Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 49


__ADS_3

Demikian cepatnya tubuh itu berputar sehingga yang tampak hanya bayangannya saja, putarannya makin lama semakin cepat.


 "Jurus Angin Beliung...!" seru Ban tok yang heran dan memandang kagum.


Ban Tok pernah mendengar akan jurus yang dilakukan dengan tubuh berputar seperti itu, yang menjadi andalan para ahli silat dari daerah barat, terutama dari Tibet.


Liu Hong sendiri terkejut sekali karena pandang matanya tidak dapat mengikuti gerakan tubuh lawan yang berputar itu sehingga ia tidak dapat mengarahkan serangannya.


Karena ketika pandang matanya mengikuti bayangan yang berputar itu, kepalanya menjadi pening.


 "Haiiitt......!"


Dengan nekat Liu Hong kini menggunakan pukulannya yang terampuhnya yang dimana pukulannya mengandung tenaga sakti yang kuat sekali.


  


Yauw Lie menyambut pukulan tangan kanan Liu Hong yang terbuka dan didorongkan itu dengan tangan kirinya.


"Plakk......!"


Liu Hong terkejut karena merasa betapa telapak tangannya bertemu dengan telapak tangan yang lembut dan dingin, lunak seperti karet. Ia hampir menjerit karena tangannya itu tidak dapat ditarik kembali, seolah melekat pada telapak tangan pemuda itu.


Akan tetapi sebagai seorang ahli silat yang tangguh, ia dapat menenangkan hatinya dan kini tangan kirinya menotok ke arah dada Yauw Lie.


Kalau totokannya itu mengenai sasaran, tubuh Yauw Lie tentu akan menjadi lemas sehingga ia mampu merenggut lepas tangan kanannya yang melekat pada tangan kiri lawan.


Akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangan kirinya dapat ditangkap oleh tangan kanan Yauw Liu.


Gadis itu berusaha untuk memutar lengannya dan berbalik menyerang, akan tetapi tiba-tiba, entah dengan gerakan bagaimana, tanpa dapat dia hindarkan lagi, kedua lengannya itu telah terputar ke belakang tubuhnya dan ia telah ditelikung ke belakang tubuhnya.


Betapa pun kuat usahanya untuk melepaskan diri, ia sama sekali gagal. Akan tetapi tiba-tiba Yauw Lie melepaskan kedua lengannya dan tubuhnya berkelebat ke depan Liu Hong sehingga mereka saling berhadapan lagi.


"Kakak Hong, maafkan aku dan terima kasih bahwa engkau telah banyak mengalah," kata Yauw Lie dengan suara tulus, bukan mengejek.


Raut wajah Liu Hong berubah kemerahan dan ia tetap gembira, hal yang bagi Liu Ceng mengherankan karena ia mengenal saudaranya itu sebagai seorang pemuda yang keras hati yang sukar menerima kekalahannya.

__ADS_1


Maka Liu Ceng pun menduga bahwa Liu Hong tentu tertarik dan jatuh hati kepada gadis yang bernama Yauw Lie ini.


 "Ah, adik Yauw! kamu yang banyak mengalah. Jurus-jurus kamu sangat lihai sekali dan aku merasa kalah," kata Liu Hong dan ia pun lari mendekati keluarganya dan duduk di atas bangku.


"Kau lihai sekali, Yauw Lie. Kami merasa kagum!" seru Liu Tek.


"Ah, Paman dan Bibi terlalu memuji. Saya harus menerima banyak petunjuk dari Paman sekalian," kata Yauw Lie yang merendah.


"Liu Ceng, sekarang giliranmu untuk menguji ilmu pedang Yauw Lie!" seru Liu Tek yang bersemangat.


"Baik, saya siap!" jawab Liu Ceng yang mengangguk dan melangkah ke tengah ruangan sambil memegang sebatang ranting yang sudah ia siapkan.


"Adik Yauw, marilah kita berlatih pedang sebentar. Kami semua ingin menyaksikan kehebatann jurus pedangmu. Jadi cabutlah pedangmu!" seru Liu Ceng.


 Yauw Lie memandang Like Ceng dan ketika melihat pemuda itu hanya memegang sebatang ranting yang besarnya seperti lengan tangannya.


"Kakak Ceng, kemana pedangmu? Kenapa kau hanya membawa sebatang ranting kayu?" tanya Yauw Lie yang penasaran.


