Petualangan Pendekar Kecapi

Petualangan Pendekar Kecapi
Bab 203


__ADS_3

Pemuda itu tidak terlalu mengesankan. Pemuda berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan, nampak sederhana sekali, dengan pakaian seperti seorang pemuda petani saja.


"Eh! Dari manakah datangnya seorang pemuda yang begini? berani mencampuri urusan serius orang-orang tua?" bentak seorang di antara para pendekar aliran hitam itu.


"Anak muda! Siapakah kau dan apa maksud ucapanmu tadi?" tanya laki-laki yang memakai pakaian biksu yang tak lain adalah Thian Gi


Han Beng adalah pemuda yang mereka maksud, kemudian memberi hormat kepada semua pendekar dan juga para biksu itu.


"Saya hanyalah seorang pemuda biasa yang kebetulan lewat di sini dan melihat, juga mendengar semua perbantahan antara para pendekar dan biksu sekalian. Saya merasa ikut prihatin, akan tetapi semua pendapat dari para pendekar itu menurut saya, tidak akan dapat membuka jalan keluar. Bahkan akan semakin membesarkan nyala api permusuhan dan dendam." kata Han Beng yang berpendapat dengan sungguh-sungguh.


Biksu Thian Gi mengerutkan alisnya yang tebal dan melintangkan toyanya.


"Hm, orang muda yang lancang mulut! Agaknya kau berani mencela kami tentu sudah mempunyai kebijaksanaan yang lebih patut. Nah, katakanlah bagaimana cara yang baik menurut pendapatmu?" tanya biksu Thian Gi yang menatap Han Beng dengan tajam.


"Para pendekar dan biksu sekalian, kalian ini bukan orang-orang muda dan merupakan orang-orang yang dipenuhi kebijaksanaan. Sepatutnya kalian sudah mengetahui bahwa semua permusuhan, dendam kebencian, bukan datang dari luar melainkan datang dari dalam batin masing-masing. Oleh karena itu, melenyapkan permusuhan tidak mungkin dilakukan dengan cara menundukkan musuh yang berada di luar. Yang penting adalah mengalahkan musuh yang berada di dalam diri sendiri!" seru Han Beng yang menghentikan perkataannya untuk menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


"Para Biksu dan pendekar sekalian pengikutnya yang terhormat, seyogyanya kalian untuk mawas diri masing-masing dan mengenyahkan semua dendam kebencian dari hati masing-masing, kalau sudah begitu, dengan sendirinya dak mungkin ada permusuhan. Kalau di dalam sudah padam, tidak mungkin menjalar dan membakar keluar. Nah, sukarnya kalau mulai detik ini juga kalian, masing-masing memadamkan api dalam diri dan dengan demikian tiada lagi permusuhan dan dendam." lanjut kata Han Beng yang menatap satu persatu orang yang ada dihadapannya.


"Enak saja memang kalau bicara, orang muda!" seru Biksu Thian Gi.


"Tidak ada kebakaran tanpa sebab, tidak ada dendam tanpa sebab! Bagaimana aku dan kawan-kawan mampu meniadakan dendam kalau teringat akan pembasmian perguruan Elang Sakti!" sambung biksu Thian Gi yang menjelaskan.


"Omonganmu memang tepat sekali, orang muda. Akan tetapi tanpa adanya penyelesaian sekarang, bagaimana mungkin kita merasa aman dan tenteram di masa mendatang? Pertikaian ini memang sudah seharusnya diselesaikan sekarang juga, kalau perlu melalui pengorbanan!" seru seorang biksu.


Han Beng tersenyum, karena sudah baik kalau kedua pihak dari orang-orang tua yang kaku itu mau mendengarkan ucapannya, setidaknya dia telah memberi bahan renungan untuk mereka yang sedang dikuasai napsu dendam dan amarah.

__ADS_1


.


