan memeggangi lengan tabib itu. Orang berusia empat puluh tahun lebih ini bernama Hui Siong dan dia adalah seorang di antara murid-murid Elang Sakti yang berhasil melarikan diri ketika perguruan Elang Sakti itu dibakar oleh pasukan pemerintah.


Dalam pelariannya, dengan aman dia bersembunyi dan mondok di rumah tabib itu yang juga merupakan murid perguruan Elang Sakti akan tetapi merupakan 'murid luar" yang tidak tinggal di perguruan.


Di sini dia hidup aman karena tentu saja para perwira pasukan pemerintah tidak menyangka bahwa orang perguruan Elang Sakti ada yang berani tinggal di kota raja.

__ADS_1


Melihat saudara seperguruannya menahan dia yang hendak menghajar pengemis muda itu, Yi Tiong merasa heran dan memandang saudaranya itu dengan alis berkerut, Cui Siong mendekatkan mulutnya ke telinga saudara seperguruannya.


"Dia adalah Naga Sakti seperti yang pernah kuceritakan padamu, saudaraku." bisiknya.


Tentu saja Yi Tiong terkejut bukan main dan hanya berdiri seperti patung mengamati Han Beng yang tidak mengenal apa yang dibicarakan kedua orang itu. Dia rasanya pernah melihat orang yang datang bersama ayah kandung nona cantik itu.


Seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih yang bertubuh kurus, wajahnya tampan, rambut penuh uban dan matanya lebar sekali itu.


Cui Siong kini memberi hormat kepada Han Beng.


"Pendekar, apakah pendekar lupa kepadaku?" tanya Cu Siong seraya menjura dan kemudian menatap ke arah Han Beng.


Pemuda itu sangat terkejut saat dirinya disebut sebagai pendekar. Dia mengerutkan kedua alisnya.


"Maaf, saya tidak mengenal anda. Dan perkenankan saya mengantarkan obat ini kepada guru saya." kata Han Beng dengan ramah.


"Bukankah Pendekar yang bernama Han Beng?" tanya Cui Siong melanjutkan cepat-cepat dan lirih agar tidak terdengar orang lain. Han Beng kembali terkejut.


"Ohhh...!"


Han Beng teringat akan kenangan telah lampau. Kiranya orang ini adalah satu di antara


lima orang murid perguruan Elang Sakti yang mengamuk dan membela penduduk dusun itu


"Kiranya Tuan adalah...!" kata Han Beng yang mencoba mengingat orang dihadapannya itu.


"Namaku Cui Siong, pendekar. Dan kalau boleh saya bertanya, siapakah yang sedang sakit?" tanya Cui Siong yang penasaran.


 "Guruku, dia Kwe Ong!" jawab Han Beng.

__ADS_1


"Ahhh! Jadi beliau itu menjadi guru pendekar? saudaraku, kau telah mendengarnya kan? Kita harus berkunjung dan memberi hormat kepada guru pendekar ini, dan mengundang mereka ke sini untuk beristirahat dan berobat sambil bercakap-cakap!" pinta Cui Siong pada Yi Tiong.


Kini Yi Tiong baru yakin dan ia pun cepat memberi hormat kepada Han Beng.


"Maafkan kami, pendekar! sudah lama saya mendengar nama besar pendekar dan guru pendekar, Kwe Ong. Marilah kami antar pendekar untuk menemui guru pendekar." kata Yi Tiong yang mengajak pemuda dihadapannya.


Han Beng menganggukkan kepalanya, merasa tidak enak berada lebih lama di tempat itu. Dia lalu menghadap Yi Hui seraya menjura.


"Saya ucapkan terima kasih, Nona." kata Han Beng dan Yi Hui menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya.


Dan pergilah dia bersama dua orang itu menuju ke pintu gerbang kota raja sebelah barat.


Yi Hui hanya dapat memandang kepada pemuda itu seperti seorang yang melihat munculnya dewa di siang hari. Tentu saja ia pun seperti ayahnya pernah mendengar cerita dari Cui Siong tentang munculnya seorang pendekar muda yang dijuluki Naga Sakti yang bernama Han Beng yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian setinggi gunung, juga ia pernah mendengar akan nama Kwe Ong yang namanya menjulang setinggi langit.


Dan dia telah memberi sedekah obat kepada Han Beng, yang itu berarti untuk mengobati gurunya yang ternyata adalah Kwe Ong.


Seperti seorang anak kecil, ia pun berlompatan masuk kedalam tokonya, wajahnya riang gembira namun kadang-kadang jantungnya berdebar dan mukanya berubah merah ketika teringat kepada wajah Han Beng.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...   ...


__ADS_2