Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 78


__ADS_3

"Ah, pantas kalian memiliki jurus silat yang hebat! Kiranya datang dari Lembah Seribu Bunga yang terkenal!" seru nona itu yang kagum.


"Bolehkah kami tahu siapa nama dan dari nama asal nona?" tanya Sin Lan yang penasaran.


"Nama saya Ling Ling dari perguruan bunga Persik." jawab gadis itu seraya menatap kedua pemuda dihadapannya.


 


"Apakah Nona juga hendak memperebutkan harta karun itu?" tanya Sin Lin yang penasaran.


"Semua yang datang ke sini sudah pasti mempunyai keinginan untuk memperebutkan harta karun itu, tapi tidak dengan perguruan bunga Persik!" jawab Ling Ling.


"Maksud kamu apa saudari Ling?" tanya Sin Lin yang penasaran.


"Sesungguhnya kami, aku menyebut kami karena sebelumnya aku bersama dua orang saudara seperguruan ku, dan kami terpisah. Dimana kami mendapat tugas dari ketua kami untuk meninjau keadaan di sini dan membantu pihak yang benar dalam perebutan itu." jawab Ling Ling.


"Hemm, siapakah pihak yang benar itu?" tanya Sin Lin sambil menatap wajah Ling Ling.


"Ketua kami mengatakan bahwa harta pusaka itu milik Kerajaan Han maka harus dijaga agar jangan terjatuh ke tangan Kerajaan Mongol," jawab Ling Ling.


"Itu baik sekali," kata Sin Lan sambil menganggukkan kepalanya.


"Nona, kalau begitu kita satu tujuan." ucap Sin Lin yang mengulas senyumnya dan kemudian dia bersama kakaknya menceritakan apa yang telah terjadi dan apa tujuan mereka sampai bertemu dengan Ling Ling.


"Wah, bagus sekali kalau begitu!" seru Ling Ling dengan mengulas senyumnya.


"Memang kita golongan bersih perlu bersatu karena kita pasti akan berhadapan dengan golongan sesat yang amat kuat. Tadi saja, baru muncul seorang nenek mayat betina itu sudah demikian tinggi jurus yang dia miliki." kata Sin Lan.


"Memang kami juga berpikir demikian," kata Ling Ling.


"Masih banyak pihak yang sependapat dengan kita, yaitu membantu agar harta itu tidak terjatuh ke tangan orang-orang sesat dan penjajah Mongol, sehingga harta karun itu akan dapat diserahkan kepada yang berhak, yaitu Liu Ceng yang menerima warisan dari ayahnya, mendiang panglima Liu Bok. Kita membantu Liu Ceng karena ia bermaksud menyerahkan harta karun itu kepada para pejuang yang akan menentang penjajah." kata Sin Lin.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya kita pergi ke perguruan ular kobra untuk bertemu kembali dengan Saudari Hua kemudian kita bersama mengadakan hubungan dengan mereka yang sehaluan," kata Sin Lan.


"Iya, aku setuju!" seru Ling Ling.


Setelah melewatkan malam di dusun itu, pada keesokan harinya mereka meninggalkan dusun dan pergi ke perguruan ular kobra. Dan hubungan antara mereka bertiga menjadi semakin akrab seperti saudara seperjuangan.


Berita yang tersebar cepat di dunia persilatan tentang harta karun Kerajaan Han itu membuat geger. Karena berita itu hanya mengatakan bahwa harta karun yang amat besar jumlahnya itu dicuri orang yang tinggal di Gunung tengkorak, yang mana terdapat beberapa perguruan dan perkumpulan yang mendiami pegunungan tengkorak itu.


 Rombongan pertama yang tiba di gunung Tengkorak itu adalah Panglima Besar Lim Bao dengan pasukannya. Karena dia sudah memisahkan diri dari guru-gurunya, yaitu Beng Ong dan si nenek mayat Betina yang dianggap hendak menguasai sendiri harta karun yang diperebutkan. Maka Lim Bai membawa pasukan besar berjumlah dua ratus orang lebih ke pegunungan tengkorak.