"Maafkan saya yang muda dan bodoh ini, para pendekar dan biksu sekalian. Bukankah hidup ini sekarang, Kemarin dan masa lalu hanyalah hal-hal yang lewat, sudah lapuk dan sudah mati, perlu apa dipikirkan dan dikenang lagi? Adapun masa depan dan hari esok adalah hal-hal yang belum akan hanya khayalan dan gambaran pikiran, perlu apa dibayangkan? Yang penting adalah sekarang ini, saat ini. Memang, tidak ada perubahan tanpa pengorbanan dan dalam hal ini, yang menjadi korban adalah perasaan sendiri, bukan mengorbankan orang lain." kata Han Beng panjang lebar.


 "Amitabha...! rupanya anak muda ini diam-diam memang berpihak kepada para tosu maka dia menghendaki agar kita melupakan semua urusan yang lalu. Kalau kita teringat betapa mendiang ketua Thian Cu, ketua perguruan Elang Sakti, yang terpaksa membakar diri sampai mati gara-gara pengkhianatan mendiang Cu Bin, hati siapa tidak akan terbakar karena kejahatan pendekar tua itu!" demikian seru salah seorang biksu yang sedang marah.


"Sudah menepilah hai anak muda dan jangan mencampuri urusan kami. Maksudmu baik, akan tetapi tidak tepat. Pergilah kau!" seru Biksu Thian Gi. Yang kemudian menggerakkan tangan kirinya mendorong, tentu saja sambil mengerahkan tenaga dalamnya agar pemuda itu terkejut dan menyingkir.


Biarpun dari ujung lengan baju yang lebar itu menyambar angin yang kuat ke arah pemuda itu, ternyata sama sekali tidak membuat pemuda itu bergoyang. Apalagi mundur dan terkejut.


Pemuda itu tetap tenang saja, bahkan ujung lengan baju itu yang balik seperti bertemu dengan benda kuat yang menghalang tiupan angin dorongan tadi.


"Amitabha...! Kiranya kau memiliki kepandaian juga! Pantas saja berani mencampuri urusan kami!" bentak Biksu Thian Gi yang berhati keras dan galak itu.


Han Beng mengulas senyumnya.


Han Beng terkejut tak disangkanya bahwa usahanya mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan itu diterima salah oleh kedua pihak pula. Bahkan kini ia ditantang oleh seorang biksu yang kelihatannya galak dan lihai itu.


"Maaf pendekar semuanya. Saya hanya bermaksud untuk melerai, mendamaikan dan melenyapkan permusuhan, bukan menambah permusuhan baru!" balas seru Han Beng.


"Kalau kau tidak berani melawan aku, hayo cepat pergi dari sini!" kembali biksu Thian Gi berseru.


 "He...he...he...!''


Pada saat itu, terdengar suara ketawa halus dan tiba-tiba saja munculah seorang kakek tua renta yang usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, pakainnya sederhana sekali dari kain putih.

__ADS_1


"He...he...he...!' Ini namanya orang-orang tua yang sepatutnya berguru kepada orang muda, akan tetapi merasa malu untuk mengakuinya!" seru kakek itu.


Para pendekar yang tadinya sudah bediri dan siap untuk berkelahi, begitu melihat kakek ini, dengan cepat mereka lalu memberi hormat dengan membongkok, bahkan ada yang segera berlutut kembali.


Demikian juga dengan Biksu Thian Gi dan para biksu lain ketika melihat pendekar tua renta ini, mereka terkejut dan cepat memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.


Akan tetapi, Biksu Thian Gi mengepulkan alisnya karena ada rasa khawatir juga penasaran dalam hatinya melihat munculnya kakek ini.


Biarpun kakek ini, yang terkenal dengan nama Kwe Ong merupakan seorang pertapa suci dari Thai-san yang agaknya tidak mungkin mau mencampuri urusan dunia akan tetapi bagaimanapun juga, dia adalah seorang pendekar tua.


Setelah memberi hormat, Biksu Thian Gi mewakili teman-temannya.


"Amitabha....! kiranya pendekar tua Kwe Cheng yang datang. Tidak tahu apakah kedatangan pendekar ke ini untuk membesarkan hati para pendekar dan memberi pelajaran kepada kami?" cerocos biksu Thian Gi.


"He...he..he....!" pendekar tua itu tertawa lembut mendengar ucapan itu. Namun dia tetap bersikap lembut dan tenang.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Petualangan Pendekar Kecapi ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2