Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 64


__ADS_3

 Laki-laki berpakaian hitam dan berambut putih itu sangat terkejut ketika merasa jurusnya membalik, begitu pula dengan Yauw Lie yang merasa betapa kuatnya pukulan laki-laki yang berambut putih itu.


Kemudian ketua Kui melangkah maju.


"Kita selesaikan urusan antara kita. Kami menyambut tantanganmu untuk mengadakan adu jurus di sini. Dengan cara apa kalian hendak mengadu kepandaian? Satu lawan satu? Aku yang akan maju! Kalian maju berdua? Aku akan maju bersama murid baruku ini! Ataukah kalian mau secara keroyokan mengerahkan orang-orangmu? Kami juga tidak akan mundur dan sudah siap!" seru ketua Kui lantang.


Laki-laki yang memakai kalung tengkorak hitam memandang kepada Yauw Lie dengan penasaran. melihat murid Ketua Kui itu seorang gadis cantik dan tidak patut mengenakan pakaian pengemis.


"Hei, benarkah gadis ini anggota perkumpulan pengemis? siapa namamu nona?" tanya laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu.


"Aku anggota Kai-pang baru dan namaku Yauw Lie" jawab gadis itu dengan singkat. Keduanya adalah laki-laki yang mata keranjang, dadi mereka sangat tertarik dengan Yauw Lie.


"Perguruan kami bukan pengecut yang suka mengandalkan keroyokan. Kami menantangmu untuk bertanding satu lawan satu, atau dua lawan dua. Kami berdua yang akan maju. Nah, dari pihakmu siapa yang akan menandingi kami?" tanya laki-laki yang berambut putih.


"Aku sendiri dan anggota baruku Yauw Lie ini yang akan menandingi kalian berdua!" jawab ketua Kui dengan berseru.


"Ha...ha....! bagus sekali!" seru laki-laki yang berambut putih itu dengan sinis.


"Ketua Kui! apa yang akan kamu pertaruhkan dalam adu jurus ini?" tanya laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak itu dengan penasaran.


"Apa! pihakmu yang pertama menghina kami, kemudian kalian pula yang menantang adu jurus! Kalau kalian kalah, kalian harus menarik kembali tuduhan kalian bahwa kami mencuri harta karun dan minta maaf kepada kami!" seru ketua Kui dengan mengerutkan alisnya dan memandang marah.


"Ha ..ha...! baik, kami terima taruhanmu itu. Tapi sebaliknya kalau kalian kalah dan kami yang menang, kau harus menyerahkan nona manis itu kepada kami, untuk kami jadikan pelayan kami!" seru Laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu, sambil memandang kepada Yauw Lie dengan mata penuh gairah.


Yauw Lie merasa dadanya seperti dibakar dan hendak meledak mendengar ucapan laki-laki itu. Tak mungkin ia mendiamkan saja hinaan itu.

__ADS_1


"Dasar busuk!" teriak Yauw Lie yang kemudian melompat dengan cepat, menyerang laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu bagaikan seekor singa yang menerkam lawannya.


Begitu menyerang, ia telah mempergunakan tenaga dalamnya yang ampuh. Telapak tangannya berubah menghitam dan begitu angin pukulannya menyambar laki-laki yang memakai kalung tengkorak hitam itu dengan sambaran angin pukulan yang dahsyat itu. Dia terkejut dan cepat dia miringkan tubuh dan menangkis dengan ilmu andalannya.


 "Wuuutt...... derrr......!"


Tubuh laki-laki yang memakai kalung berliontin tengkorak hitam itu terdorong ke belakang dan Yauw Lie juga merasa betapa lengannya tergetar. Namun ia tidak gentar dan menyerang terus. laki-laki itu denfan cepat mencabut pedangnya dan balas menyerang.


"Mampuslah!" bentak Yauw Lie dan tampak sinar hitam menyambar. ketika ia mengarahkan tongkat merah ke arah laki-laki itu, lalu pedangnya berkelebat menjadi sinar hitam yang bergulung-gulung dan mengeluarkan bunyi mencicit mengerikan.