"Adik Yauw, aku tidak pernah menggunakan pedang. Aku ngeri melihat pedang yang tajam dan runcing, maka aku akan menggunakan ranting ini sebagai pengganti pedang." jawab Liu Ceng seraya menunjukkan ranting yang dipegangnya.


Gadis itu mengerutkan alisnya. Dia bukan seorang bodoh. Kalau pemuda ini berani menghadapi pedangnya dengan senjata ranting kayu maka sudah dapat diduga bahwa pemuda yang ada dihadapannya saat ini pasti memiliki ilmu yang amat tinggi.


"Eh! Apakah engkau mencurigai rantingku ini, adik Yauw? Kalau kau ingin memeriksanya, boleh saja!" balas Liu Ceng yang kemudian menjulurkan tangan menyerahkan ranting itu kepada Yauw Lie.


Dengan tangan kirinya Yauw Lie menerima ranting itu dan tiba-tiba pedangnya berkelebat cepat.


"Crakk.....!"


Ranting itu telah disambar pedang dan terbelah menjadi dua dengan membujur.


Kini ranting itu telah menjadi dua batang yang sama panjangnya dan agak tipis. Yauw Lie lalu menyimpan pedangnya dan sambil memegang sebatang belahan ranting dengan tangan kanan seperti orang memegang pedang, dia menyerahkan belahan yang lain kepada Liu Ceng.


 "Maaf, kakak Ceng. Sebaiknya kita berlatih secara adil, masing-masing menggunakan sebatang ranting." ucap Yauw Lie seraya mengulas senyumnya.


Tadinya Liu Ceng dan yang lain-lain terkejut melihat pemuda itu menggunakan pedang membacok ranting, akan tetapi setelah melihat maksud yang sebenarnya, Liu Ceng menerima ranting itu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Gerakan pedang adik Yauw membelah ranting tadi saja sudah membuktikan betapa hebatnya jurus pedangmu. Mari kita bermain pedang dengan ranting ini." ucap Liu Ceng menerima dengan tangan kanannya dan dia menyerang dengan tusukan sebagai pembukaan, untuk memberi kesempatan kepada lawan menjaga diri.


Tusukannya itu dilakukan dengan gerakan lambat. Yauw Lie mengelak dan memutar rantingnya untuk menjaga diri, barulah Liu Ceng melanjutkan serangannya dengan gerakan yang sangat cepat.


Yauw Lie sangat terkejut sekali. Tak disangkanya Liu Ceng memiliki gerakan yang demikian ringan dan cepatnya. Dia segera memutar rantingnya dan terjadilah pertandingan adu ilmu pedang yang seru.


  "Tek....tekk....Tek....!"


Tiga kali ranting itu bertemu dan sungguh hebat. Biarpun yang bertemu itu hanya ranting kayu, namun tampak bunga api berpijar.


Makin lama pertandingan ilmu pedang itu menjadi semakin hebat, keduanya mengeluarkan jurus-jurus yang dahsyat, namun selalu dapat dielakkan atau ditangkis lawan.


Semua serangan kedua pihak selalu gagal. Liu Ceng mulai memperlihatkan jurus meringankan tubuhnya yang luar biasa. Kini gerakan tubuh sedemikian cepatnya sehingga tubuh pemuda itu seolah berubah dan lenyap berganti bayangan putih yang berkelebatan ke sana-kemari.


Melihat hal itu, Yauw Lie mengambil sikap diam dengan kuda-kuda kokoh dan melindungi tubuhnya dengan perisai sinar rantingnya.


Pertandingan itu menarik sekali, seolah melihat seekor burung yang amat cepat menyambar-nyambar ke arah lawannya yang seolah menjadi seekor ular yang melingkar diam akan tetapi selalu menyambut serangan burung dengan patukan moncongnya.


"Ah, pantas ia dijuluki Bayangan Putih, lihat betapa cepat gerakannya!" seru Liu Tek memuji Liu Ceng.


"Nona Yauw itu juga hebat!" seru Ban Tok yang sedari tadi memperhatikan gerakan Yauw Lie.


Sementara itu pertahanan yang dipergunakan Yauw Lie itu memang kuat sekali sehingga semua serangan Lui Ceng dapat ditangkisnya.


Yauw Lie lebih banyak berdiam diri menanti serangan, maka dia tidak membuang banyak tenaga seperti halnya Liu Ceng yang berkelebat ke sana-sini dan ini menyerap banyak tenaganya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


   


__ADS_2