Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 233


__ADS_3

Hok Cu sendiri tertarik dan merasa kaget kepada mereka, maka ia mau diajak kesitu untuk bertemu dan berkenalan dengan orang yang menjadi pemimpin rakyat yaitu yang memimpin gerakan membela rakyat tertindas itu.


Di dekat bangunan besar terdapat pula banyak pondok yang didirikan oleh para anggota pemberontak, bahkan terdapat pula banyak wanita dan anak-anak, yaitu keluarga dari mereka yang terpaksa melarikan diri, yang dikejar-kejar petugas untuk menjadi pekerja paksa.


Melihat ini, Hok Cu merasa makin suka kepada mereka. Ia teringat akan keadaan dirinya sendiri. Orang tuanya juga terpaksa melarikan diri dusun mereka. Mendiang ayahnya, Hok Gi, adalah seorang pejabat lurah Kiong-cung, di tepi Sungai Kuning.


Karena ayahnya itu dipaksa oleh pembesar atasan untuk mengumpulkan semua pemuda dusun itu agar menjadi pekerja paksa, ayahnya merasa tidak sanggup dan diam-diam melarikan diri karena dia tahu akan kegagalan atau ketidaksanggupan itu tentu akan berakibat hukuman berat baginya.


Dari pelarian ini, ayahnya dan ibunya tewas oleh pendekar kecapi. Sampai sekarang, ia belum berhasil menemukan pendekar kecapi itu yang membunuh orang tuanya.


Karena persamaan nasib itulah maka diam-diam Hok Cu merasa suka kepada para pemberontak ini.


Mereka memasuki rumah dan setelah tiga orang pimpinan para penyerang kereta Liu Tai tadi melaporkan ke dalam, Hok Cu dan Hong Lan dipersilakan masuk ke dalam ruangan belakang, sebuah ruangan yang luas dan di situ ketulan sedang diadakan pertemuan tara para pimpinan pejuang.


Di atas meja panjang sederhana terdapat hidangan sederhana dan arak, dan ada sembilan orang duduk mengepung meja panjang, saling berhadapan dan suasananya cukup gembira dan bersemangat.


Ketika dua orang muda itu memasuki ruangan, sembilan orang yang sudah menerima laporan itu segera bangkit berdiri dengan sikap hormat. .


"Selamat datang, dua orang Saudara Muda yang lihai. Kami senang sekali mendengar bahwa kalian telah membantu anak buah kami. Silakan kalian mengambil tempat duduk!" seru salah satu dari mereka.


"Terima kasih...!"


Balas Hok Cu dan Hong Lan yang bersamaan seraya menganggukkan kepala, lalu mereka mengambil tempat duduk yang masih kosong, menghadap pada kakek yang bicara tadi.


Setelah mereka duduk, sembilan orang itu pun duduk dan kakek tinggi kurus yang wajahnya menyeramkan itu segera menuangkan arak kedalam dua cawan bersih dan memberikannya kepada dua orang tamu muda itu.


"Saudara sekalian, mari kita memgucapkan selamat datang kepada orang pendekar muda ini! Ji-wi, silakan minum dan menerima ucapan selamat datang dari kami!" seru kakek itu seraya berdiri dan mengangkat cawan arak, diturut oleh delapan orang lain dan terpaksa Hok Cu dan Hong Lan juga mengangkat cawan arak mereka dan meminumnya.

__ADS_1


Kemudian Hok Cu dan Hong Lan juga memperkenalkan diri mereka.


"Perkenalkan saya Hok Cu." kata Hok Cu.


"Dan saya Hong Lan." kata Hong Lan.


"Kedatangan kalian sungguh menambah kegembiraan kami. Kami mendengar bahwa kalian memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali dan rupanya kalian juga membenci para pembesar yang menindas rakyat jelata itu. Kami akan menerima dengan penuh kegembiraan kalau kalian suka bekerja sama dengan kami." kata Kakek itu panjang lebar.  


"Hem, untuk bekerja sama, aku harus lebih dahulu mengetahui benar apa maksud tujuan kalian, dan bagaimana pula kekuatan kalian yang berani menentang para pembesar, berarti akan berhadapan dengan pasukan pemerintah." kata Hok Cu seraya mengerutkan kedua alisnya.


Mendengar itu Hong Lan kagum dan mengangguk-angguk. Gadis yang diam-diam dipujanya itu ternyata juga amat cerdik.