Laki-laki pun melawan mati-matian sehingga terjadilah perkelahian rtg yang amat seru. Melihat betapa lihainya Yauw Lie, laki-laki berambut putiht mengkhawatirkan adiknya. Mereka berdua memang memiliki keistimewaan, yaitu ketangguhan mereka menjadi berlipat ganda kalau mereka maju bersama. Mereka telah membentuk ilmu pedang dan golok yang disatukan saling bantu dalam penyerangan dan saling melindungi dalam pertahanan.


Maka laki-laki berambut putih itu melompat dan maju mengeroyok Yauw Lie.


"Hemm, kalian berdua manusia curang!" seru ketua Kui yang menghampiri Yauw Lie.


Ketua Kui dan Yauw Lie tidak berani turun tangan dan terpaksa dia hanya menjadi penonton. Ketua Kui sangat terkejut dan kagum bukan main. Dia sudah tahu akan kelihaian Yauw Lie, akan tetapi melihat sepak terjang dua orang pemuda tampan itu, dia benar-benar kagum.


Sama sekali tidak pernah diduganya bahwa dua orang pemuda itu memiliki jurus silat yang demikian hebatnya sehingga mereka bedua mampu menandingi kedua laki-laki yang memakai pakaian serba hitam itu.


Sementara itu, Yauw Lie juga tidak dapat berbuat sesuatu. Dia tidak berani menghentikan atau mencegah dua orang pemuda itu, terutama Liu Hong, untuk berhenti mengamuk.


Karena dalam pikiran Liu Hong memang dua orang laki-laki itu pantas untuk diberi hajaran keras.


Anak buah kedua pihak juga tercengang melihat perubahan keadaan ini. Mereka tidak jadi melihat kedua pimpinan mereka melakukan adu jurus, melainkan dua orang pemuda yang amat lihai bertanding mati-matian melawan kedua laki-laki yang memakai pakaian hitam itu.

__ADS_1


"Apakah mereka tak apa-apa?" tanya ketua Kui yang menatap Yauw Lie dengan khawatir.


"Biarkan saja, Ketua. Tidak mungkin menghentikan kakak Hong, dan aku kira mereka tidak akan kalah. Aku sudah siap melindungi mereka kalau terancam bahaya." ucap Yauw Lie yang membalas menatap ketua Kui.


Legalah hati ketua Kui mendengar ini. Tentu saja hatinya merasa khawatir dan tidak enak sekali kalau sampai dua orang pemuda itu menderita luka atau tewas karena membela perkumpulannya.


Perkelahian itu memang seru dan hebat sekali. Mula-mula mereka memang bertanding secara terpisah. Laki-laki yang memakai kalung berliontin kalung tengkorak itu melawan Liu Hong, dan laki-laki yang berambut putih melawan Liu Ceng.


Akan tetapi dalam pertandingan satu lawan satu ini, laki-laki yang memakai kalung yang berliontin tengkorak hitam kalah ganas dibandingkan Liu Hong, sedangkan laki-laki yang berambut putih kalah cepat dari lawannya, Liu Ceng.


Melihat pihaknya terdesak, laki-laki yang berambut putih itu memberi isyarat dan mereka berdua kini bekerja sama untuk menggabungkan jurus silat pedang dan golok mereka.


 Begitu mereka bergabung, Liu Ceng dan Liu Hong terkejut dan agak kewalahan. Lawan yang bergabung itu menjadi kuat bukan main, juga mereka menggunakan penggabungan tenaga dalam, menambah serangan senjata mereka dengan dorongan pukulan tangan kiri mereka.


Namun Liu Hong menyambut dengan dorongan tangan kiri dengan jurus andalannya, sedangkan Liu Ceng mengandalkan kelebihannya dalam jurus meringankan tubuh sehingga tubuhnya berubah menjadi bayangan putih yang berkelebatan dan sulit untuk dapat dijadikan sasaran.


Melihat hal itu, Yauw Lie mengerutkan alisnya. Berbahaya juga bagi dua orang pemuda itu kalau keadaannya terus begitu. .


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2