Sebelum rombongan dan orang-orang lain datang, dia sudah menyebar orang-orangnya yang menyamar untuk melakukan penyelidikan, mencari siapa yang patut dicurigai mencuri harta karun Kerajaan Han yang tadinya berada di Bukit Surga tempat tinggal Beng Ong.


Namun, setelah berminggu-minggu dia menyebar para perajuritnya dan tidak juga mendapatkan keterangan yang jelas, Lim Bao mulai mencari akal. Dia memang seorang panglima ahli perang dan juga amat cerdik, maka dia lalu mengatur muslihat bersama para perwira pembantunya.


Dia ingin mengetahui siapa saja yang datang ke gunung tengkorak untuk memperebutkan harta karun karena dari para anak buahnya dia mendengar bahwa ada beberapa rombongan orang dan perorangan dari persilatan datang ke pegunungan itu.


Mereka mengadu domba satu sama yang lainnya selain untuk melemahkan orang-orang dari dunia persilatan juga untuk memancing keluar pencuri harta karun.


Berita itu cepat tersiar dan didengar oleh para pendatang. Mendengar bahwa harta karun yang dicari-cari itu ada di perguruan ular kobra yang berada di pegunungan tengkorak , tentu saja mereka semua berbondong-bondong datang ke pegunungan itu.


Namun sebelum ada yang tiba di perguruan ular kobra, lebih dulu Sin Lan dan Sin Lin bersama Ling Ling tiba di situ. Mereka disambut Thio Kong, ketua perguruan Ular Kobra menyambut mereka dengan gembira.


"Ketua, apakah Saudari Hua belum kembali ke sini?" tanya Sin Lin setelah mereka semua duduk di ruangan dalam.


"Belum," jawab Ketua Thio Kong yang menatap Sin Lin.


"Sebetulnya saya juga mengharapkan kedatangannya karena ada berita yang gawat dan mengancam perguruan ini." lanjut kata Ketua Thio Kong.


"Berita apakah itu, ketua?" tanya Sin Lan sambil menatap wajah kakek itu.


"Entah siapa yang menyebar berita, akan tetapi agaknya di mana-mana terdapat berita bahwa harta karun Kerajaan Han itu berada di sini seolah kami yang mencurinya." jawab Ketua Thio Kong yang sebelumnya menghela napasnya.

__ADS_1


"Keparat....! Ini pasti fitnah yang disebarkan anggota perguruan Tengkorak Hitam yang kita curigai, untuk mengalihkan perhatian!" seru Sin Lin yang geram.


"Atau menurut yang lainnya, dimana mereka mencurigai kalau uang telah mengambil harta karun itu adalah perguruan ular kobra," kata Sin Lan.


"Jangan khawatir, Ketua. Kalau ada yang datang menuduh perguruan ini, kita akan bantu untuk menghajar mereka!" kata Sin Lin dengan geram.


"Benar ketua, saya juga siap untuk membantu perguruan ular kobra ini!" seru Ling Ling dengan semangat.


Ketua Thio Kong menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih atas janji bantuan kalian berempat. Akan lebih besar hati kami kalau Pendekar kecapi juga datang untuk membantu."kata ketua Thio Kong yang sangat berharap sekali Hua Li datang ke perguruannya.


Beberapa saat kemudian ketua Thio Kong memanggil semua murid perguruan Ular kobra yang berjumlah seratus orang lebih, intuk menyuruh mereka semua waspada dan menghentikan penyelidikan.


Mereka berkumpul ke perkampungan mereka dan melakukan penjagaan ketat siang dan malam.


Pada keesokan harinya para murid perguruan ular kobra melaporkan kepada ketua mereka bahwa di luar perkampungan mulai berdatangan orang-orang dari dunia persilatan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...


   

__ADS_1


   


__ADS_2