Gan Lok tertawa lebar sehingga wajahnya yang menyeramkan itu sejenak nampak lucu.


"Ha ..ha....ha...! Nona tidak perlu khawatir. Biarpun kami hanya kelihatan sebagai pelarian di hutan begini, namun sesungguhnya kedudukan kami kuat sekali. Di mana-mana kami mempunyai teman dan kalau dikumpulkan seluruhnya, anak buah kami mendekati lima ratus orang! Kami sudah berhasil merampas atau mencuri barang-barang berharga dari para pembesar korup, kami kumpulkan dan jumlahnya cukup besar untuk membiayai ribuan orang pasukan yang akan kami bentuk." kata Gan Lok


"Kalian memperkuat diri dan hendak membentuk pasukan, apa maksudnya? Apakah hendak memberontak terhadap pemerintah, mengadakan perang melawan pemerintah?" tanya Hok Cu yang penasaran.


Menghadapi pertanyaan yang langsung dan berterang itu, Gan Lok nampak tertegun.


"Ha...ha...ha...! Nona yang baik! Kalau bukan kami para pendekar yang turun tangan membela rakyat, siapa lagi yang akan peduli? Kalau pemerintah sudah mulai menindas rakyat jelata, jalan apalagi yang dapat kami tempuh selain memberontak? Kalau perlu, pemerintah ini digulingkan, diganti pemerintah baru yang tentu akan membahagiakan rakyat." jelas Gan Lok.


"Hmm, dan kalian yang akan jadi penguasa baru?" tanya Hok Cu mendesak dengan alis berkerut.


"Kalau perlu! Ya, kalau perlu, kami para pendekar yang akan memimpin


pemerintahan yang bersih dan mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata!" seru Gan Lok yang akhirnya dapat bicara dengan suara lantang.

__ADS_1


Hok Cu kini diam saja akan tetapi di alam hatinya timbul keraguan. Ia memang condong untuk menentang para penguasa setempat yang lalim, yang menyalahgunakan kekuasaan, memaksa rakyat untuk menjadi pekerja paksa membangun waduk dan terusan. Akan tetapi hal itu bukan berarti harus memberontak dan mengobarkan perang terhadap pemerintah.


Perang berarti kesengsaraan baru bagi rakyat yang mungkin jauh lebih parah daripada kerja paksa itu sendiri. Ia ragu dan sangsi.


"Aku dapat menghargai usaha kailan ntuk membebaskan rakyat dari penindasan. Akan tetapi, untuk dapat melawan pasukan pemerintah, selain harus memiliki modal emas yang banyak untuk persiapan melatih pasukan, dan memiliki jumlah pasukan yang kuat, juga harus pula memiliki pimpinan yang cakap, Tidak tahu, syarat apa yang menentukan orang diangkat menjadi pimpinan dari gerakan yang mulia ini?" kata Hong Lan dengan sinar mata tajam menyelidik, Hong Lan memandang bergantian kepada Gan Lok dan temannya itu.


"Ha...ha....ha..., pertanyaanmu sungguh lucu, orang muda yang gagah perkasa. Syarat apa yang menentukan orang diangkat menjadi pimpinan dalam perjuangan membela rakyat ini? Tentu saja dia harus cerdik, bijaksana, gagah perkasa memiliki pengalaman yang matang dan luas!" seru teman Gan Lok.


"Hanya itu saja, Paman Gan Lok? engkau melupakan syarat yang terutama dan mutlak penting!" seru Hok Cu.


Ketua persekutuan pemberontak Itu mengerutkan alisnya. Pemuda itu boleh jadi lihai ilmu silatnya, akan tetapi sikapnya tidak menyenangkan karena tidak mau menghormati tuan rumah.


"Hemmm, orang muda, apa maksudmu dengan syarat yang utama itu?" tanya Gan Lok yang penasaran.


"Untuk memimpin rakyat dalam masa damai, memang dibutuhkan pemimpin yang sudah berusia lanjut karena orang tua lebih teliti, sabar dan tekun." jawab Hong Lan yang menarik napasnya panjang.


"Akan tetapi, memimpin rakyat dalam masa perang, dibutuhkan seorang pemimpin yang masih muda, penuh semangat yang menggebu, barulah diharapkan perjuangan akan berhasil baik!" sambung Hong Lan.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2